BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan merupakan perubahan, dalam upaya mengungkap perubahan dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan ini para ahli psikologi mengungkapkan berbagai konsepsi yang menggambarkan mekanisme perubahan yang dialami manusia sepanjang masa perkembangannya. Masing-masing teori dan konsep yang dikemukakan mempunyai alasan dan cara pandang yang berbeda, sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk sepenuhnya mengikuti salah satu konsep secara murni, mengingat tidak ada konsep yang berlaku obyektif untuk semua kondisi perkembangan manusia.
Selain pendapat diatas beberapa ahli juga berpendapat bahwa Perkembangan pada manusia ialah perubahan yang bersifat kualitatif. Sifat perubahan ini tidak dapat diukur, tetapi jelas berlaku jika dibandingkan dengan peringkat yang lebih awal (Atan Long,1980). Paul Eggan dan Don Kauchak berpendapat perkembangan adalah perubahan yang berurutan dan kekal dalam diri seseorang hasil daripada pembelajaran, pengalaman dan kematangan. Slavin (1997) pula berpendapat perkembangan adalah berkaitan dengan mengapa dan bagaimana individu berkembang dan membesar, menyesuaikan diri kepada persekitaran dan berubah melalui peredaran masa. Beliau berpendapat, individu akan mengalami perkembangan sepanjang hayat, yaitu perkembangan dari segi fisikal, personaliti, sosioemosional dan kognitif serta bahasa. Sedangkan Menurut Crow dan Crow (1980), perkembangan merupakan perubahan secara ‘kualitatif’ serta cenderung ke arah yang lebih baik dari segi pemikiran, rohani, moral dan sosial.
Oleh karena itu, teori perkembangan harus kita pelajari sebagai upaya untuk mengetahui tahapan-tahapan hidup manusia terutama kita sebagai calon guru harus memahami perkembangan dari peserta didik agar kita dapat menentukan jenis pembelajaran yang tepat baginya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud pendekatan perkembangan kognitif ?
2. Apa yang dimaksud pendekatan perkembangan belajar/lingkungan ?
3. Apa yang dimaksud pendekatan perkembangan etiologi ?
4. Apa yang dimaksud pendekatan perkembanganImam Al-Ghazali ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pendekatan perkembangan kognitif
2. Mengetahui pendekatan perkembangan belajar/lingkungan
3. Mengetahui pendekatan perkembangan etiologi
4. Mengetahui pendekatan perkembanganImam Al-Ghazali
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Makna Perkembangan
Perkembangan merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi (Santrok Yussen 1992). Dengan demikian perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai akhir hayat yang bersifat timbulnya adanya perubahan dalam diri individu.
Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif (E.B. Harlock). Dimaksudkan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan individu yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang sesuai usia normal) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif (dapat diukur) yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
Perkembangan mengandung makna adanya pemunculan sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya (Kasiram, 1983 : 23), menandung arti bahwa perkembangan merupakan peubahan sifat indiviu menuju kesempurnaan yang merupakan penyempurnaan dari sifat-sifat sebelumnya.
2.2 Teori Perkembangan Kognitif
Pakar psikologi Swiss terkenal Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekedar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan memajukan pemahaman.
Teori piaget didasarkan atas presuposisi biologis, dengan fokus minatnya pada bagaimana makhluk hidup menyesuaikan atau mengorganisasikan dirinya terhadap lingkungannya dan berkembang.
2.3 Beberapa Teori Perkembangan
2.3.1 . Pendekatan Perkembangan Kognitif
Pendekatan ini didasarkan kepada asumsi atau keyakinan bahwa kemampuan kognitif merupakan suatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Kunci untuk memahami tingkah laku anak terletak pada pemahaman bagaimana pengetahuan tersebut terstruktur dalam berbagai aspeknya. Ada tiga model perkembangan kognitif ini, yaitu :
1) Model dari Piaget
2) Model Pemrosesan Informasi
3) Model Kognisi Sosial
2.3.2. Pendekatan Belajar atau Lingkungan
Teori-teori belajar atau lingkungan berakar dari asumsi bahwa tingkah laku anak di peroleh melalui pengkondisian (conditioning) dan prinsip-prinsip belajar. Di sini dibedakan antara tingkah laku yang dipelajari dengan temporer. Dalam hal ini B. F.Skinner membedakan :
1. Respondent Behavior, merupakan respons yang didasarkan kepada refleks yang di kontrol oleh stimulus. Seperti : mengisap dan menggenggam, anak-anak dan juga orang dewasa biasa menampilkan tingkah laku responden, yaitu dalam bentuk (1) Respons Fisiologis (seperti bersin); dan (2) Respons Emosional (seperti sedih dan marah).
2. Overan Behavior, yaitu tingkah laku suka rela yang di kontrol oleh dampak atau konsekuensinya.
Bandura meyakini bahwa belajar melalui observasi atau modeling itu melibatkan empat proses, yaitu sebagai berikut :
1) Attentional, yaitu proses dimana observer atau anak menaruh perhatian terhadap tingkah laku atau penampilan model (orang yang diimitasi).
2) Retention, yaitu proses yang merujuk kepada upaya anak untuk memasukkan informasi tentang model.
3) Production, yaitu proses mengontrol bagaimana anak dapat mereproduksi respons atau tingkah laku model.
4) Motivational, yaitu proses pemilihan tingkah laku model yang diimitasi oleh anak.
2.3.3 Pendekatan Etologi
Pendekatan ini merupakan studi perkembangan dari perspektif evolusioner yang di dasarkan pada prinsip-prinsip evolusi yang diajukan pertama kalinya oleh Charles Darwin. Konsep ini merujuk kepada asal usul biologis atau evolusioner tentang tingkah laku sosial.
Lorenz dan Tinberger, dua orang pendiri gerakan etologi mengidentifikasi empat karakteristik tingkah laku bawaan, yaitu :
(a) universal,
(b) stereotip,
(c) bukan hasil belajar, dan
(d) sangat minim sekali dipengaruhi lingkungan.
2.3.4 Pendekatan Imam Al-Ghzali
Al-Ghazali tidak menganjurkan penggunaan satu metode saja dalam menghadapi permasalahan akhlak serta pelaksanaan pendidikan anak. Dia menganjurkan agar guru memilih metode pendidikan sesuai dengan usia dan tabiat anak, daya tangkap dan daya tolaknya (daya persepsi dan daya rejeksinya).
Dalam upaya mengembangkan akhlakul karimah (akhlak mulia) anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. menjauhkan anak dari pergaulan yang tidak baik,
2. membiasakannya untuk bersopan santun.
3. memberikan pujian kepada anak yang melakukan amal shaleh,
4. membiasakannya mengenakan pakaian yang putih (bagus), bersih dan rapi
5. mencegah anak untuk tidur di siang hari,
6. menganjurkan mereka untuk berolah raga,
7. menanamkan sikap sederhana,
8. mengizinkannya bermain setelah belajar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perkembangan merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi (Santrok Yussen 1992). Dengan demikian perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai akhir hayat yang bersifattimbulnya adanya perubahan dalam diri individu
Pakar psikologi Swiss terkenal Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekedar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan.
3.2 Saran
Dari beberapa teori yang telah diuraikan, kita mengetahui bahwa tiap-tiap teori memiliki kelemahan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, di dalam penerapannya kita tidak perlu terpaku atau hanya cenderung kepada salah satu teori saja. Kita dapat mengambil manfaat dari beberapa teori sesuai dengan situasi dan kondisi seseorang.
DAFTAR PUSTAKA
Yusuf,Syamsu.2002.Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Bandung: Rosdakarya
Santrock, jhon w. 2007. Perkembangan anak. Jakarta : Erlangga
http://nadhirin.blogspot.com/2010/02/teoriperkembanganmanusia.html.diunduh 05 September 2013
http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/25/definisi-perkembangan/.diunduh 05 September 2013
http://blog.uinmalang.ac.id/muttaqin/category/ilmuumum/perkembangananakdid/.diunduh 05 September 2013
Minggu, 24 Agustus 2014
ASKEP bedah CA payudara
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembedahan onkologi pada payudara merupakan indikasi dari adanya kondisi kelainan akibat adanya pembesaran atau benjolan pada payudara. Sebagai modalitas asuhan keperawatan bedah onkologi payudara, perawat perioperative perlu mengetahui ringkasan konsep (meliputi anatomi dan fisiologi payudara), pengkajian keperawatan prabedah onkologi payudara, pengkajian diagnostic, diagnose keperawatan prabedah, serta rencana intervensi prabedah sampai masuk ke ruang prabedah.
1.2 Rumusan Masalah
1) Jelaskan Konsep teoritis secara medis mengenai kelainan pada payudara ?
2) Bagaimanakah konsep teoritis asuhan keperawatan pada bedah payudara ?
1.3 Tujuan
1) Untuk memahami dan mengetahui Konsep teoritis secara medis mengenai kelainan pada payudara
2) Untuk memahami dan mengetahui konsep teoritis asuhan keperawatan pada bedah payudara
BAB 2
KONSEP TEORITIS SECARA MEDIS
2.1 Anatomi dan Fisiologi Payudara
Kelenjar mammaria atau payudara, terletak di dalam fasia superfisial dinding dada anterior. Payudara terletak di iga ke 2 sampai ke 6 dan dari batas lateral sternum ke garis anterior, atau midaksilaris. Kelenjar ini dikelilingi oleh jaringan ikat subkutis, jaringan lemak dan terdapat di dalam kantong kulit berbentuk kerucut. Bagian terbesar dari kelenjar mamaria terletak di sebelah anterior jaringan ikat otot pektoralis mayor dan di sebelah lateral otot seratus anterior. Struktur penunjang yang menopang payudara dikenal sebagai ligamentum cooper. Jaringan mammaria tambahan, yang dikenal sebagai ekor aksilaris atau ekor spence, meluas ke atas dan ke lateral menuju lipatan aksila anterior.
Setiap kelenjar mammaria terdiri atas 15-20 lobus yang mengandung duktus, duktulus, dan satuan lobules alveolus (lobules yang mengandung sel-sel sekretorik atau alveolus) yang dipisahkan oleh jaringan ikat fibrosa atau septum, dan dikelilingi oleh jaringan ikat lemak.Setiap lobus kelenjar memancar menjahui puting payudara seperti jeruji.Setiap lobus kelenjar mammaria berakhir di sebuah duktus laktiferosa yang mengalirkan isinya, melalui sebuah lubang kecil ke puting payudara.Puting payudara dikelilingi oleh areola, yang berpigmen dan sedikit berkerut.
Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu :
1) Korpus (badan), adalah bagian yang membesar.Korpus Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah. Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus. Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. ASI dsalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).
2) Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah.Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.
3) Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncakpayudara.Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/ datar, panjang dan terbenam (inverted)
2.2 Definisi
1) Ca mammae adalah sekelompok sel tidak normal yang terus tumbuh di dalam jaringan mammae (Tapan, 2005).
2) Ca Mammae adalah kanker yang menyerang jaringan payudara yang menyebabkan sel dan jaringan payudara berubah bentuk menjadi abnormal dan bertambah banyak secara tidak terkendali (Mardiana, 2004).
3) Kanker adalah massa abnormal dari sel-sel yang mengalami proliferasi. Sel-sel neoplasma berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, selama mengalami perubahan neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu. ( Sylvia A Price, 1994 ).
Dari definisi diatas disimpulkan bahwa kanker payudara merupakan massa sel dari perubahan sel yang mengalami pertumbuhan tidak normal dan tidak terkontrol.
2.3 Etiologi
Etiologi kanker payudara tidak diketahui secara secara pasti,Namun beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara,yaitu:
1) Umur > 30 tahun
2) Melahirkan anak pertama pada usia > 35 tahun
3) Tidak kawin dan nulipara
4) Usia menopause > 55 tahun
5) Pernah mengalami infeksi trauma atau operasi tumor jinak payudara
6) Pernah mengalami infeksi trauma atau operasi tumor jinak payudara
7) Terapi hormonal lama
8) Mempunyai kanker payudara kontralateral
9) Pernah menjalani operasi ginekologis misalnya tumor ovarium
10) Pernah mengalami radiasi di daerah dada
11) Ada riwayat keluarga dengan kanker payudara pada ibu,saudara perempuan ibu,saudara perempuan,adik/kakak
12) Kontrasepsi oral pada pasien tumor payudara jinak seperti kelainan fibrokistik yang ganas
2.4 Stadium kanker Payudara
Tjindarbumi (2002) membagi stadium ca mammae yanng disesuaikan dengan aplikasi klinis sebagai berikut :
1) Stadium I
Tumor terbatas pada payudara, bebas dari jaringan sekitarnya, tidak ada fiksasi/infiltrasi ke kulit dan jaringan di bawahnya (otot).Besar tumor 1-2 cm. Kelenjar getah bening regional belum teraba.
2) Stadium II
Besar tumor 2,5-5 cm dan sudah ada satu atau beberapa Kelenjar Getah Bening (KGB) aksila yang masih bebas dengan diameter < 2 cm. 3) Stadium IIIa Tumor sudah meluas dalam payudara (5-10 cm) tetapi masih bebas di jaringan sekitarnya, KGB aksila masih bebas satu sama lain. 4) Stadium IIIb Tumor sudah meluas ke dalam payudara (5-10 cm) fiksasi pada kulit atau dinding dada, kulit merah, dan ada oedema (>1/3 permukaan kulit payudara), ulserasi dan atau nodul.
5) Stadium IV
Tumor seperti pada yang lain (stadium I, II, dan III), tetapi sudah disertai dengan KGB aksila supra-klavikula dan metastasis jauh lainnya.
3.5 Tanda dan Gejala
Menurut Suryaningsih 2009, tanda dan gejalanya adalah :
1) Benjolan
2) Adanya benjolan pada payudara yang dapat diraba dengan tangan. Semakin lama benjolan tersebut semakin mengeras dan bentuknya tidak beraturan.
3) Perubahan kulit pada payudara
a. Kulit tertarik (skin dimpling)
b. Benjolan yang dapat dilihat (visible lump)
c. Eritema
d. Ulkus
4) Kelainan pada putting
a. Putting tertarik (nipple retraction)
b. Eksema
c. Cairan pada putting (nipple discharge)
3.6 Patofisiologi
Ca mammae, sama seperti keganasan lainnya penyebab dari keganasan ini merupakan multifaktoral baik lingkungan maupun faktor herediter, diantaranya adanya lesi pada DNA menyebabkan mutasi genetik, mutasi gen ini dapat menyebabkan ca mammae, kegagalan sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan abnormal dari growth factor menyebabkan rangsangan abnormal antara sel stromal dengan sel epitel, adanya defek pada DNA repair genes seperti BRCA1, BRCA2, yang pada prinsipnya meningkatkan aktivitas proliferasi sel serta kelainan yang menurunkan atau menghilangkan regulasi kematian sel (Heffner, 2005).
Ca mammae terjadi karena hilangnya kontrol atau proliferasi sel payudara dan apoptosis sehingga sel payudara berpoliferasi secara terus-menerus. Hilangnya fungsi apoptosis menyebabkan ketidakmampuan mendeteksi kerusakan sel akibat kerusakan DNA. Bila terjadi mutasi gen p53 maka fungsi sebagai pendeteksi kerusakan DNA akan hilang, sehingga sel-sel abnormal berpoliferasi terus-menerus. Peningkatan jumlah sel tidak normal ini umumnya membentuk benjolan yang disebut tumor atau kanker.Tumor jinak biasanya merupakan gumpalan lemak yang terbungkus dalam suatu wadah yang menyerupai kantong.Lewat aliran darah maupun sistem getah bening, sel-sel tumor dan racun yang dihasilkan keluar dari kumpulannya dan menyebar ke bagian lain tubuh.
Sel-sel yang menyebar ini kemudian akan tumbuh berkembang di tempat baru, yang akhirnya membentuk segerombolan sel tumor ganas atau kanker baru. Keganasan kanker payudara ini dengan menyerang sel-sel nomal disekitarnya, terutama sel-sel yang lemah. Sel kanker akan tumbuh pesat sekali, sehingga payudara penderita akan membesar tidak seperti biasanya.
Ca mamae berasal dari epitel saluran dan kelenjar payudara.Pertumbuhan dimulai dari dalam duktus ataupun kelenjar lobulus yang disebut karsinoma noninvasif. Kemudian tumor menerobos ke luar dinding duktus atau kelenjarr di daerah lobulus dan invasi ke dalam stroma, yang dikenal dengan nama karsinoma invasif. Penyebaran tumor terjadi melalui pembuluh getah bening, deposit dan tumbuh di kelenjar getah bening, sehingga kelenjar getah bening aksiler atau supraklavikuler membesar.Ca mammae pertama kali menyebar ke kelenjar aksila regional.Lokasi metastasis paling jauh yaitu tulang, hati, paru, pleura, dan otak (Heffner, 2005).
3.7 Pemeriksaan Penunjang
1) Mamografi
Dengan tes ini dapat ditemukan benjolan yang kecil sekalipun.Bila secara klinis dicurigai ada tumor dan pada mamografi tidak ditemukan apa-apa, pemeriksaan harus dilanjutkan dengan biopsi sebab sering karsinoma tidak tampak pada mammogram.Sebaliknya bila mamografi positif dan secara klinis tidak teraba tumor pemeriksaan harus dilanjutkan dengan pungsi atau biopsi.
2) Ulrasonografi
USG biasanya digunakan bersamaan bersama dengan mamografi, tujuannya untuk membedakan kista yang berisi cairan atau solid. Untuk menentukan stadium dapat menggunakan foto thoraks, USG abdomen, Bone scanning dan CT scan.
3) X-foto thorax
Dapat membantu mengetahui adanya keganasan dan mendeteksi adanya metastase ke paru-paru.
4) Pemeriksaan Biopsi Jarum Halus
Merupakan pemeriksaan sitologi dimana bahan pemeriksaan diperoleh dari hasil punksi jarum terhadap lesi yang dapat dipakai untuk menentukan apakah akan segera disiapkan pembedahan dengan sediaan beku atau akan dilanjutkan oleh pemeriksaan lain. Cara pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, namun tidak dapat memastikan tidak adanya keganasan.Hasil negatif pada pemeriksaan ini dapat berarti bahwa jarum biopsi tidak mengenai daerah keganasan sehingga biopsi eksisi tetap diperlukan untuk konfirmasi hasil negatif tersebut (Sjamsuhidayat, 2004).
3.8 Penatalaksanaan
Pengobatan dimulai setelah dilakukan penilaian secara menyeluruh terhadap kondisi penderita, yaitu sekitar 1 minggu atau lebih setelah biopsi.Pengobatannya terdiri dari pembedahan, terapi penyinaran, kemoterapi dan obat penghambat hormon.
Pembedahan
a) Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pengangkatan mammae. Ada 3 jenis mastektomi yaitu :
1) Modified Radycal Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh mammae, jaringanmammae di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan disekitar ketiak.
2) Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh mammae saja, tanpa kelenjar di ketiak.
3) Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari mammae. Biasanya disebut Lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan seluruh mammae. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir mammae.
b) Kelenjar Getah Bening (KGB) Ketiak.
c) Pengangkatan KGB Ketiak dilakukan terhadap penderita ca mammae yang menyebar tetapi besar tumornya lebih dari 2,5 cm (Tapan, 2005).
Non Pembedahan
a) Terapi radiasi
Radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena ca dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di mammae setelah operasi. Efek pengobatan ini adalah tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar mammae menjadi hitam serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.
b) Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kankerdalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Obat –obatan ini tidak hanya membunuh sel kankerpada mammae, tetapi juga seluruh sel dalam tubuh.Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok.Sistematik setelah mastektomi, paliatif pada penyakit yang lanjut.
c) Terapi hormon dan endokrin
Pemberian hormon dilakukan apabila penyakit telah sistemik berupa metastasis jauh.Terapi hormonal biasanya diberikan secara paliatif sebelum kemoterapi.Obat-obat penghambat hormon (obat yang mempengaruhi kerja hormon yang menyokong pertumbuhan sel kanker) digunakan untuk menekan pertumbuhan sel kankerdi seluruh tubuh.Diberikan pada kankeryang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi (Tapan, 2005).
BAB 3
KONSEP TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Proses Keperawatan Praoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara
3.1.1 Pengkajian focus keperawatan
Pada pengkajian anamnesis biasanya didapatkan adanya keluhan benjolan pada payudara. Factor bertambahnya usia mempunyai risiko yang lebih tinggi terdapat kemungkinan mengidap kanker payudara (Gruendemann, 2006).
Pada pengkajian riwayat keluarga terdapat adanya hubungan seorang wanita yang ibu atau saudarinya (saudara dekat, keturunan pertama) pernah/sedang menderita kanker payudara, memiliki risiko paling sedikit dua sampai tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan populasi umum. Adanya riwayat awitan haid sebelum usia 12 tahun dan nuliparitas, kehamilan cukup bulan pertama setelah usia 35 tahun, awitan menopause yang lambat, atau riwayat haid lebih dari 40 tahun memiliki hubungan peningkatan risiko penyakit payudara jinak (Gruendemann, 2006).
Pada pemeriksaan fisik inspeksi sering didapatkan kondisi asimetri retraksi atau adanya skuama pada puting payudara.Tanda-tanda stadium lanjut, yaitu nyeri, pembentukan ulkus dan edema.
Pada palpasi payudara akan ditemukan/teraba benjolan atau penebalan payudara yang biasanya tidak nyeri. Selain itu juga ada pengeluaran rabas darah atau serosa dari puting payudara dan cekungan atau perubahan kulit payudara. Apabila ditemukan adanya benjolan di payudara, maka benjolan tersebut harus dievalusi terhadap satu dari tiga kemungkinan, yaitu : kista, tumor jinak, atau tumor ganas (Gruendemann, 2006).
Di ruang Prabedah
Pada pengkajian di ruang prabedah, perawat melakukan pengkajian ringkas mengenai kondisi fisik pasien dan kelengkapan yang berhubungan dengan pembedahan. Pengkajian ringkas tersebut adalah sebagai berikut :
1) Validasi : perawat melakukan konfrimasi kebenaran identitas pasien sebagai data dasar untuk mencocokan prosedur jenis pembedahan yang akan dilakukan.
2) Kelengkapan administrasi : status rekan medic, data-data penunjang (laboratorium dan radiologi), serta kelengkapan informed consent.
3) Tingkat kecemasan dan pengetahuan pembedahan
4) Pemeriksaan fisik terutama tanda-tanda vital dan kondisi masa pada payudara.
3.1.2 Diagnosa Keperawatan di ruang properatif
1) kecemasan dan pemenuhan informasi
Rencana Intervensi :
a) Observasi TTV dan berkolaborasi denga tim medis apabila ditemukan perubahan atau ketidaknormalan dari hasil pemeriksaan TTV. Observasi TTV merupakan data dasar yang penting sebagai bahan evaluasi pascabedah di ruang pemulihan.
b) Pengaturan posisi fisiologi untuk menurunkan respon nyeri
c) Komunikasi terapeutik dan dukungan psikologis untuk menurunkan tingkat kecemasan.
d) Penjelasan singkat tentang prosedur yang akan dilakukan perawat dan dokter selama pasien masih sadar.
e) Pemasangan kateter IV dan jarum berdiameter besar
Evaluasi yang diharapkan pada pasien di ruang sementara, meliputi :
a) TTV dalam batas normal
b) Respons nyeri tidak meningkat dan perdarahan dapat terkontrol
c) Tingkat kecemasan pasien menurun
d) Pasien dapat dukungan psikologis dan secara singkat dapat menjelaskan secara singkat prosedur pembedahan.
e) Pasien sudah terpasang IV kateter.
3.2 Proses Keperawatan Intraoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara
3.2.1 Di Kamar Operasi
Asuhan keperawatan intraoperatif pemberian anestesi pada bedah payudara pada prinsipnya sama dengan asuhan keperawatan pada saat pemberian anastesi secara umum.
3.2.2 Patofisiologi ke masalah keperawatan
Pasien yang dilakukan pembedahan akan melewati berbagai prosedur. Prosedur pemberian anestesi, pengaturan posisi bedah, manajemen asepsis, dan prosedur bedah payudara akan memberikan implikasi pada masalah keperawatan yang akan muncul.
Efek dari anestesi umum akan memberikan respons depresi atau iritabilitas kardiovaskuler, depresi pernafasan, dan kerusakan hati serta ginjal. Penurunan suhu tubuh akibat suhu diruang operasi yang rendah, infus dengan cairan yang dingin, inhalasi gas-gas yang dingin, luka terbuka pada tubuh, aktivitas otot yang menurun, usia lanjut, obat-obatan yang digunakan (vasodilator, anestesi umum) mengakibatkan penurunan laju metabolisme. Efek anestesi akan memengaruhi mekanisme regulasi sirkulasi normal, sehingga mempunyai risiko terjadinya penurunan kemampuan jantung dalam melakukan stroke volume efektif yang berimplikasi pada penurunan curah jantung. Efek intervensi bedah dengan adanya cedera vascular dan banyaknya jumblah volume darah yang keluar dari vascular memberikan adalah terjadinya penurunan perfusi perifer serta perubahan elektrolit dan metabolisme, karena terjadi mekanisme kompensasi pengaliran suplai hanya untuk organ vital.
Respons pengaturan posisi bedah telentang akan menimbulkan peningkatan risiko cedera perengangan pleksus brakialis, tekanan berlebihan pada tonjolan-tonjolan tulang yang berada di bawah (bokong, scapula, kalkaneus), tekanan pada vena femolaris atau abdomen, dan cedera otot tungkai.Efek intervensi bedah onkologi payudara membuat suatu pintu masuk kuman (port de entrée) sehingga menimbulkan masalah risiko infeksi intraoperasi. Respon intervensi bedah onkologi payudara juga akan meningkatkan cedera jaringan lunak (vascular, otot, saraf) serta kehilangan banyak darah intraoperasi. Intervensi bedah dengan menggunakan instrumen dan peralatan listrik memunculkan masalah risiko cedera intraoperasi yang perlu diwaspadai oleh perawat perioperative.
Pengkajian intraoperatif bedah onkologi secara ringkas mengkaji hal-hal yang berhubungan dengan pembedahan. Diantaranya adalah validasi identitas dan prosedur jenis pembedahan yang akan dilakukan, serta konfirmasi kelengkapan data penunjang laboratorium dan radiologi.
3.2.3 Diagnosa Keperawatan Intraoperatif bedah onkologi payudara
1) Risiko cedera berhubungan dengan pengaturan posisi bedah dan trauma prosedur pembedahan
2) Risiko infeksi berhubungan dengan adanya port de entrée luka pembedahan dan penurunan imunitas sekunder efek anestesi.
3.2.4 Rencana Intervensi
Tujuan Utama keperawatan pada jenis pembedahan bedah onkologi payudara adalah menurunkan risiko cedera, mencegah kontaminasi intraoperative, dan optimalisasi hasil pembedahan.
Kriteria hasil : pada saat masuk ruang pemulihan kondisi TTV dalam batas normal, tidak terdapat adanya cedera tekan sekunder dari pengaturan posisi bedah, dan luka pascabedah tertutup kasa. Rencana yang disusun dan akan dilaksanakan baik pada risiko cedera maupun risiko infeksi
Intervensi :
1) Kaji ulang identitas pasien
Rasional : perawat ruang operasi memeriksa kembali identitas dan kardeks pasien. Lihat kembali lembar persetujuan tindakan, riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan fisik, dan berbagai hasil pemeriksaan diagnostic.Pastikan bahwa alat protese dan barang berharga telah dilepas dan periksa kembali rencana keperawatan praoperatif yang berkaitan dengan rencana keperawatan intraoperatif.
2) Lakukan persiapan meja bedah dan sarana pendukung
Rasional : meja bedah spinal disesuaikan dengan posisi bedah yang akan dilakukan. Perawat sirkulasi melakukan pengujian setiap fungsi dari kemampuan meja bedah dan mempersiapkan kelengkapan pendukung seperti sabuk.Penahan lengan dari meja bedah dapat meningkatkan efektivitas dan efesiensi dalam peraturan posisi.
3) Pasang hasil pemeriksaan radiologi atau CT scan pada tempat lampu pemeriksaan
Rasional : penempatan hasil akan mempermudah ahli bedah dalam menyesuaikan intervensi intraoperatif
4) Siapkan alat hemostatasis dan alat cadangan dalam kondisi siap pakai
Rasional : alat hemostasis merupakan fondasi dari tindakan operasi untuk mencegah terjadinya pendarahan serius akibat kerusakan pembuluh darah arteri. Untuk menghindari cedera akibat perdarahan intraoperasi.
5) Siapkan obat-obatan untuk pemberian anestesi umum
Rasional : obat-obat anestesi yang dipersiapkan meliputi obat pelemas otot dan obat anestesi umum.
6) Siapkan sarana scrub
Rasional : sarana scrub, meliputi cairan antiseptic cuci tangan pada tempatnya, gaun (terdiri dari gaun kerap air dan baju bedah steril), duk penutup, dan duk berlubang dalam kondisi lengkap dan siap pakai.
7) Siapkan sarana pendukung pembedahan
Rasional : sarana pendukung seperti kateter urine lengkap, alat pengisap (suction) lengkap, spons dalam kondisi siap pakai.
8) Siapkan alat-alat intubasi endotrakeal
Rasional : intubasi endotrakeal digunakan untuk menjaga kepatenan dalan nafas intraoperasi.
9) Siapkan obat dan peralatan emergensi
Rasional : peralatan jalan nafas juga diperlukan termasuk laringoskopi, selang endotrakeal, dan jalan nafas oral dan nasal faringeal. Selain itu, masker dan kantong resusitasi self-inflating adalah alat penting yang harus mudah diakses.
10) Beri dukungan praanestesi
Rasional : hubungan emasional yang baik antara penata anestesi dan pasien akan memengaruhi penerimaan anestesi.
11) Lakukan pemberian indukasi anestesi secara intravena
Rasional : pemberian indikasi dilakukan sebagai suatu obat intravena pertama dengan tujuan umum menghambat saraf dan menyebabkan paralisis sementara pada pita suara dan otot pernafasan selama selang endotrakeal terpasang.
12) Lakukan pemasangan kateter urine
Rasional : kateter foley harus dipasang sebelum pasien diberi posisi telungkap. Gunakan teknik aseptic untuk pemasangan kateter. Cegah terjadinya tekukan atau tekanan pada kateter selama proses pemindahan tersebut. Periksa kepatenan system drainase setelah pemberian posisi.Catat keluaran urine dan pemasangan kateter.
13) Bantu ahli anestesi dalam pemasangan selang endotrakeal
Rasional : penata anestesi akan membantu melakukan penekanan tulang rawan krikoid (perasat sellick) dan menahan konektor saat perasat intubasi endotrakeal dilakukan oleh ahli anestesi.
14) Lakukan pemasangan manset tekanan darah dan monitor dasar, oksimetri pada jari, dan pertahankan kelancaran intravena
Rasional : stetoskop precordial dibiarkan menempel didada pasien, menyalurkan informasi mengenai gerakan mekanis jantung dan adanya bunyi nafas secara kontinu. Perubahan yang dapat dideteksi mencakup bising jantung, aksentuasi bunyi jantung kedua, dan denyut jantung yang abnormal.
15) Lakukan pemberian oksigenasi dan pemasangan selang endotrakeal
Rasional : pemasangan selang endotrakeal biasanya dilakukan diatas brankar. Penata anestasi akan membantu melakukan penekanan tulang rawan krikoid (perasat sellick) untuk menyumbat esophagus pada saat perasat endotrakeal dilakukan.
16) Lakukan manajemen asepsis prabedah
Rasional : manajemen asepsis selalu berhubungan dengan pembedahan dan perawatan perioperatif. Asepsis prebedah meliputi teknik aseptic atau pelaksanaan scrubbing cucui tangan.
17) Lakukan manajemen asepsis intraoperasi
Rasional : manajemen asepsis dilakukan untuk menghindari kontak dengan zona steril, meliputi pemakaian baju bedah, pemakaian sarung tangan, persiapan kulit, pemasangan duk, penyerahan alat yang diperlukan perawat instrument dengan perawat sirkulasi. Manajemen asepsis intraoperasi merupakan tanggung jawab perawat instrument dengan mempertahankan integritas lapangan steril selama pembedahan dan bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan kepada tim bedah seperti pelanggaran teknik aseptic atau kontaminasi yang terjadi selama pembedahan.
18) Lakukan peraturan posisi telentang dan perhatian kondisi lengan
Rasional : lengan pasien diputar ke papan lengan berbantalan, gerakkan berdasarkan ROM normal.
19) Lakukan persiapan alat bedah secara scrup
Rasional : persiapan alat setelah perawat melakukan scrup merupakan penatalaksanaan awal pembedahan sudah bisa dimulai.
20) Letakan alat insisi dan alat pengisap pada sisi area bedah
Rasional : peletakan alat insisi akan memudahkan ahli bedah dalam melakukan insisi
21) Lakukan peran perawat sirkulasi dalam mendukung pembedahan
Rasional : perawat sirkulasi memfokuskan aktivitas manajemen kamar operasi agar kelancaran pembedahan dapat dilakukan secara optimal sejak pengaturan posisi bedah sampai dokter bedah selesai melakukan penutupan luka bedah.
22) Bantu ahli bedah pada saat dimulainya insisi
Rasional : perawat instrument atau asisten bedah menggunakan alat hemostasis listrik pada klem arteri untuk menjepit atau menghentikan perdarahan.
23) Bantu ahli bedah pada saat membuka jaringan
Rasional : pada saat pembukaan jaringan, pasien mempunyai risiko cedera. Perawat asisten bedah membantu ahli bedah dengan membuka jaringan dengan forseps dengan hati-hati sambil mengikuti arahan ahli bedah.Perawat instrument menggunakan alat hemostatis untuk diarahkan ke forseps.
24) Optimalisasi peran perawat sirkulasi
Rasional : perawatan sirkulasi mendukung kebutuhan intraoperasi
25) Bantu ahli bedah pada saat akses bedah untuk pengangkatan massa pada payudara tercapai
Rasional : tujuan bedah onkologi payudara adalah mengangkat massa dari payudara. Peran perawat membantu ahli bedah agar tujuan bedah dapat optimal terlaksana.
26) Bantu ahli bedah dalam penutupan jaringan
Rasional :penutupan dilakukan lapis demi lapis sesuai arah atau jaringan yang telak dilakukan pembedahan. Perawat instrument menurunkan risiko cedera dengan mempersiapkan dan memiliki sarana penjahitan sesuai jaringan yang di jahit dan kondisi atau kelayakan instrument agar kerusakan jaringan dapat minimal.Penjahitan bisa dilakukan ahli bedah atau asisten bedah.
27) Lakukan penghitungan jumlah kasa dan instrument yang telah digunakan
Rasional : penghitungan yang tepat akan mencegah tertinggalnya kasa pada area bedah sehingga menurunkan risiko cedera pada pasien.
28) Lakukan penutupan luka bedah
Rasional : sebelumnya area bedah bekas darah dan lainnya dilakukan desinfeksi dan dibersihkan, perawat mengangkat duk dan kemudian luka ditutup dengan kasa dan diplester secara keseluruhan
29) Jaga jalan napas dan control kondisi status respirasi
Rasional : sebelum memindahkan pasien ke brankar untuk dikirim ke ruang pemulihan pascaanestesi, perawat tetap menjaga jalan napas dengan menjaga posisi kepala dan menahan dagu agar jalan napas tetap optimal.
30) Rapikan dan bersihkan instrument
Rasional : sebelum pasien dipindahkan ke ruang pulih sadar kondisi area bedah sudah bersih dari sisa pembedahan.
31) Lakukan dokumentasi intraoperasi
Rasional : catatan keperawatan intraoperatif diisi lengkap sebelum pasien dipindahkan ke ruang pulih sadar agar asuhan keperawatan yang diberikan berkesinambungan.
3.3 Proses Keperawatan Pascaoperatif Bedah Payudara
3.3.1 Di Ruang Pulih Sadar
Asuhan keperawatan pasca bedah payudara di ruang pulih sadar secara umum sama dengan asuhan keperawatan pascabedah dengan anesthesia umum lainnya. Pengkajian pascaanestesi dilakukan sejak pasien mulai dipindahkan dari kamar operasi ke ruang pemulihan.Pada saat memindahkan pasien yang berada diatas brankar, perawat mengkaji dan melakukan intervensi tentang kondisi jalan nafas, tingkat kesadaran, status vascular, sirkulasi dan perdarahan, serta suhu tubuh dari saturasi oksigen.Pengaturan posisi kepala pada saat pemindahan sangat penting dengan tetap menjaga kepatenan jalan napas.
3.3.2 Patofisiologi ke Masalah Keperawatan Pascabedah Payudara
Pasien pascabedah akan mengalami perubahan fisiologi sebagai efek dari anestesi dan intervensi bedah. Efek dari anestesi umum akan memberikan respons pada system respirasi dimana akan terjadi respons depresi pernapasan sekunder dari sisa anestesi inhalasi, penurunan kemampuan terhadap kontrolkepatenan jalan nafas dimana kemampuan memposisikan lidah secara fisiologi masih belum optimal, sehingga cenderung menutup jalan napas dan juga mengalami penurunan untuk melakukan batuk efektif dan muntah masih belum optimal. Kondisi ini memberikan manifestasi adanya masalah keperawatan jalan napas tidak efektif dan risiko pola nafas tidak efektif.
Efektif anestesi akan mempengaruhi mekanisme regulasi sirkulasi normal sehingga mempunyai risiko terjadinya penurunan kemampuan jantung dalam melakukan stroke volume efektif yang memberikan implikasi penurunan curah jantung. Efek intervensi bedah dengan adanya cedera vascular dan banyaknya jumlah volume darah yang keluar dari vascular memberikan dampak terjadinya penurunan perfusi perifer, perubahan elaktrolit dan metabolisme karena terjadi mekanisme kompensasi pengaliran suplai hanya untuk organ vital.Efek anestesi juga memengaruhi pusat pengatur suhu tubuh sehingga kondisi pascabedah pasien cenderung mengalami hipotermi.
Efek anestesi pada system saraf pusat akan memengaruhi penurunan control kesadaran dan kemampuan dalam orientasi pada lingkungan sehingga pada pasien yang mulai sadar biasanya gelisah. Kondisi penurunan reaksi anestetik akan bermanifestasi pada munculnya keluhan nyeri akibat kerusakan neuromuscular pascabedah. Pasien pascabedah cenderung mengalami kecemasan pascabedah sehubungan dengan ketidakmampuaan dan penurunan kemampuan adaptasi normal.
Efek anestesi juga memengaruhi terhambatnya jaras aferen dan eferen terhadap control miksi, sehingga memberikan implikasi masalah gangguan pemenuhan eliminasi urine.
Efek anestesi akan menimbulkan penurunan peristaltik usus dan memberikan implikasi peningkatan risiko paralisis usus dengan distensi otot-otot abdomen dan timbulnya gejala obstruksi gastrointestinal. Efek anestesi juga memengaruhi penurunan kemampuan pengosongan lambung, sehingga cenderung terjadinya refluks esophagus dan makanan keluar ke kerongkongan yang berindikasi terjadinya aspirasi makanan ke saluran napas.
Respons pengaturan posisi bedah akan menimbulkan peningkatan risiko terjadinya tromboembosis, parastesia, dan cedera tekan pada beberapa penonjolan tulang. Efek intervensi bedah akan meninggalkan adanya kerusakan integeritas jaringan dengan penurunan kontrol otot dan keseimbangan secara sadar sehingga pasien pascabedah mempunyai risiko tinggi cedera.
3.3.3 Pengkajian
Pengkajian pascaoperatif dilakukan secara sistematis mulai dari pengkajian awal saat menerima pesan, pengkajian status respirasi, status sirkulasi, status neurologi dan respon nyeri, status integritas kulit dan status genitourinarius.
Pengkajian awal pascabedah sebagai berikut :
1) Diagnosis medis dan jenis pembedahan yang dilakukan
2) Usia dan kondisi umum pasien, kepatenan jalan napas, tanda-tanda vital
3) Anestesi dan medikasi lain yang digunakan (misalnya narkotik, relaksan otot, antibiotic)
4) Segala masalah yang terjadi dalam ruang operasi yang mungkin memengaruhi perawatan pascaoperatif (misalnya hemoragi berlebihan, syok, dan henti jantung)
5) Patologi yang dihadapi ( jika malignansi, apakah pasien atau keluarga sudah diberitahukan).
6) Cairan yang diberikan, kehilangan darah, dan penggantian
7) Segera selang, drain, kateter, atau alat bantu pendukung lainnya.
8) Infomasi spesifik tentang siapa ahli bedah atau ahli anestesi yang akan diberitahu.
Status Respirasi
kontrol pernapasan
1) Obat anestesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernapasan. Sehingga perawat perlu waspada terhadap adanya pernapasan yang dangkal dan lambat, serta batuk yang lemah.
2) Perawat mengkaji frekuensi, irama, kedalaman ventilasi pernapasan, kesimetrisan gerakan dinding dada, bunyi napas, dan warna membrane mukosa. Apabila pernapasan dangkal, letakkan tangan perawat di atas muka atau mulut pasien sehingga perawat dapat merasakan udara yang keluar.
Kepatenan jalan napas
Jalan napas oral atau oral airway masih dipasang untuk mempertahankan kepatenan jalan napas sampai tercapai pernapasan yang nyaman dengan kecepatan normal. Apabila fungsi pernapasan sudah kembali normal, perawat mengajurkan pasien membersihkan jalan napas dengan cara meludah. Kemampuan melakukan hal tersebut menandakan kembalinya refleks muntah normal.
Status Sirkulasi
Pengkajian kecepatan denyut dan irama jantung yang teliti serta pengkajian tekanan darah menunjukkan status kardiovaskuler pasien.
Perawat membandingkan TTV praoperatif dengan pascaoperatif.Dokter harus memberitahu jika tekanan darah pasien terus menurun dengan cepat pada setiap pemeriksaan atau jika kecepatan denyut jantung menjadi semakin tidak teratur.
Status Neurologi
Perawat mengkaji tingkat kesadaran pasien dengan cara memanggil namanya dengan suara sedang. Perawat memperhatikan apakah pasien berespons dengan tepat atau terlihat bingung dan disorientasi. Apabila pasien tetap tidur atau tidak berespons, perawat mencoba mangkaji pasien dengan cara menyentuhnya atau menggerakkan bagian tubuh pasien dengan lembut. Perawat dapat memeriksa refleks pupil, refleks muntah dan mengkaji genggaman tangan serta pergerakan ekstermitas pasien.Kaji tingkat respons sensibilitas dengan membandingkan peta dermatom untuk menilai kembalinya fungsi sensasi taktil.
Pengkajian skala nyeri merupakan metode efektif bagi perawat untuk mengkaji nyeri pascaoperatif bedah spina, mengevalusi respons pasien terhadap pemberian analgesic, dan mendokumentasikan beratnya nyeri secara objektif.Pengkajian skala nyeri praoperatif digunakan sebagai dasar bagi perawat untuk mengevalusi efektifitas intervensi selama pemulihan pasien.
Muskuloskeletal
Kaji kondisi organ pada area yang rentan mengalami cedera posisi pascabedah.
3.3.4 Diagnosa Keperawatan
1) Risiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol pernapasan efek sekunder anestesi.
2) Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol kepatenan jalan napas (lidah), penurunan kontrol batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi, efek depresan dari medikasi dan agens anatesi.
3) Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal, perdarahan pascaoperatif, penurunan curah jantung, hipovolemia, pengumpulan darah perifer, dan vasokonstriksi.
4) Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital, kerusakan neuromuscular pascabedah.
5) Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama periode intraoperative
6) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek medikasi, dan penurunan masukan cairan
7) Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif, kemungkinan perubahan dalam gaya hidup, dan perubahan dalam konsep diri.
3.3.5 Intervensi Keperawatan
1) Risiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol pernapasan efek sekunder anestesi.
Tujuan : mengefektifkan jalan napas, mempertahankan ventilasi pulmonal, dan mencegah hipoksemia dan hiperkapnea
Kriteria Hasil :
a) Frekuensi pernapasan dalam batas normal (12-20x/menit)
b) Tidak menggunakan otot bantu napas
c) Tidak terdengar bunyi napas tambahan
d) Oral airway dapat dilepas tanpa komplikasi
Intervensi :
a) Atur tempat pasien dengan dekatkan pada akses oksigen dan suction
Rasional : pasien bisanya masih mendapat oksigenasi pemeliharaan sampai sadar penuh
b) Kaji dan observasi jalan napas
Rasional :salah satu cara untuk mengetahui apakah pasien bernapas atau tidak adalah dengan menempatkan telapak tangan diatas hidung dan mulut pasien untuk merasakan hembusan napas.
c) Pertahankan kepatenan jalan napas
Rasional :jalan napas oral atau airway tetap terpasang untuk mempertahankan kepatenan jalan napas sampai tercapai pernapasan yang nyaman dengan kecepatan normal.
d) Atur posisi kepala untuk mempertahankan jalan napas
Rasional :tindakan terhadap obstruksi hipofaringeus termasuk mendongakkan kepala ke belakang dan mendorong ke depan pada sudut rahang bawah, seperti jika mendorong gigi bawah di depan gigi atas.
e) Beri oksigen 30 liter/menit
Rasional : pemenuhan oksigen dapat membantu meningkatkan PaO2 di cairan otak yang akan memengaruhi peraturan pernapasan.
f) Bersihkan secret pada jalan napas
Rasional : kesulitan pernapasan dapat terjadi akibat sekresi lender yang berlebihan.
2) Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol kepatenan jalan napas (lidah), penurunan kontrol batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi, efek depresan dari medikasi dan agens anatesi.
Tujuan : pola napas kembali efektif sesuai dengan berkurangnya efek anestesi, umum dan pasien maupun melakukan latihan pernapasan pascabedah.
Kriteria Hasil :
a) Frekuensi pernapasan dalam batas normal (12-20x/menit)
b) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan
c) Saturasi oksigen 100%
d) Oral airway sudah bisa dilepas saat pasien keluar ruang pemulihan
Intervensi :
a) Kaji dan monitor control pernapasan
Rasional : obat anestesi tertentu dapat menyebabkan depresan pernapasan, oleh Karena itu perawat harus mewaspadai pernapasan yang dangkal dan larnbat serta batuk yang lemah
b) Monitor frekuensi, irama, kedalaman ventilasi pernapasan, kesimetrisan gerakan dinding dada, bunyi napas, dan warna membrane mukosa
Rasional : deteksi awal adanya perubahan terhadap kontrol pola pernapasan dari medulla oblongata untuk intervensi selanjutnya
c) Pastikan fungsi pernapasan sudah optimal
Rasional : tindakan evaluasi untuk menentukan dimulainya latihan pernapasan sesuai yang diajarkan pada saat praoperatif
d) Instruksikan pasien untuk napas dalam
Rasional :meningkatkan ekspansi paru, untuk memperbesar ekspansi dada dan pertukaran gas.
e) Instruksikan untuk melakukan batuk efektif
Rasional : batuk juga didorong untuk melonggarkan sumbatan mukus
3) Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal, perdarahan pascaoperatif, penurunan curah jantung, hipovolemia, pengumpulan darah perifer, dan vasokonstriksi.
Tujuan : dalam waktu 15 menit pascabedah perfusi perifer menjadi optimal
Kriteria Hasil :
a) Denyut nadi perifer teraba
b) Akral hangat
c) Pengisian kapiler < 3 detik
d) Tidak terlihat adanya sianosis sentral atau perifer
e) TTV dalam batas normal
f) Kulit perifer tidak pucat
g) Output urine 50 ml/jam
Intervensi :
a) Monitor tanda dan gejala penurunan perfusi jaringan
Rasional : monitor tanda dan gejala penurunan perfusi jaringan
b) Beri intervensi sesuai dengan penyebab penurunan perfusi
Rasional : beri intervensi sesuai dengan penyebab penurunan perfusi
c) Lakukan percepatan mobilisasi aktivitas
Rasional : lakukan percepatan mobilisasi aktivitas
4) Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital, kerusakan neuromuscular pascabedah.
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang atau beradaptasi
Kriteria Hasil :
a) TTV dalam batas normal
b) Nyeri di tingkat 0-1 atau skala 0-4
Intervensi :
a) Kaji kemampuan kontrol nyeri pasien
Rasional : banyak factor fisiologi memengaruhi persepsi nyeri
b) Kaji persiapan pengelolahan nyeri praoperatif
Rasional : persiapan praoperatif yang diterima oleh pasien adalah factor yang signifikan dalam menurunkan ansietas dan nyeri yang dialami dalam periode pascaoperatif.
c) Kaji skala nyeri
Rasional : skala nyeri pascaoperatif tergantung pada persepsi fisiologis dan psikologis individu, toleransi yang ditimbulkan untuk nyeri, letak insisi, sifat prosedur, dan kedalaman trauma bedah.
d) Lakukan manajemen nyeri keperawatan
i. Istirahatkan pasien
Rasional : istirahat secara fisiologis akan menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal
ii. Ajurkan teknik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri muncul
Rasional : meningkatkan asupan O2 sehingga menurunkan nyeri sekunder dari iskemia spina
iii. Ajurkan teknik distraksi pada saat nyeri
Rasional : Distraksi dapat menurunkan stimulus internal
iv. Manajemen lingkungan : lingkungan tenang, batasi penunjang dan istirahatkan pasien
Rasional : lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan. Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2 jaringan perifer
v. Lakukan manajemen sentuhan
Rasional : masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri
vi. Lakukan teknik stimulus perkutaneus
Rasional : salah satu metode distraksi untuk menstimulus pengeluaran endorphin-enkefalin yang berguna sebagai analgesic internal untuk memblok rasa nyeri
vii. Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung
Rasional : pengetahuan membantu mengurangi nyerinya dan mengembalikan kepatuhan pasien terhadap rencana terapeutik
e) Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgesic
Rasional : analgesic memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang.
5) Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama periode intraoperative
Tujuan :dalam waktu 3 x 24 jam fungsi peristaltic menjadi normal
Kriteria Hasil :
a) TTV dalam batas normal
b) Peristaltic usus normal
c) Pasien mampu BAB
Intervensi :
a) Kaji kemampuan Peristaltic setiap 4-8 jam
Rasional : penilaian bunyi bising usus merupakan parameter penting yang dilakukan perawat untuk mengetahui fungsi intestinal sudah optimal, untuk mendeteksi kembalinya bising usus normal.
b) Berikan asupan nutrisi dan tingkatan secara bertahap
Rasional : apabila Peristaltic sudah kembali, perawat memberikan cairan yang encer, dilanjutkan dengan cairan yang kental, diet ringan makanan padat, dan akhirnya diberikan diet regular.
c) Lakukan dan tingkatan ambulasi dan latihan
Rasional : aktifitas fisik merangsang kembalinya Peristaltic.
d) Pertahankan asupan cairan yang adekuat
Rasional : cairan menjaga feses tetap lembut sehingga mudah dikeluarkan.
e) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat supositoria
Rasional : apabila terjadi konstipasi atau disentri, dokter mencoba merangsang Peristaltic melalui katartik atau edema. Selang rektal atau enema aliran balik meningkatkan keluarnya flatus.
6) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek medikasi, dan penurunan masukan cairan
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam pasien mampu berkemih tanpa bantuan kateter
Kriteria Hasil : pasien mampu berkemih secara spontan dan tanpa bantuan selang kateter
Intervensi :
a) Monitor output dan system drainese kateter
Rasional : pascabedah, pasien masih terpasang kateter folley. Perawat memeriksa jumlah output dan kelancaran drainase dari kateter
b) Monitor input dan output cairan tiap 4 jam
Rasional : pasien mudah mengalami drainase akibat cairan yang hilang dari luka bedah
7) Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif, kemungkinan perubahan dalam gaya hidup, dan perubahan dalam konsep diri.
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam tingkat kecemasan pasien berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :
a) Pasien menyatakan kecemasan berkurang
b) Pasien mampu mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya
c) Pasien kooperatif terhadap tindakan
d) Wajah rileks
Intervensi :
a) Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, damping pasien dan lakukan tindakan bila menunjukan perilaku merusak
Rasional : reaksi verbal/non verbal dapat menunjukan rasa agitasi, marah dan gelisah yang akan memengaruhi posisi pasien pada brankar sehingga mempunyai risiko jatuh.
b) Hindari konfrontasi
Rasional : konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja sama, dan memperlambat penyembuhan.
c) Tingkatkan kontrol sensasi pasien
Rasional : kontrol sensasi pasien dengan cara memberikan informasi tentang keadaan pasien, menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping yang positif, membantu latihan relaksasi dan teknik-teknik pengalihan, dan memberikan respons balik positif.
d) Orientasikan pasien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
Rasional : Orientasikan dapat menurunkan kecemasan
3.3.6 Evaluasi Keperawatan Pascaoperatif
Evalusasi yang diharapkan pada pasien pascoperatif bedah payudara adalah sebagai berikut :
1) Kembalinya fungsi fisiologis pada seluruh system secara normal
2) Tidak terjadi cedera pada korda
3) Tidak terjadi komplikasi pascabedah
4) Dapat beristirahat dan memperoleh rasa nyaman
5) Hilangnya rasa cemas.
BAB 4
RESUME
4.1 Kesimpulan
Pembedahan onkologi pada payudara merupakan indikasi dari adanya kondisi kelainan akibat adanya pembesaran atau benjolan pada payudara. Pada proses pembedahan onkologi ini di bagi menjadi berapat tahap yaitu
1) Proses Keperawatan Praoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara,
2) Proses Keperawatan Intraoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara,
3) Proses Keperawatan Pascaoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara.
DAFTAR PUSTAKA
Dalimartha, Setiawan. 2004. Deteksi Dini Kanker dan Simplisia Anti Kanker.Jakarta : Penebar Swadaya
Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif. Jakarta : Selemba Medika
Sjamsuhidayat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.Jakarta : EGC
Tjindarbumi, D. 2002. Deteksi Dini Kanker Payudara dan Penanggulangannya dalam Deteksi Dini Kanker.Jakarta : FK UI
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kandungan.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembedahan onkologi pada payudara merupakan indikasi dari adanya kondisi kelainan akibat adanya pembesaran atau benjolan pada payudara. Sebagai modalitas asuhan keperawatan bedah onkologi payudara, perawat perioperative perlu mengetahui ringkasan konsep (meliputi anatomi dan fisiologi payudara), pengkajian keperawatan prabedah onkologi payudara, pengkajian diagnostic, diagnose keperawatan prabedah, serta rencana intervensi prabedah sampai masuk ke ruang prabedah.
1.2 Rumusan Masalah
1) Jelaskan Konsep teoritis secara medis mengenai kelainan pada payudara ?
2) Bagaimanakah konsep teoritis asuhan keperawatan pada bedah payudara ?
1.3 Tujuan
1) Untuk memahami dan mengetahui Konsep teoritis secara medis mengenai kelainan pada payudara
2) Untuk memahami dan mengetahui konsep teoritis asuhan keperawatan pada bedah payudara
BAB 2
KONSEP TEORITIS SECARA MEDIS
2.1 Anatomi dan Fisiologi Payudara
Kelenjar mammaria atau payudara, terletak di dalam fasia superfisial dinding dada anterior. Payudara terletak di iga ke 2 sampai ke 6 dan dari batas lateral sternum ke garis anterior, atau midaksilaris. Kelenjar ini dikelilingi oleh jaringan ikat subkutis, jaringan lemak dan terdapat di dalam kantong kulit berbentuk kerucut. Bagian terbesar dari kelenjar mamaria terletak di sebelah anterior jaringan ikat otot pektoralis mayor dan di sebelah lateral otot seratus anterior. Struktur penunjang yang menopang payudara dikenal sebagai ligamentum cooper. Jaringan mammaria tambahan, yang dikenal sebagai ekor aksilaris atau ekor spence, meluas ke atas dan ke lateral menuju lipatan aksila anterior.
Setiap kelenjar mammaria terdiri atas 15-20 lobus yang mengandung duktus, duktulus, dan satuan lobules alveolus (lobules yang mengandung sel-sel sekretorik atau alveolus) yang dipisahkan oleh jaringan ikat fibrosa atau septum, dan dikelilingi oleh jaringan ikat lemak.Setiap lobus kelenjar memancar menjahui puting payudara seperti jeruji.Setiap lobus kelenjar mammaria berakhir di sebuah duktus laktiferosa yang mengalirkan isinya, melalui sebuah lubang kecil ke puting payudara.Puting payudara dikelilingi oleh areola, yang berpigmen dan sedikit berkerut.
Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu :
1) Korpus (badan), adalah bagian yang membesar.Korpus Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah. Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus. Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. ASI dsalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).
2) Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah.Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.
3) Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncakpayudara.Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/ datar, panjang dan terbenam (inverted)
2.2 Definisi
1) Ca mammae adalah sekelompok sel tidak normal yang terus tumbuh di dalam jaringan mammae (Tapan, 2005).
2) Ca Mammae adalah kanker yang menyerang jaringan payudara yang menyebabkan sel dan jaringan payudara berubah bentuk menjadi abnormal dan bertambah banyak secara tidak terkendali (Mardiana, 2004).
3) Kanker adalah massa abnormal dari sel-sel yang mengalami proliferasi. Sel-sel neoplasma berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, selama mengalami perubahan neoplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu. ( Sylvia A Price, 1994 ).
Dari definisi diatas disimpulkan bahwa kanker payudara merupakan massa sel dari perubahan sel yang mengalami pertumbuhan tidak normal dan tidak terkontrol.
2.3 Etiologi
Etiologi kanker payudara tidak diketahui secara secara pasti,Namun beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara,yaitu:
1) Umur > 30 tahun
2) Melahirkan anak pertama pada usia > 35 tahun
3) Tidak kawin dan nulipara
4) Usia menopause > 55 tahun
5) Pernah mengalami infeksi trauma atau operasi tumor jinak payudara
6) Pernah mengalami infeksi trauma atau operasi tumor jinak payudara
7) Terapi hormonal lama
8) Mempunyai kanker payudara kontralateral
9) Pernah menjalani operasi ginekologis misalnya tumor ovarium
10) Pernah mengalami radiasi di daerah dada
11) Ada riwayat keluarga dengan kanker payudara pada ibu,saudara perempuan ibu,saudara perempuan,adik/kakak
12) Kontrasepsi oral pada pasien tumor payudara jinak seperti kelainan fibrokistik yang ganas
2.4 Stadium kanker Payudara
Tjindarbumi (2002) membagi stadium ca mammae yanng disesuaikan dengan aplikasi klinis sebagai berikut :
1) Stadium I
Tumor terbatas pada payudara, bebas dari jaringan sekitarnya, tidak ada fiksasi/infiltrasi ke kulit dan jaringan di bawahnya (otot).Besar tumor 1-2 cm. Kelenjar getah bening regional belum teraba.
2) Stadium II
Besar tumor 2,5-5 cm dan sudah ada satu atau beberapa Kelenjar Getah Bening (KGB) aksila yang masih bebas dengan diameter < 2 cm. 3) Stadium IIIa Tumor sudah meluas dalam payudara (5-10 cm) tetapi masih bebas di jaringan sekitarnya, KGB aksila masih bebas satu sama lain. 4) Stadium IIIb Tumor sudah meluas ke dalam payudara (5-10 cm) fiksasi pada kulit atau dinding dada, kulit merah, dan ada oedema (>1/3 permukaan kulit payudara), ulserasi dan atau nodul.
5) Stadium IV
Tumor seperti pada yang lain (stadium I, II, dan III), tetapi sudah disertai dengan KGB aksila supra-klavikula dan metastasis jauh lainnya.
3.5 Tanda dan Gejala
Menurut Suryaningsih 2009, tanda dan gejalanya adalah :
1) Benjolan
2) Adanya benjolan pada payudara yang dapat diraba dengan tangan. Semakin lama benjolan tersebut semakin mengeras dan bentuknya tidak beraturan.
3) Perubahan kulit pada payudara
a. Kulit tertarik (skin dimpling)
b. Benjolan yang dapat dilihat (visible lump)
c. Eritema
d. Ulkus
4) Kelainan pada putting
a. Putting tertarik (nipple retraction)
b. Eksema
c. Cairan pada putting (nipple discharge)
3.6 Patofisiologi
Ca mammae, sama seperti keganasan lainnya penyebab dari keganasan ini merupakan multifaktoral baik lingkungan maupun faktor herediter, diantaranya adanya lesi pada DNA menyebabkan mutasi genetik, mutasi gen ini dapat menyebabkan ca mammae, kegagalan sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan abnormal dari growth factor menyebabkan rangsangan abnormal antara sel stromal dengan sel epitel, adanya defek pada DNA repair genes seperti BRCA1, BRCA2, yang pada prinsipnya meningkatkan aktivitas proliferasi sel serta kelainan yang menurunkan atau menghilangkan regulasi kematian sel (Heffner, 2005).
Ca mammae terjadi karena hilangnya kontrol atau proliferasi sel payudara dan apoptosis sehingga sel payudara berpoliferasi secara terus-menerus. Hilangnya fungsi apoptosis menyebabkan ketidakmampuan mendeteksi kerusakan sel akibat kerusakan DNA. Bila terjadi mutasi gen p53 maka fungsi sebagai pendeteksi kerusakan DNA akan hilang, sehingga sel-sel abnormal berpoliferasi terus-menerus. Peningkatan jumlah sel tidak normal ini umumnya membentuk benjolan yang disebut tumor atau kanker.Tumor jinak biasanya merupakan gumpalan lemak yang terbungkus dalam suatu wadah yang menyerupai kantong.Lewat aliran darah maupun sistem getah bening, sel-sel tumor dan racun yang dihasilkan keluar dari kumpulannya dan menyebar ke bagian lain tubuh.
Sel-sel yang menyebar ini kemudian akan tumbuh berkembang di tempat baru, yang akhirnya membentuk segerombolan sel tumor ganas atau kanker baru. Keganasan kanker payudara ini dengan menyerang sel-sel nomal disekitarnya, terutama sel-sel yang lemah. Sel kanker akan tumbuh pesat sekali, sehingga payudara penderita akan membesar tidak seperti biasanya.
Ca mamae berasal dari epitel saluran dan kelenjar payudara.Pertumbuhan dimulai dari dalam duktus ataupun kelenjar lobulus yang disebut karsinoma noninvasif. Kemudian tumor menerobos ke luar dinding duktus atau kelenjarr di daerah lobulus dan invasi ke dalam stroma, yang dikenal dengan nama karsinoma invasif. Penyebaran tumor terjadi melalui pembuluh getah bening, deposit dan tumbuh di kelenjar getah bening, sehingga kelenjar getah bening aksiler atau supraklavikuler membesar.Ca mammae pertama kali menyebar ke kelenjar aksila regional.Lokasi metastasis paling jauh yaitu tulang, hati, paru, pleura, dan otak (Heffner, 2005).
3.7 Pemeriksaan Penunjang
1) Mamografi
Dengan tes ini dapat ditemukan benjolan yang kecil sekalipun.Bila secara klinis dicurigai ada tumor dan pada mamografi tidak ditemukan apa-apa, pemeriksaan harus dilanjutkan dengan biopsi sebab sering karsinoma tidak tampak pada mammogram.Sebaliknya bila mamografi positif dan secara klinis tidak teraba tumor pemeriksaan harus dilanjutkan dengan pungsi atau biopsi.
2) Ulrasonografi
USG biasanya digunakan bersamaan bersama dengan mamografi, tujuannya untuk membedakan kista yang berisi cairan atau solid. Untuk menentukan stadium dapat menggunakan foto thoraks, USG abdomen, Bone scanning dan CT scan.
3) X-foto thorax
Dapat membantu mengetahui adanya keganasan dan mendeteksi adanya metastase ke paru-paru.
4) Pemeriksaan Biopsi Jarum Halus
Merupakan pemeriksaan sitologi dimana bahan pemeriksaan diperoleh dari hasil punksi jarum terhadap lesi yang dapat dipakai untuk menentukan apakah akan segera disiapkan pembedahan dengan sediaan beku atau akan dilanjutkan oleh pemeriksaan lain. Cara pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, namun tidak dapat memastikan tidak adanya keganasan.Hasil negatif pada pemeriksaan ini dapat berarti bahwa jarum biopsi tidak mengenai daerah keganasan sehingga biopsi eksisi tetap diperlukan untuk konfirmasi hasil negatif tersebut (Sjamsuhidayat, 2004).
3.8 Penatalaksanaan
Pengobatan dimulai setelah dilakukan penilaian secara menyeluruh terhadap kondisi penderita, yaitu sekitar 1 minggu atau lebih setelah biopsi.Pengobatannya terdiri dari pembedahan, terapi penyinaran, kemoterapi dan obat penghambat hormon.
Pembedahan
a) Mastektomi
Mastektomi adalah operasi pengangkatan mammae. Ada 3 jenis mastektomi yaitu :
1) Modified Radycal Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh mammae, jaringanmammae di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan disekitar ketiak.
2) Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh mammae saja, tanpa kelenjar di ketiak.
3) Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari mammae. Biasanya disebut Lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan seluruh mammae. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir mammae.
b) Kelenjar Getah Bening (KGB) Ketiak.
c) Pengangkatan KGB Ketiak dilakukan terhadap penderita ca mammae yang menyebar tetapi besar tumornya lebih dari 2,5 cm (Tapan, 2005).
Non Pembedahan
a) Terapi radiasi
Radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena ca dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih tersisa di mammae setelah operasi. Efek pengobatan ini adalah tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar mammae menjadi hitam serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi.
b) Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kankerdalam bentuk pil cair atau kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Obat –obatan ini tidak hanya membunuh sel kankerpada mammae, tetapi juga seluruh sel dalam tubuh.Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual dan muntah serta rambut rontok.Sistematik setelah mastektomi, paliatif pada penyakit yang lanjut.
c) Terapi hormon dan endokrin
Pemberian hormon dilakukan apabila penyakit telah sistemik berupa metastasis jauh.Terapi hormonal biasanya diberikan secara paliatif sebelum kemoterapi.Obat-obat penghambat hormon (obat yang mempengaruhi kerja hormon yang menyokong pertumbuhan sel kanker) digunakan untuk menekan pertumbuhan sel kankerdi seluruh tubuh.Diberikan pada kankeryang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi (Tapan, 2005).
BAB 3
KONSEP TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Proses Keperawatan Praoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara
3.1.1 Pengkajian focus keperawatan
Pada pengkajian anamnesis biasanya didapatkan adanya keluhan benjolan pada payudara. Factor bertambahnya usia mempunyai risiko yang lebih tinggi terdapat kemungkinan mengidap kanker payudara (Gruendemann, 2006).
Pada pengkajian riwayat keluarga terdapat adanya hubungan seorang wanita yang ibu atau saudarinya (saudara dekat, keturunan pertama) pernah/sedang menderita kanker payudara, memiliki risiko paling sedikit dua sampai tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan populasi umum. Adanya riwayat awitan haid sebelum usia 12 tahun dan nuliparitas, kehamilan cukup bulan pertama setelah usia 35 tahun, awitan menopause yang lambat, atau riwayat haid lebih dari 40 tahun memiliki hubungan peningkatan risiko penyakit payudara jinak (Gruendemann, 2006).
Pada pemeriksaan fisik inspeksi sering didapatkan kondisi asimetri retraksi atau adanya skuama pada puting payudara.Tanda-tanda stadium lanjut, yaitu nyeri, pembentukan ulkus dan edema.
Pada palpasi payudara akan ditemukan/teraba benjolan atau penebalan payudara yang biasanya tidak nyeri. Selain itu juga ada pengeluaran rabas darah atau serosa dari puting payudara dan cekungan atau perubahan kulit payudara. Apabila ditemukan adanya benjolan di payudara, maka benjolan tersebut harus dievalusi terhadap satu dari tiga kemungkinan, yaitu : kista, tumor jinak, atau tumor ganas (Gruendemann, 2006).
Di ruang Prabedah
Pada pengkajian di ruang prabedah, perawat melakukan pengkajian ringkas mengenai kondisi fisik pasien dan kelengkapan yang berhubungan dengan pembedahan. Pengkajian ringkas tersebut adalah sebagai berikut :
1) Validasi : perawat melakukan konfrimasi kebenaran identitas pasien sebagai data dasar untuk mencocokan prosedur jenis pembedahan yang akan dilakukan.
2) Kelengkapan administrasi : status rekan medic, data-data penunjang (laboratorium dan radiologi), serta kelengkapan informed consent.
3) Tingkat kecemasan dan pengetahuan pembedahan
4) Pemeriksaan fisik terutama tanda-tanda vital dan kondisi masa pada payudara.
3.1.2 Diagnosa Keperawatan di ruang properatif
1) kecemasan dan pemenuhan informasi
Rencana Intervensi :
a) Observasi TTV dan berkolaborasi denga tim medis apabila ditemukan perubahan atau ketidaknormalan dari hasil pemeriksaan TTV. Observasi TTV merupakan data dasar yang penting sebagai bahan evaluasi pascabedah di ruang pemulihan.
b) Pengaturan posisi fisiologi untuk menurunkan respon nyeri
c) Komunikasi terapeutik dan dukungan psikologis untuk menurunkan tingkat kecemasan.
d) Penjelasan singkat tentang prosedur yang akan dilakukan perawat dan dokter selama pasien masih sadar.
e) Pemasangan kateter IV dan jarum berdiameter besar
Evaluasi yang diharapkan pada pasien di ruang sementara, meliputi :
a) TTV dalam batas normal
b) Respons nyeri tidak meningkat dan perdarahan dapat terkontrol
c) Tingkat kecemasan pasien menurun
d) Pasien dapat dukungan psikologis dan secara singkat dapat menjelaskan secara singkat prosedur pembedahan.
e) Pasien sudah terpasang IV kateter.
3.2 Proses Keperawatan Intraoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara
3.2.1 Di Kamar Operasi
Asuhan keperawatan intraoperatif pemberian anestesi pada bedah payudara pada prinsipnya sama dengan asuhan keperawatan pada saat pemberian anastesi secara umum.
3.2.2 Patofisiologi ke masalah keperawatan
Pasien yang dilakukan pembedahan akan melewati berbagai prosedur. Prosedur pemberian anestesi, pengaturan posisi bedah, manajemen asepsis, dan prosedur bedah payudara akan memberikan implikasi pada masalah keperawatan yang akan muncul.
Efek dari anestesi umum akan memberikan respons depresi atau iritabilitas kardiovaskuler, depresi pernafasan, dan kerusakan hati serta ginjal. Penurunan suhu tubuh akibat suhu diruang operasi yang rendah, infus dengan cairan yang dingin, inhalasi gas-gas yang dingin, luka terbuka pada tubuh, aktivitas otot yang menurun, usia lanjut, obat-obatan yang digunakan (vasodilator, anestesi umum) mengakibatkan penurunan laju metabolisme. Efek anestesi akan memengaruhi mekanisme regulasi sirkulasi normal, sehingga mempunyai risiko terjadinya penurunan kemampuan jantung dalam melakukan stroke volume efektif yang berimplikasi pada penurunan curah jantung. Efek intervensi bedah dengan adanya cedera vascular dan banyaknya jumblah volume darah yang keluar dari vascular memberikan adalah terjadinya penurunan perfusi perifer serta perubahan elektrolit dan metabolisme, karena terjadi mekanisme kompensasi pengaliran suplai hanya untuk organ vital.
Respons pengaturan posisi bedah telentang akan menimbulkan peningkatan risiko cedera perengangan pleksus brakialis, tekanan berlebihan pada tonjolan-tonjolan tulang yang berada di bawah (bokong, scapula, kalkaneus), tekanan pada vena femolaris atau abdomen, dan cedera otot tungkai.Efek intervensi bedah onkologi payudara membuat suatu pintu masuk kuman (port de entrée) sehingga menimbulkan masalah risiko infeksi intraoperasi. Respon intervensi bedah onkologi payudara juga akan meningkatkan cedera jaringan lunak (vascular, otot, saraf) serta kehilangan banyak darah intraoperasi. Intervensi bedah dengan menggunakan instrumen dan peralatan listrik memunculkan masalah risiko cedera intraoperasi yang perlu diwaspadai oleh perawat perioperative.
Pengkajian intraoperatif bedah onkologi secara ringkas mengkaji hal-hal yang berhubungan dengan pembedahan. Diantaranya adalah validasi identitas dan prosedur jenis pembedahan yang akan dilakukan, serta konfirmasi kelengkapan data penunjang laboratorium dan radiologi.
3.2.3 Diagnosa Keperawatan Intraoperatif bedah onkologi payudara
1) Risiko cedera berhubungan dengan pengaturan posisi bedah dan trauma prosedur pembedahan
2) Risiko infeksi berhubungan dengan adanya port de entrée luka pembedahan dan penurunan imunitas sekunder efek anestesi.
3.2.4 Rencana Intervensi
Tujuan Utama keperawatan pada jenis pembedahan bedah onkologi payudara adalah menurunkan risiko cedera, mencegah kontaminasi intraoperative, dan optimalisasi hasil pembedahan.
Kriteria hasil : pada saat masuk ruang pemulihan kondisi TTV dalam batas normal, tidak terdapat adanya cedera tekan sekunder dari pengaturan posisi bedah, dan luka pascabedah tertutup kasa. Rencana yang disusun dan akan dilaksanakan baik pada risiko cedera maupun risiko infeksi
Intervensi :
1) Kaji ulang identitas pasien
Rasional : perawat ruang operasi memeriksa kembali identitas dan kardeks pasien. Lihat kembali lembar persetujuan tindakan, riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan fisik, dan berbagai hasil pemeriksaan diagnostic.Pastikan bahwa alat protese dan barang berharga telah dilepas dan periksa kembali rencana keperawatan praoperatif yang berkaitan dengan rencana keperawatan intraoperatif.
2) Lakukan persiapan meja bedah dan sarana pendukung
Rasional : meja bedah spinal disesuaikan dengan posisi bedah yang akan dilakukan. Perawat sirkulasi melakukan pengujian setiap fungsi dari kemampuan meja bedah dan mempersiapkan kelengkapan pendukung seperti sabuk.Penahan lengan dari meja bedah dapat meningkatkan efektivitas dan efesiensi dalam peraturan posisi.
3) Pasang hasil pemeriksaan radiologi atau CT scan pada tempat lampu pemeriksaan
Rasional : penempatan hasil akan mempermudah ahli bedah dalam menyesuaikan intervensi intraoperatif
4) Siapkan alat hemostatasis dan alat cadangan dalam kondisi siap pakai
Rasional : alat hemostasis merupakan fondasi dari tindakan operasi untuk mencegah terjadinya pendarahan serius akibat kerusakan pembuluh darah arteri. Untuk menghindari cedera akibat perdarahan intraoperasi.
5) Siapkan obat-obatan untuk pemberian anestesi umum
Rasional : obat-obat anestesi yang dipersiapkan meliputi obat pelemas otot dan obat anestesi umum.
6) Siapkan sarana scrub
Rasional : sarana scrub, meliputi cairan antiseptic cuci tangan pada tempatnya, gaun (terdiri dari gaun kerap air dan baju bedah steril), duk penutup, dan duk berlubang dalam kondisi lengkap dan siap pakai.
7) Siapkan sarana pendukung pembedahan
Rasional : sarana pendukung seperti kateter urine lengkap, alat pengisap (suction) lengkap, spons dalam kondisi siap pakai.
8) Siapkan alat-alat intubasi endotrakeal
Rasional : intubasi endotrakeal digunakan untuk menjaga kepatenan dalan nafas intraoperasi.
9) Siapkan obat dan peralatan emergensi
Rasional : peralatan jalan nafas juga diperlukan termasuk laringoskopi, selang endotrakeal, dan jalan nafas oral dan nasal faringeal. Selain itu, masker dan kantong resusitasi self-inflating adalah alat penting yang harus mudah diakses.
10) Beri dukungan praanestesi
Rasional : hubungan emasional yang baik antara penata anestesi dan pasien akan memengaruhi penerimaan anestesi.
11) Lakukan pemberian indukasi anestesi secara intravena
Rasional : pemberian indikasi dilakukan sebagai suatu obat intravena pertama dengan tujuan umum menghambat saraf dan menyebabkan paralisis sementara pada pita suara dan otot pernafasan selama selang endotrakeal terpasang.
12) Lakukan pemasangan kateter urine
Rasional : kateter foley harus dipasang sebelum pasien diberi posisi telungkap. Gunakan teknik aseptic untuk pemasangan kateter. Cegah terjadinya tekukan atau tekanan pada kateter selama proses pemindahan tersebut. Periksa kepatenan system drainase setelah pemberian posisi.Catat keluaran urine dan pemasangan kateter.
13) Bantu ahli anestesi dalam pemasangan selang endotrakeal
Rasional : penata anestesi akan membantu melakukan penekanan tulang rawan krikoid (perasat sellick) dan menahan konektor saat perasat intubasi endotrakeal dilakukan oleh ahli anestesi.
14) Lakukan pemasangan manset tekanan darah dan monitor dasar, oksimetri pada jari, dan pertahankan kelancaran intravena
Rasional : stetoskop precordial dibiarkan menempel didada pasien, menyalurkan informasi mengenai gerakan mekanis jantung dan adanya bunyi nafas secara kontinu. Perubahan yang dapat dideteksi mencakup bising jantung, aksentuasi bunyi jantung kedua, dan denyut jantung yang abnormal.
15) Lakukan pemberian oksigenasi dan pemasangan selang endotrakeal
Rasional : pemasangan selang endotrakeal biasanya dilakukan diatas brankar. Penata anestasi akan membantu melakukan penekanan tulang rawan krikoid (perasat sellick) untuk menyumbat esophagus pada saat perasat endotrakeal dilakukan.
16) Lakukan manajemen asepsis prabedah
Rasional : manajemen asepsis selalu berhubungan dengan pembedahan dan perawatan perioperatif. Asepsis prebedah meliputi teknik aseptic atau pelaksanaan scrubbing cucui tangan.
17) Lakukan manajemen asepsis intraoperasi
Rasional : manajemen asepsis dilakukan untuk menghindari kontak dengan zona steril, meliputi pemakaian baju bedah, pemakaian sarung tangan, persiapan kulit, pemasangan duk, penyerahan alat yang diperlukan perawat instrument dengan perawat sirkulasi. Manajemen asepsis intraoperasi merupakan tanggung jawab perawat instrument dengan mempertahankan integritas lapangan steril selama pembedahan dan bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan kepada tim bedah seperti pelanggaran teknik aseptic atau kontaminasi yang terjadi selama pembedahan.
18) Lakukan peraturan posisi telentang dan perhatian kondisi lengan
Rasional : lengan pasien diputar ke papan lengan berbantalan, gerakkan berdasarkan ROM normal.
19) Lakukan persiapan alat bedah secara scrup
Rasional : persiapan alat setelah perawat melakukan scrup merupakan penatalaksanaan awal pembedahan sudah bisa dimulai.
20) Letakan alat insisi dan alat pengisap pada sisi area bedah
Rasional : peletakan alat insisi akan memudahkan ahli bedah dalam melakukan insisi
21) Lakukan peran perawat sirkulasi dalam mendukung pembedahan
Rasional : perawat sirkulasi memfokuskan aktivitas manajemen kamar operasi agar kelancaran pembedahan dapat dilakukan secara optimal sejak pengaturan posisi bedah sampai dokter bedah selesai melakukan penutupan luka bedah.
22) Bantu ahli bedah pada saat dimulainya insisi
Rasional : perawat instrument atau asisten bedah menggunakan alat hemostasis listrik pada klem arteri untuk menjepit atau menghentikan perdarahan.
23) Bantu ahli bedah pada saat membuka jaringan
Rasional : pada saat pembukaan jaringan, pasien mempunyai risiko cedera. Perawat asisten bedah membantu ahli bedah dengan membuka jaringan dengan forseps dengan hati-hati sambil mengikuti arahan ahli bedah.Perawat instrument menggunakan alat hemostatis untuk diarahkan ke forseps.
24) Optimalisasi peran perawat sirkulasi
Rasional : perawatan sirkulasi mendukung kebutuhan intraoperasi
25) Bantu ahli bedah pada saat akses bedah untuk pengangkatan massa pada payudara tercapai
Rasional : tujuan bedah onkologi payudara adalah mengangkat massa dari payudara. Peran perawat membantu ahli bedah agar tujuan bedah dapat optimal terlaksana.
26) Bantu ahli bedah dalam penutupan jaringan
Rasional :penutupan dilakukan lapis demi lapis sesuai arah atau jaringan yang telak dilakukan pembedahan. Perawat instrument menurunkan risiko cedera dengan mempersiapkan dan memiliki sarana penjahitan sesuai jaringan yang di jahit dan kondisi atau kelayakan instrument agar kerusakan jaringan dapat minimal.Penjahitan bisa dilakukan ahli bedah atau asisten bedah.
27) Lakukan penghitungan jumlah kasa dan instrument yang telah digunakan
Rasional : penghitungan yang tepat akan mencegah tertinggalnya kasa pada area bedah sehingga menurunkan risiko cedera pada pasien.
28) Lakukan penutupan luka bedah
Rasional : sebelumnya area bedah bekas darah dan lainnya dilakukan desinfeksi dan dibersihkan, perawat mengangkat duk dan kemudian luka ditutup dengan kasa dan diplester secara keseluruhan
29) Jaga jalan napas dan control kondisi status respirasi
Rasional : sebelum memindahkan pasien ke brankar untuk dikirim ke ruang pemulihan pascaanestesi, perawat tetap menjaga jalan napas dengan menjaga posisi kepala dan menahan dagu agar jalan napas tetap optimal.
30) Rapikan dan bersihkan instrument
Rasional : sebelum pasien dipindahkan ke ruang pulih sadar kondisi area bedah sudah bersih dari sisa pembedahan.
31) Lakukan dokumentasi intraoperasi
Rasional : catatan keperawatan intraoperatif diisi lengkap sebelum pasien dipindahkan ke ruang pulih sadar agar asuhan keperawatan yang diberikan berkesinambungan.
3.3 Proses Keperawatan Pascaoperatif Bedah Payudara
3.3.1 Di Ruang Pulih Sadar
Asuhan keperawatan pasca bedah payudara di ruang pulih sadar secara umum sama dengan asuhan keperawatan pascabedah dengan anesthesia umum lainnya. Pengkajian pascaanestesi dilakukan sejak pasien mulai dipindahkan dari kamar operasi ke ruang pemulihan.Pada saat memindahkan pasien yang berada diatas brankar, perawat mengkaji dan melakukan intervensi tentang kondisi jalan nafas, tingkat kesadaran, status vascular, sirkulasi dan perdarahan, serta suhu tubuh dari saturasi oksigen.Pengaturan posisi kepala pada saat pemindahan sangat penting dengan tetap menjaga kepatenan jalan napas.
3.3.2 Patofisiologi ke Masalah Keperawatan Pascabedah Payudara
Pasien pascabedah akan mengalami perubahan fisiologi sebagai efek dari anestesi dan intervensi bedah. Efek dari anestesi umum akan memberikan respons pada system respirasi dimana akan terjadi respons depresi pernapasan sekunder dari sisa anestesi inhalasi, penurunan kemampuan terhadap kontrolkepatenan jalan nafas dimana kemampuan memposisikan lidah secara fisiologi masih belum optimal, sehingga cenderung menutup jalan napas dan juga mengalami penurunan untuk melakukan batuk efektif dan muntah masih belum optimal. Kondisi ini memberikan manifestasi adanya masalah keperawatan jalan napas tidak efektif dan risiko pola nafas tidak efektif.
Efektif anestesi akan mempengaruhi mekanisme regulasi sirkulasi normal sehingga mempunyai risiko terjadinya penurunan kemampuan jantung dalam melakukan stroke volume efektif yang memberikan implikasi penurunan curah jantung. Efek intervensi bedah dengan adanya cedera vascular dan banyaknya jumlah volume darah yang keluar dari vascular memberikan dampak terjadinya penurunan perfusi perifer, perubahan elaktrolit dan metabolisme karena terjadi mekanisme kompensasi pengaliran suplai hanya untuk organ vital.Efek anestesi juga memengaruhi pusat pengatur suhu tubuh sehingga kondisi pascabedah pasien cenderung mengalami hipotermi.
Efek anestesi pada system saraf pusat akan memengaruhi penurunan control kesadaran dan kemampuan dalam orientasi pada lingkungan sehingga pada pasien yang mulai sadar biasanya gelisah. Kondisi penurunan reaksi anestetik akan bermanifestasi pada munculnya keluhan nyeri akibat kerusakan neuromuscular pascabedah. Pasien pascabedah cenderung mengalami kecemasan pascabedah sehubungan dengan ketidakmampuaan dan penurunan kemampuan adaptasi normal.
Efek anestesi juga memengaruhi terhambatnya jaras aferen dan eferen terhadap control miksi, sehingga memberikan implikasi masalah gangguan pemenuhan eliminasi urine.
Efek anestesi akan menimbulkan penurunan peristaltik usus dan memberikan implikasi peningkatan risiko paralisis usus dengan distensi otot-otot abdomen dan timbulnya gejala obstruksi gastrointestinal. Efek anestesi juga memengaruhi penurunan kemampuan pengosongan lambung, sehingga cenderung terjadinya refluks esophagus dan makanan keluar ke kerongkongan yang berindikasi terjadinya aspirasi makanan ke saluran napas.
Respons pengaturan posisi bedah akan menimbulkan peningkatan risiko terjadinya tromboembosis, parastesia, dan cedera tekan pada beberapa penonjolan tulang. Efek intervensi bedah akan meninggalkan adanya kerusakan integeritas jaringan dengan penurunan kontrol otot dan keseimbangan secara sadar sehingga pasien pascabedah mempunyai risiko tinggi cedera.
3.3.3 Pengkajian
Pengkajian pascaoperatif dilakukan secara sistematis mulai dari pengkajian awal saat menerima pesan, pengkajian status respirasi, status sirkulasi, status neurologi dan respon nyeri, status integritas kulit dan status genitourinarius.
Pengkajian awal pascabedah sebagai berikut :
1) Diagnosis medis dan jenis pembedahan yang dilakukan
2) Usia dan kondisi umum pasien, kepatenan jalan napas, tanda-tanda vital
3) Anestesi dan medikasi lain yang digunakan (misalnya narkotik, relaksan otot, antibiotic)
4) Segala masalah yang terjadi dalam ruang operasi yang mungkin memengaruhi perawatan pascaoperatif (misalnya hemoragi berlebihan, syok, dan henti jantung)
5) Patologi yang dihadapi ( jika malignansi, apakah pasien atau keluarga sudah diberitahukan).
6) Cairan yang diberikan, kehilangan darah, dan penggantian
7) Segera selang, drain, kateter, atau alat bantu pendukung lainnya.
8) Infomasi spesifik tentang siapa ahli bedah atau ahli anestesi yang akan diberitahu.
Status Respirasi
kontrol pernapasan
1) Obat anestesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernapasan. Sehingga perawat perlu waspada terhadap adanya pernapasan yang dangkal dan lambat, serta batuk yang lemah.
2) Perawat mengkaji frekuensi, irama, kedalaman ventilasi pernapasan, kesimetrisan gerakan dinding dada, bunyi napas, dan warna membrane mukosa. Apabila pernapasan dangkal, letakkan tangan perawat di atas muka atau mulut pasien sehingga perawat dapat merasakan udara yang keluar.
Kepatenan jalan napas
Jalan napas oral atau oral airway masih dipasang untuk mempertahankan kepatenan jalan napas sampai tercapai pernapasan yang nyaman dengan kecepatan normal. Apabila fungsi pernapasan sudah kembali normal, perawat mengajurkan pasien membersihkan jalan napas dengan cara meludah. Kemampuan melakukan hal tersebut menandakan kembalinya refleks muntah normal.
Status Sirkulasi
Pengkajian kecepatan denyut dan irama jantung yang teliti serta pengkajian tekanan darah menunjukkan status kardiovaskuler pasien.
Perawat membandingkan TTV praoperatif dengan pascaoperatif.Dokter harus memberitahu jika tekanan darah pasien terus menurun dengan cepat pada setiap pemeriksaan atau jika kecepatan denyut jantung menjadi semakin tidak teratur.
Status Neurologi
Perawat mengkaji tingkat kesadaran pasien dengan cara memanggil namanya dengan suara sedang. Perawat memperhatikan apakah pasien berespons dengan tepat atau terlihat bingung dan disorientasi. Apabila pasien tetap tidur atau tidak berespons, perawat mencoba mangkaji pasien dengan cara menyentuhnya atau menggerakkan bagian tubuh pasien dengan lembut. Perawat dapat memeriksa refleks pupil, refleks muntah dan mengkaji genggaman tangan serta pergerakan ekstermitas pasien.Kaji tingkat respons sensibilitas dengan membandingkan peta dermatom untuk menilai kembalinya fungsi sensasi taktil.
Pengkajian skala nyeri merupakan metode efektif bagi perawat untuk mengkaji nyeri pascaoperatif bedah spina, mengevalusi respons pasien terhadap pemberian analgesic, dan mendokumentasikan beratnya nyeri secara objektif.Pengkajian skala nyeri praoperatif digunakan sebagai dasar bagi perawat untuk mengevalusi efektifitas intervensi selama pemulihan pasien.
Muskuloskeletal
Kaji kondisi organ pada area yang rentan mengalami cedera posisi pascabedah.
3.3.4 Diagnosa Keperawatan
1) Risiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol pernapasan efek sekunder anestesi.
2) Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol kepatenan jalan napas (lidah), penurunan kontrol batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi, efek depresan dari medikasi dan agens anatesi.
3) Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal, perdarahan pascaoperatif, penurunan curah jantung, hipovolemia, pengumpulan darah perifer, dan vasokonstriksi.
4) Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital, kerusakan neuromuscular pascabedah.
5) Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama periode intraoperative
6) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek medikasi, dan penurunan masukan cairan
7) Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif, kemungkinan perubahan dalam gaya hidup, dan perubahan dalam konsep diri.
3.3.5 Intervensi Keperawatan
1) Risiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol pernapasan efek sekunder anestesi.
Tujuan : mengefektifkan jalan napas, mempertahankan ventilasi pulmonal, dan mencegah hipoksemia dan hiperkapnea
Kriteria Hasil :
a) Frekuensi pernapasan dalam batas normal (12-20x/menit)
b) Tidak menggunakan otot bantu napas
c) Tidak terdengar bunyi napas tambahan
d) Oral airway dapat dilepas tanpa komplikasi
Intervensi :
a) Atur tempat pasien dengan dekatkan pada akses oksigen dan suction
Rasional : pasien bisanya masih mendapat oksigenasi pemeliharaan sampai sadar penuh
b) Kaji dan observasi jalan napas
Rasional :salah satu cara untuk mengetahui apakah pasien bernapas atau tidak adalah dengan menempatkan telapak tangan diatas hidung dan mulut pasien untuk merasakan hembusan napas.
c) Pertahankan kepatenan jalan napas
Rasional :jalan napas oral atau airway tetap terpasang untuk mempertahankan kepatenan jalan napas sampai tercapai pernapasan yang nyaman dengan kecepatan normal.
d) Atur posisi kepala untuk mempertahankan jalan napas
Rasional :tindakan terhadap obstruksi hipofaringeus termasuk mendongakkan kepala ke belakang dan mendorong ke depan pada sudut rahang bawah, seperti jika mendorong gigi bawah di depan gigi atas.
e) Beri oksigen 30 liter/menit
Rasional : pemenuhan oksigen dapat membantu meningkatkan PaO2 di cairan otak yang akan memengaruhi peraturan pernapasan.
f) Bersihkan secret pada jalan napas
Rasional : kesulitan pernapasan dapat terjadi akibat sekresi lender yang berlebihan.
2) Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol kepatenan jalan napas (lidah), penurunan kontrol batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi, efek depresan dari medikasi dan agens anatesi.
Tujuan : pola napas kembali efektif sesuai dengan berkurangnya efek anestesi, umum dan pasien maupun melakukan latihan pernapasan pascabedah.
Kriteria Hasil :
a) Frekuensi pernapasan dalam batas normal (12-20x/menit)
b) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan
c) Saturasi oksigen 100%
d) Oral airway sudah bisa dilepas saat pasien keluar ruang pemulihan
Intervensi :
a) Kaji dan monitor control pernapasan
Rasional : obat anestesi tertentu dapat menyebabkan depresan pernapasan, oleh Karena itu perawat harus mewaspadai pernapasan yang dangkal dan larnbat serta batuk yang lemah
b) Monitor frekuensi, irama, kedalaman ventilasi pernapasan, kesimetrisan gerakan dinding dada, bunyi napas, dan warna membrane mukosa
Rasional : deteksi awal adanya perubahan terhadap kontrol pola pernapasan dari medulla oblongata untuk intervensi selanjutnya
c) Pastikan fungsi pernapasan sudah optimal
Rasional : tindakan evaluasi untuk menentukan dimulainya latihan pernapasan sesuai yang diajarkan pada saat praoperatif
d) Instruksikan pasien untuk napas dalam
Rasional :meningkatkan ekspansi paru, untuk memperbesar ekspansi dada dan pertukaran gas.
e) Instruksikan untuk melakukan batuk efektif
Rasional : batuk juga didorong untuk melonggarkan sumbatan mukus
3) Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal, perdarahan pascaoperatif, penurunan curah jantung, hipovolemia, pengumpulan darah perifer, dan vasokonstriksi.
Tujuan : dalam waktu 15 menit pascabedah perfusi perifer menjadi optimal
Kriteria Hasil :
a) Denyut nadi perifer teraba
b) Akral hangat
c) Pengisian kapiler < 3 detik
d) Tidak terlihat adanya sianosis sentral atau perifer
e) TTV dalam batas normal
f) Kulit perifer tidak pucat
g) Output urine 50 ml/jam
Intervensi :
a) Monitor tanda dan gejala penurunan perfusi jaringan
Rasional : monitor tanda dan gejala penurunan perfusi jaringan
b) Beri intervensi sesuai dengan penyebab penurunan perfusi
Rasional : beri intervensi sesuai dengan penyebab penurunan perfusi
c) Lakukan percepatan mobilisasi aktivitas
Rasional : lakukan percepatan mobilisasi aktivitas
4) Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital, kerusakan neuromuscular pascabedah.
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang atau beradaptasi
Kriteria Hasil :
a) TTV dalam batas normal
b) Nyeri di tingkat 0-1 atau skala 0-4
Intervensi :
a) Kaji kemampuan kontrol nyeri pasien
Rasional : banyak factor fisiologi memengaruhi persepsi nyeri
b) Kaji persiapan pengelolahan nyeri praoperatif
Rasional : persiapan praoperatif yang diterima oleh pasien adalah factor yang signifikan dalam menurunkan ansietas dan nyeri yang dialami dalam periode pascaoperatif.
c) Kaji skala nyeri
Rasional : skala nyeri pascaoperatif tergantung pada persepsi fisiologis dan psikologis individu, toleransi yang ditimbulkan untuk nyeri, letak insisi, sifat prosedur, dan kedalaman trauma bedah.
d) Lakukan manajemen nyeri keperawatan
i. Istirahatkan pasien
Rasional : istirahat secara fisiologis akan menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal
ii. Ajurkan teknik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri muncul
Rasional : meningkatkan asupan O2 sehingga menurunkan nyeri sekunder dari iskemia spina
iii. Ajurkan teknik distraksi pada saat nyeri
Rasional : Distraksi dapat menurunkan stimulus internal
iv. Manajemen lingkungan : lingkungan tenang, batasi penunjang dan istirahatkan pasien
Rasional : lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan. Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2 jaringan perifer
v. Lakukan manajemen sentuhan
Rasional : masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri
vi. Lakukan teknik stimulus perkutaneus
Rasional : salah satu metode distraksi untuk menstimulus pengeluaran endorphin-enkefalin yang berguna sebagai analgesic internal untuk memblok rasa nyeri
vii. Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung
Rasional : pengetahuan membantu mengurangi nyerinya dan mengembalikan kepatuhan pasien terhadap rencana terapeutik
e) Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgesic
Rasional : analgesic memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang.
5) Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama periode intraoperative
Tujuan :dalam waktu 3 x 24 jam fungsi peristaltic menjadi normal
Kriteria Hasil :
a) TTV dalam batas normal
b) Peristaltic usus normal
c) Pasien mampu BAB
Intervensi :
a) Kaji kemampuan Peristaltic setiap 4-8 jam
Rasional : penilaian bunyi bising usus merupakan parameter penting yang dilakukan perawat untuk mengetahui fungsi intestinal sudah optimal, untuk mendeteksi kembalinya bising usus normal.
b) Berikan asupan nutrisi dan tingkatan secara bertahap
Rasional : apabila Peristaltic sudah kembali, perawat memberikan cairan yang encer, dilanjutkan dengan cairan yang kental, diet ringan makanan padat, dan akhirnya diberikan diet regular.
c) Lakukan dan tingkatan ambulasi dan latihan
Rasional : aktifitas fisik merangsang kembalinya Peristaltic.
d) Pertahankan asupan cairan yang adekuat
Rasional : cairan menjaga feses tetap lembut sehingga mudah dikeluarkan.
e) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat supositoria
Rasional : apabila terjadi konstipasi atau disentri, dokter mencoba merangsang Peristaltic melalui katartik atau edema. Selang rektal atau enema aliran balik meningkatkan keluarnya flatus.
6) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek medikasi, dan penurunan masukan cairan
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam pasien mampu berkemih tanpa bantuan kateter
Kriteria Hasil : pasien mampu berkemih secara spontan dan tanpa bantuan selang kateter
Intervensi :
a) Monitor output dan system drainese kateter
Rasional : pascabedah, pasien masih terpasang kateter folley. Perawat memeriksa jumlah output dan kelancaran drainase dari kateter
b) Monitor input dan output cairan tiap 4 jam
Rasional : pasien mudah mengalami drainase akibat cairan yang hilang dari luka bedah
7) Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif, kemungkinan perubahan dalam gaya hidup, dan perubahan dalam konsep diri.
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam tingkat kecemasan pasien berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :
a) Pasien menyatakan kecemasan berkurang
b) Pasien mampu mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya
c) Pasien kooperatif terhadap tindakan
d) Wajah rileks
Intervensi :
a) Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, damping pasien dan lakukan tindakan bila menunjukan perilaku merusak
Rasional : reaksi verbal/non verbal dapat menunjukan rasa agitasi, marah dan gelisah yang akan memengaruhi posisi pasien pada brankar sehingga mempunyai risiko jatuh.
b) Hindari konfrontasi
Rasional : konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja sama, dan memperlambat penyembuhan.
c) Tingkatkan kontrol sensasi pasien
Rasional : kontrol sensasi pasien dengan cara memberikan informasi tentang keadaan pasien, menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping yang positif, membantu latihan relaksasi dan teknik-teknik pengalihan, dan memberikan respons balik positif.
d) Orientasikan pasien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
Rasional : Orientasikan dapat menurunkan kecemasan
3.3.6 Evaluasi Keperawatan Pascaoperatif
Evalusasi yang diharapkan pada pasien pascoperatif bedah payudara adalah sebagai berikut :
1) Kembalinya fungsi fisiologis pada seluruh system secara normal
2) Tidak terjadi cedera pada korda
3) Tidak terjadi komplikasi pascabedah
4) Dapat beristirahat dan memperoleh rasa nyaman
5) Hilangnya rasa cemas.
BAB 4
RESUME
4.1 Kesimpulan
Pembedahan onkologi pada payudara merupakan indikasi dari adanya kondisi kelainan akibat adanya pembesaran atau benjolan pada payudara. Pada proses pembedahan onkologi ini di bagi menjadi berapat tahap yaitu
1) Proses Keperawatan Praoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara,
2) Proses Keperawatan Intraoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara,
3) Proses Keperawatan Pascaoperatif Bedah Onkologi Pada Payudara.
DAFTAR PUSTAKA
Dalimartha, Setiawan. 2004. Deteksi Dini Kanker dan Simplisia Anti Kanker.Jakarta : Penebar Swadaya
Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif. Jakarta : Selemba Medika
Sjamsuhidayat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.Jakarta : EGC
Tjindarbumi, D. 2002. Deteksi Dini Kanker Payudara dan Penanggulangannya dalam Deteksi Dini Kanker.Jakarta : FK UI
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kandungan.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
makalah komunikasi terapeutik
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap orang pasti menggunakan komunikasi dalam setiap hubungan, dimana keterampilan berkomunikasi memegang peranan yang penting dalam melaksanakan tugas kita sehari – hari maupun bagi kehidupan.Namun komunikasi yang digunakan perawat bukan lah komunikasi yang sembarangan di mana komunikasi tersebut merupakan komunikasi professional dan bertujuan untuk menyembuhkan pasien yang disebut dengan komunikasi terapeutik. Dari kata Komunikasi yang berarti suatu proses pertukaran ide, perasaan, dan pikiran antara dua orang atau lebih yang bertujuan untuk terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku. Sedangkan terapeutik adalah segala sesuatu yang menfasilitasi proses penyembuhan. Jadi komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan/pemulihan pasien.Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional bagi perawat. Kemampuan perawat untuk berkomunikasi memengaruhi penilaian pasien terhadap perawat dan juga memengaruhi apa yang perawat rasakan tentang diri perawat sendiri.
Setiap intervensi apa pun itu yang dibuat oleh perawat dilaksanakan dengan menggunakan komunikasi terapeutik. Teknik komunikasi terapeutik merupakan keterampilan perawat yang harus dipelajari dan dilatih setiap saat. Saat berkomunikasi dengan pasien, perawat perlu menganalisa siapa yang akan diajak berkomunikasi, di mana ketika berinteraksi dengan pasien anak remaja tidak akan sama teknik komunikasinya dengan pasien lansia, pasien jiwa maupun dengan pasien yang dalam keadaan terminal condition.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari komunikasi terapeutik ?
2. Apa tujuan dari komunikasi terapeutik ?
3. Apa manfaat dari komunikasi terapeutik ?
4. Apa syarat-syarat dari komunikasi terapeutik ?
5. Apa perbedaan dari komunikasi terapeutik dengan komunikasi sosial ?
6. Apa prinsip-prinsip dari komunikasi terapeutik ?
7. Bagaimana sikap komunikasi terapeutik ?
8. Berapa klasifikasi dari umur lansia ?
9. Bagaimana prinsip komunikasi untuk lansia ?
10. Bagaimana komunikasi verbal dan non verbal ?
11. Bagaimana komunikasi terapeutik pada lansia dengan masalah fisik maupun mental ?
12. Bagaimana tehnik komunikasi pada lansia ?
13. Bagaimana penerapan model komunikasi pada lansia ?
14. Apa saja hambatan dari berkomunikasi dengan lansia ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari komunikasi terapeutik
2. Untuk mengetahui pengertian dari komunikasi terapeutik
3. Untuk mengetahui manfaat komunikasi terapeutik
4. Untuk mengetahui syarat-syarat apa saja pada komunikasi terapeutik
5. Untuk mengetahui perbedaan dari komunikasi terapeutik dengan komunikasi sosial
6. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dari komunikasi terapeutik
7. Untuk mengetahui bagaimana sikap komunikasi terapeutik
8. Untuk mengetahui klarifikasi umur lansia
9. Untuk mengetahui prinsip komunikasi untuk lansia
10. Untuk mengetahui komunikasi verbal dan non verbal
11. Untuk mengetahui bagaimana komunikasi terapeutik pada lansia dengan masalah fisik maupun mental
12. Untuk mengetahui bagaimana tehnik komunikasi pada lansia
13. Untuk mengetahui penerapan model komunikasi pada lansia
14. Untuk mengetahui hambatan apa saja saat berkomunikasi dengan lansia
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik
Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby dalam Intan, 2005). Maka disini dapat diartikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang menfasilitasi proses penyembuhan. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan/pemulihan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional bagi perawat.
2.2 Tujuan Komunikasi Terapeurik
Dengan memiliki keterampilan komunikasi terapeutik, perawat akan lebih mudah menjalani hubungan saling percaya dengan klien, sehingga akan lebih efektif dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan yang telah diterapkan, memberi kepuasan professional dalam pelayanan keperawatan dan akan meningkatkan profesi.
Tujuan komunikasi terapeutik (Purwanto, 1994) adalah :
1) Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
2) Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
3) Memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan dirinya sendiri.
2.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat komunikasi terapeutik (Christian, dkk.,2003) mengatakan ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi terapeutik efektif :
1) Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dengan pasien melalui hubungan perawat – klien.
2) Mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, dan mengkaji masalah dan mengevalusi tindakan yang dilakukan oleh perawat.
2.4 Syarat-syarat Komunikasi Terapeutik
Stuart dan Sundeen (dalam Christina, dkk.,2003) mengatakan ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi terapeutik efektif :
1) Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberian maupun penerima pesan.
2) Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana, informasi maupun masukan.
Persyaratan – persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan perawat-klien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan.
Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering.
2.5 Perbedaan Komunikasi Terapeutik Dengan Komunikasi Social
Perbedaan komunikasi terapeutik dengan komunikasi social (Purwanta, 1994) :
Komunikasi terapeutik :
1) Terjadi antara perawat dengan pasien atau anggota tim kesehatan lainnya.
2) Komunikasi ini umumnya lebih akrab karena mempunyai tujuan, berfokus pada pasien yang membutuhkan bantuan.
3) Perawat secara aktif mendengarkan dan memberi respon kepada pasien dengan cara menunjukan sikap mau menerima dan mau memahami sehingga dapat mendorong pasien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya. Selain itu membantu pasien untuk melihat dan memperhatikan apa yang tidak disadari sebelumnya.
Komunikasi social :
1) Terjadi setiap hari antar - orang perorang baik dalam pergaulan maupun lingkungan kerja.
2) Komunikasi bersifat dangkal karena tidak mempunyai tujuan.
3) Lebih banyak terjadi dalam perkerjaan, aktivitas social, dan lain-lain.
4) Pembicara tidak mempunyai focus tertentu tetapi lebih mengarah kebersamaan dan rasa senang.
5) Dapat direncanakan tetapi dapat juga tidak direncanakan.
2.6 Prinsip-prinsip Komunikasi Terapeutik
Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Purwanto, 1994) adalah :
1) Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.
2) Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling menghargai.
3) Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.
4) Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut.
5) Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
6) Perawat harus mampu menguasahi perasaan sendiri secara bertahap untuk menguasahi dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan maupun frustasi.
7) Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.
8) Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik.
9) Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.
10) Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan sesuatu keadaan sehat fisik mental, spiritual, dan gaya hidup.
11) Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap mengganggu.
12) Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.
13) Berpegangan pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.
14) Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.
2.7 Sikap Komunikasi Terapeutik
Egan (dalam Keliat, 1992), mengidentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik, yaitu :
a. Berhadapan ;
Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda.
b. Mempertahankan kontak mata ;
Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginaan untuk tetap berkomunikasi.
c. Membungkuk kearah klien ;
Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu.
d. Memperlihatkan sikap terbuka ;
Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu.
e. Tetap rileks ;
Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien, meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan.
2.8 Klarifikasi umur lansia
Menurut WHO, batasan umur seseorang yang tergolong lanjut usia (lansia) adalah sebagai berikut :
Middle age : 45 – 59 tahun
Elderly (lansia) : 60 – 70 tahun
Old (lansia tua) : 75 – 90 tahun
Very Old (lansia sangat tua) : >90 tahun
2.9Prinsip Komunikasi untuk Lansia
Prinsip komunikasi untuk lansia (Ebersole dan Hess dalam Brunner dan Siddarth, 1996) adalah :
1) Menjaga agar tingkat kebisingan minimum.
2) Menjadi pendengar yang setia, sediakan waktu untuk mengobrol.
3) Menjamin alat bantu dengar yang berfungsi dengan baik (periksa baterai).
4) Yakinkan bahwa kacamata bersih dan pas.
5) Jangan berbicara dengan keras atau berteriak, bicara langsung dengan telinga yang dapat mendengar dengan lebih baik. Berdiri di depan klien.
6) Pertahankan penggunaan kalimat yang pendek dan sederhana.
7) Beri kesempatan pada klien untuk mengenang.
8) Mendorong keikutsertaan dalam aktivitas sosial seperti perkumpulan orang tua, kegiatan rohani.
9) Membuat rujukan pada terapi wicara dan kegiatan sosial sesuai kebutuhan.
10) Berbicara pada tingkat pemahaman klien.
11) Selalu menanyakan respons, terutama ketika mengajarkan suatu tugas atau keahlian.
2.10 Komuikasi Verbal dan Non Verbal
Komunikasi verbal dan non verbal yang digunakan untuk berkomunikasi dengan lansia antara lain :
1) Saling mengenalkan nama dan jabat tangan, panggil klien dengan sapaan hormat dan nama panggilan lengkap.
2) Gunakan sentuhan untuk memperkuat pesan verbal dan komunikasikan non verbal.
3) Menjelaskan tujuan dari pertemuan, diskusikan hanya satu topik.
4) Dimulailah dengan pertanyaan yang sederhana dan gunakan bahasa yang sering digunakan oleh klien secara singkat dan terstruktur.
5) Gunakan pertanyaan terbuka – tertutup dan ciptakan suasana yang nyaman.
6) Klarifikasi pesan secara periodik, validasikan apakah klien sudah mengerti dengan maksud perawat.
7) Pertahankan kontak mata, tingkatkan perhatian, dan mendorong untuk memberi informasi yang jelas.
8) Bersikaplah empati, jaga selalu privasi klien.
9) Mintalah izin sebelum menanyakan status mental, memori dan kemampuan yang lain.
10) Tuliskan perintah atau hal – hal penting untuk diingat.
2.11 Komunikasi Terapeutik pada Lansia dengan Masalah Fisik Maupun Mental
2.11.1 Lansia dengan Gangguan Pendengaran :
a) Berdiri dekat menghadap klien.
b) Bertanya diarahkan pada telinga yang lebih baik.
c) Berikan perhatian dan tunjukkan wajah saudara.
d) Tegurlah nama sebelum pembicaraan dimulai.
e) Gunakan pembicaraan yang keras, jelas, pelan, dan diarahkan langsung pada klien.
f) Hindari pergerakan bibir yang berlebihan.
g) Hindari memalingkan kepala, tidak berbalik atau berjalan saat bicara.
h) Jika klien belum memahami, ulangi dengan menggunakan kata – kata yeng berbeda.
i) Membatasi kegaduhan lingkungan.
j) Gunakan tekanan suara yang sesuai.
k) Berilah instruksi sederhana untuk mengevaluasi pembicaraan.
l) Hindari pertanyaan tertutup, gunakan kalimat pendek saat bertanya.
m) Gunakan bahasa tubuh yang sesuai dengan isi komunikasi.
2.11.2 Lansia dengan tidak dapat mendengar (deaf) :
Hampir sama dengan klien yang mengalami gangguan pendengaran, tetapi ditambah dengan beberapa teknik, yaitu :
a) Menulis pesan jika klien dapat membaca.
b) Gunakan media (gambar) untuk membantu komunikasi.
c) Pernyataan dan pertanyaan yang singkat.
d) Gunakan berbagai macam metode untuk menyampaikan pesan, contoh : body language.
e) Sempatkanlah waktu bersama klien.
2.11.3 Lansia dengan gangguan penglihatan :
a) Perkenalkan diri, dekati klien dari depan.
b) Jelaskan kondisi tempat dan orang yang ada.
c) Bicaralah pada saat Anda mau meninggalkan tempat.
d) Pada saat saudara berbicara pastikan klien tahu tempat saudara.
e) Katakan pada klien apa yang dapat mebantunya seperti lampu, membacakan.
f) Biarkan klien memegang tangan saudara sebagai petunjuk dan jelaskan apa yang sedang saudara kerjakan.
g) Jelaskan jalan – jalan apa bisa dilalui oleh klien.
h) Sanjunglah kemampuan beradaptasi dan kemandirian klien.
2.11.4 Lansia dengan Afasia
Afasia merupakan gangguan fungsi bahasa yang disebabkan cidera atau penyakit pusat otak. Ini termasuk gangguan kemampuan membaca dan menulis dengan baik, demikian juga bercakap – cakap, mendengar, berhitung, menyimpulkan dan pemahaman terhadap sikap tubuh. Dimana penyebab afasia pertama adalah stroke, cedera kepala, dan tumor otak (Brunner dan Siddart, 2001).
Teknik Komunikasi yang digunakan adalah :
a) Menghadap ke pasien dan membuat kontak mata.
b) Sabar dan meluangkan waktu.
c) Harus jujur, temasuk ketika kita belum memahami perkataannya.
d) Tanyakan teknik dan alat yang terbaik untuk komunikasi, gunakan sikap tubuh, gambar dan objek atau media lain yang dapat membantu untuk menjawab keinginanya.
e) Dipersilahkan lansia menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
f) Dorong lansia untuk menulis dan mengekspresikannya dan berikan kesempatan untuk membaca dengan keras.
g) Gunakan gerakan isyarat terhadap objek pembicaraan jika mampu meningkatkan pemahaman.
h) Gunakan sentuhan untuk memfokuskan pembicaraan, meningkatkan rasa aman.
2.11.5 Lansia dengan penyakit Alzheimer :
Penyakit Alzheimer (AD) kadang disebut sebagai demensia degeneratif primer atau demensia senil jenis Alzheimer (SDAT) merupakan penyakit neurologis degeneratif, progresif, ireversibel, yang muncul tiba – tiba dan ditandai dengan penurunan bertahap fungsi kognitif dan gangguan perilaku dan efek (Brunner dan Siddart, 2001).
Keadaan yang terjadi pada pasien yang menderita Alzheimer diantaranya terjadi keadaan mudah lupa dan kehilangan ingatan bahkan klien dapat kehilangan kemampuannya mengenal wajah, tempat, dan objek yang sudah dikenalnya serta kehilangan suasana kekeluargaannya. Perubahan kepribadian biasanya negatif. Pasien dapat menjadi depresif, curiga, paranoid, kasar, dan bahkan kejam. Kemampuan berbicara buruk sampai pembentukan suku kata yang tidak masuk akal. Perawatan diri memerlukan bantuan, termasuk makan dan toileting.
Teknik komunikasi yang digunakan adalah :
a) Selalu berkomunikasi dari depan lansia.
b) Bicaralah dengan cara dan nada yang normal.
c) Bertatap muka.
d) Minimalkan gerakan tangan.
e) Menghargai dan pertahankan jarak.
f) Cegah setting ruangan yang memberikan stimulasi yang banyak.
g) Pertahankan kontak mata dengan senyum.
h) Ikuti langkah klien dan bicaralah padanya.
i) Bertanyalah hanya dengan satu pertanyaan.
j) Mengangguklah dan tersenyum bila memahami perkataannya
2.11.6 Lansia yang menunnjukkan kemarahan :
a) Klarifikasi penyebab marah yang terjadi.
b) Bantu dan dorong klien mengungkapkan marah dengan konstruktif.
c) Gunakan pertanyaan terbuka.
d) Luangkan waktu setiap hari bersama klien.
e) Puji dan dukung setiap usaha dari klien.
2.11.7 Lansia yang mengalami kecemasan :
a) Dengarkan apa yang dibicarakan klien.
b) Berikan penjelasan secara ringkas dan jelas apa yang terjadi.
c) Identifikasi bersama klien sumber – sumber yang menyebabkan ketegangan atau keemasan.
d) Libatkan staf dan anggota keluarga.
2.11.8 Lansia yang menunjukkan penolakan :
a) Kemukakan kenyataan perlahan lahan.
b) Jangan menyokong penolakan klien.
c) Bantu klien mengungkapkan keresahan atau perasaan sedihnya.
d) Libatkan keluaraga.
2.11.9 Lansia yang mengalami depresi :
a) Lakukan kontak sesering mungkin.
b) Beri perhatian terus – menerus.
c) Libatkan klien dalam menolong dirinya sendiri.
d) Gunakan pertanyaan terbuka.
e) Libatkan staf dan anggota dalam memberikan perhatian
2.12 Teknik Komunikasi Pada Lansia
Untuk dapat melaksanakan komunikasi yang efektif kepada lansia, selain pemahaman yang memadahi tentang karakteristik lansia, petugas kesehatan/perawat juga harus mempunyai tehnik-tehnik khusus agar komunikasi yang dilakukan dapat berlangsung lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Beberapa tehnik komunikasi yang dapat diterapkan antara lain :
2.12.1 Tehnik Asertif
Asertif adalah sikap yang dapat menerima, ,memahami pasangan bicara dengan menunjukan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan dan memperhatikan ketika pasangan berbicara agar maksud komunikasi atau pembicaraan dapar dimengerti. Asertif merupakan pelaksanaan dan etika berkomunikasi. Sikap ini akan sangat membantu petugas kesehatan untuk menjaga hubungan yang terapeutik dengan klien lansia.
2.12.2 Responsif
Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien merupakan bentuk perhatian petugas kepada klien. Ketika perawat mengetahui adanya perubahan sikap atau kebiasaan klien sekecil apapun hendaknya segera menanyakan atau klarifikasi tentang perubahan tersebut, misalnya dengan mengajukan pertanyaan, “apa yang sedang bapak/ibu fikirkan saat ini? Apa yang bisa saya bantu ?”. berespon berarti bersikap aktif, tidak menunggu permintaan bantuan dari klien. Sikap aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan perasaan tenang bagi klien.
2.12.3 Focus
Sikap ini merupakan upaya perawat untuk tetap konsisten terhadap materi komunikasi yang diinginkan. Ketika klien mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan diluar materi yang diinginkan, maka perawat hendaknya mengarahkan maksud pembicaraan. Upaya ini perlu diperhatikan karena umumnya klien lansia senang menceritakan hal-hal yang mungkin tidak relevan untuk kepentingan petugas kesehatan.
2.12.4 Supportif
Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun psikis secara bertahap menyebabkan emosi klien relative menjadi labil. Perubahan ini perlu disikapi dengan menjaga kestabilan emosi klien lansia, misalnya dengan mengiyakan, senyum dan mengangguk kepala ketika lansia mengungkapkan perasaan nya sebagai sikap hormat dan menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak merasa menjadi beban bagi kluarganya, dengan demikian klien diharapkan termotivasi untuk mandiri dan berkarya sesuai kemampuannya. Selama memberi dukungan baik secara materiil maupun moril, petugas kesehatan jangan sampai terkesan menggurui atau mengajari klien karena ini dapa merendahkan kepercayaan klien kepada perawat atau petugas kesehatan lainnya. Ungkapan-ungkapan yang bisa memberi motivasi, meningkatkan kepercayaan diri klien tanpa terkesan menggurui atau mengajari misalnya : “ saya yakin bapak/ibu llebih berpengalaman dari saya, untuk itu kami yakin bapak/ibu mampu melaksanakan ………dan bila diperlukan kami siap membantu”.
2.12.5 Klarifikasi
Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering proses komunikasi tidak berlangsung dengan lancar. Klarifikasi dengan cara mengajukan pertanyaan ulang dan memberi penjelasan lebih dari satu kali perlu dilakukan oleh perawat agar maksud pembicaraan kita dapat diterima dan dipersepsikan sama oleh klien. “ bapak/ibu bisa menerima apa yang saya sampaikan tadi ? bisa minta tolong bapak/ibu untuk menjelaskan kembali apa yang saya sampaikan tadi ?”.
2.12.6 Sabar dan Ikhlas
Seperti diketahui sebelumnya bahwa klien lansia umumnya mengalami perubahan-perubahan yang terkadang merepotkan dan kekanak-kanakan. Perubahan ini bila tidak disikapi dengan sabar dean ikhlas dapat menimbulkan perasaan jengkel bagi perawat sehingga komunikasi yang dilakukan tidak terapeutik, solutif, namun dapat berakibat komunikasi berlangsung emosional dan menimbulkan kerusakan hubungan antara klien dengan petugas kesehatan.
2.13 Penerapan Model Komunikasi Pada Lansia
2.13.1 Model Komunikasi Shannon Weaver
Tujuan komunikasi pada lansia dengan reaksi penolakan adalah adanya perubahan perilaku lansia dari penolakan menjadi kooperatif. Dalam komunikasi ini diperlukan keterlibatan anggota keluarga sebagai transmitter untuk mengenal lebih jauh tentang klien.
Kelebihan : dalam komunikasi ini melibatkan anggota keluarga atau orang lain yang berpengaruh.
Kekurangan : memerlukan waktu yang cukup lama karena klien dalam reaksi penolakan. Tak dapat melakukan evaluasi sejauhmana perubahan perilaku yang terjadi pada klien, karena tidak ada feed back.
2.13.2 Model SMCR
Kelebihan : proses komunikasi yang terjadi pada model ini relative simple. Model ini akan efektif bila kondisi lansia masih sehat, belum banyak mengalami penurunan baik aspek fisik maupun psikis.
Kekurangan : klien tidak memenuhi syarat seperti yang ditetapkan mempunyai ketrampilan, pengetahuan, sikap, system sosial dan kultur, karena penolakannya. Memerlukan proses yang lama dan tergantung kodisi klien lansia.
2.13.3 Model Leary
Model ini diantar individu saling mempengaruhi dan dipengaruhi dimana respon seseorang dipengaruhi oleh bagaimana orang tersebut diperlakukan. Oleh karena itu dalam berkomunukasi dengan lansia harus hati-hati, jangan sampai menyinggug perasaan nya. Dalam berkomunikasi dengan klien lansia seorang perawat diharapkan pada rentang love yang banyak karena sifat sosial perawat sangat dibutuhkan oleh lansia. Lansia membutuhkan perhatian yang lebih dalam berkomunikasi, untuk mengungkapkan perasaannya. Diharapkan perawat harus lebih banyak mendengar apa yang diungkapkan.
Kelebihan : terjadi interaksi atau hubungan relationship hubungan perawat klien lebih dekat sehingga masalah lebih dapat terselesaikan.
Kelemahan : perawat lebih dominan dan klien lansia patuh.
2.13.4 Model Terapeutik
Model ini membantu mendorong melaksanakan komunikasi dengan empati menghargai dan harmonis. Dimana dibutuhkan kondisi empati, kesesuaian dan penghargaan. Lansia dengan penolakan sulit bagi kita melaksanakan empati. Kita tidak boleh menyongkong penolakan tetapi berikan perawatan yang cocok dan berbicara sesering mungkin, jangan sampai menolak.
Kelebihan : dengan tehnik komunikasi yang baik lansia akan lebih paham apa yang kita bicarakan, koping nya lebih efektif.
Kelemahan : kondisi empati kurang cocok diterapkan oleh perawat untuk perawat lansia dengan reaksi penolakan.
2.13.5 Model Keyakinan Kesehatan
Menekankan pada persepsi klien untuk mencari sehat, menjauhi sakit, merasakan adanya ancaman atau manfaat untuk mempertahankan kesehatannya, sehingga dalam berkomunikasi dengan lansia denga reaksi penolakan diperlukan motivasi yang kuat.
Kelebihan : lansia yag mengetahui adanya ancaman kesehatan akan dapat bermanfaat dan sebagai barier dalam melaksanakan tindakan pencegahan penyakit
Kelemahan : tidak semua lansia merasakan adanya ancaman kesehatan.
2.13.6 Model Komunikasi Kesehatan
Komunikasi yang berfokus pada transaksi antara professional kesehatan klien yang sesuai dengan permasalahan kesehatan klien. Pandangan sistim komunikasi lebih luas yang mencakup 3 faktor mayor : relationship, transaksi dan konteks.
Relationship
Perawat professional mengadakan komunikasi dengan klien lansia haruslah menggunakan ilmu psikososial dan tehnik komunikasi dimana perawat haruslah ramah, rapi, bertanggung jawab, tidak sembrono mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan klien lansia sehingga terjalin hubungan saling percaya. Klien lansia dalam berkomunikasi kadang emosinya labil, ingin disanjung da tidak mau dibantah. Dalam mengadakan hubungan transaksi hendaknya seorang perawat professional mengetahui permasalahan yang dihadapi klien lansia tersebut. Kemudian bersama-sama menyelesaikan masalah.
Transaksi
Dalam berkomunikasi dengan lansia hendaknya disepakati untuk menyelesaikan masalah klien bukan unruk hal lain. Pada lansia dengan reaksi penolakan harus hati-hati mencari informasi dari klien, memberikan feed back baik verbal maupun non verbal dan hendaknya secara berkesinambungan.
Konteks
Perawat professional harus mengetahui situasi dan permasalahan yang dihadapi klien. Apabila masalah bersifat individu haruslah diselesaikan secara individu dengan tidak mengabaikan tempat/ruangan dan jenis pelayanan apa yang digunakan. Apabila masalah bersifat umum/kelompok harus diselesaikan secara kelompok.
Kelebihan : dapat menyelesaikan masalah klien lansia dengan tuntas, klien lansia merasa sangat diperhatikan.
Kelemahan : membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan permasalahan fasilitas daam memberikan pelayanan harus lengkap.
2.13.7 Model Interaksi King
Pada model ini intinya adalah kesepakatan sebelum mengadakan interaksi dengan klien lansia. Perawat harus mempunyai persepsi secara ilmiah tentang hal-hal yang akan dikomunikasikan. Persepsi ini kemudian disepakati dengan klien sehingga dapat terjadi suatu aksi yang menyebabkan terjadinya reaksi-interaksi dan transaksi.
Kelebihan : komunikasi dapat sesuai dengan tujuan jika lansia sudah kooperatif.
Kelemahan : klien lansia dengan reaksi penolakan akan mengalami kesulitan untuk dilakukan komunikasi model ini karena tidak kooperatif.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Komunikasi pada lansia tidaklah begitu sulit dibutuhkan teknik-teknik tersendiri untuk melakukan komunikasi pada lansia banyak hal-hal yang harus diperhatikan diantaranya :
a) Teknik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik.
b) Teknik untuk wawancara.
c) Kendala dan hambatan dalam komunikasi.
d) Mood dan privasi
e) Aspek-aspek yang harus diperhatikan.
Daftar pustaka
Damaiyanti, Mukharipah.2008. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan.Bandung : PT Refika Aditama
http://elista-sunshine.blogspot.com/2012/01/komunikasi-terapeutik-pada-lansia.html
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap orang pasti menggunakan komunikasi dalam setiap hubungan, dimana keterampilan berkomunikasi memegang peranan yang penting dalam melaksanakan tugas kita sehari – hari maupun bagi kehidupan.Namun komunikasi yang digunakan perawat bukan lah komunikasi yang sembarangan di mana komunikasi tersebut merupakan komunikasi professional dan bertujuan untuk menyembuhkan pasien yang disebut dengan komunikasi terapeutik. Dari kata Komunikasi yang berarti suatu proses pertukaran ide, perasaan, dan pikiran antara dua orang atau lebih yang bertujuan untuk terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku. Sedangkan terapeutik adalah segala sesuatu yang menfasilitasi proses penyembuhan. Jadi komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan/pemulihan pasien.Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional bagi perawat. Kemampuan perawat untuk berkomunikasi memengaruhi penilaian pasien terhadap perawat dan juga memengaruhi apa yang perawat rasakan tentang diri perawat sendiri.
Setiap intervensi apa pun itu yang dibuat oleh perawat dilaksanakan dengan menggunakan komunikasi terapeutik. Teknik komunikasi terapeutik merupakan keterampilan perawat yang harus dipelajari dan dilatih setiap saat. Saat berkomunikasi dengan pasien, perawat perlu menganalisa siapa yang akan diajak berkomunikasi, di mana ketika berinteraksi dengan pasien anak remaja tidak akan sama teknik komunikasinya dengan pasien lansia, pasien jiwa maupun dengan pasien yang dalam keadaan terminal condition.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari komunikasi terapeutik ?
2. Apa tujuan dari komunikasi terapeutik ?
3. Apa manfaat dari komunikasi terapeutik ?
4. Apa syarat-syarat dari komunikasi terapeutik ?
5. Apa perbedaan dari komunikasi terapeutik dengan komunikasi sosial ?
6. Apa prinsip-prinsip dari komunikasi terapeutik ?
7. Bagaimana sikap komunikasi terapeutik ?
8. Berapa klasifikasi dari umur lansia ?
9. Bagaimana prinsip komunikasi untuk lansia ?
10. Bagaimana komunikasi verbal dan non verbal ?
11. Bagaimana komunikasi terapeutik pada lansia dengan masalah fisik maupun mental ?
12. Bagaimana tehnik komunikasi pada lansia ?
13. Bagaimana penerapan model komunikasi pada lansia ?
14. Apa saja hambatan dari berkomunikasi dengan lansia ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari komunikasi terapeutik
2. Untuk mengetahui pengertian dari komunikasi terapeutik
3. Untuk mengetahui manfaat komunikasi terapeutik
4. Untuk mengetahui syarat-syarat apa saja pada komunikasi terapeutik
5. Untuk mengetahui perbedaan dari komunikasi terapeutik dengan komunikasi sosial
6. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dari komunikasi terapeutik
7. Untuk mengetahui bagaimana sikap komunikasi terapeutik
8. Untuk mengetahui klarifikasi umur lansia
9. Untuk mengetahui prinsip komunikasi untuk lansia
10. Untuk mengetahui komunikasi verbal dan non verbal
11. Untuk mengetahui bagaimana komunikasi terapeutik pada lansia dengan masalah fisik maupun mental
12. Untuk mengetahui bagaimana tehnik komunikasi pada lansia
13. Untuk mengetahui penerapan model komunikasi pada lansia
14. Untuk mengetahui hambatan apa saja saat berkomunikasi dengan lansia
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik
Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby dalam Intan, 2005). Maka disini dapat diartikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang menfasilitasi proses penyembuhan. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan/pemulihan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional bagi perawat.
2.2 Tujuan Komunikasi Terapeurik
Dengan memiliki keterampilan komunikasi terapeutik, perawat akan lebih mudah menjalani hubungan saling percaya dengan klien, sehingga akan lebih efektif dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan yang telah diterapkan, memberi kepuasan professional dalam pelayanan keperawatan dan akan meningkatkan profesi.
Tujuan komunikasi terapeutik (Purwanto, 1994) adalah :
1) Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
2) Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
3) Memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan dirinya sendiri.
2.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat komunikasi terapeutik (Christian, dkk.,2003) mengatakan ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi terapeutik efektif :
1) Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dengan pasien melalui hubungan perawat – klien.
2) Mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, dan mengkaji masalah dan mengevalusi tindakan yang dilakukan oleh perawat.
2.4 Syarat-syarat Komunikasi Terapeutik
Stuart dan Sundeen (dalam Christina, dkk.,2003) mengatakan ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi terapeutik efektif :
1) Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberian maupun penerima pesan.
2) Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana, informasi maupun masukan.
Persyaratan – persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan perawat-klien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan.
Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering.
2.5 Perbedaan Komunikasi Terapeutik Dengan Komunikasi Social
Perbedaan komunikasi terapeutik dengan komunikasi social (Purwanta, 1994) :
Komunikasi terapeutik :
1) Terjadi antara perawat dengan pasien atau anggota tim kesehatan lainnya.
2) Komunikasi ini umumnya lebih akrab karena mempunyai tujuan, berfokus pada pasien yang membutuhkan bantuan.
3) Perawat secara aktif mendengarkan dan memberi respon kepada pasien dengan cara menunjukan sikap mau menerima dan mau memahami sehingga dapat mendorong pasien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya. Selain itu membantu pasien untuk melihat dan memperhatikan apa yang tidak disadari sebelumnya.
Komunikasi social :
1) Terjadi setiap hari antar - orang perorang baik dalam pergaulan maupun lingkungan kerja.
2) Komunikasi bersifat dangkal karena tidak mempunyai tujuan.
3) Lebih banyak terjadi dalam perkerjaan, aktivitas social, dan lain-lain.
4) Pembicara tidak mempunyai focus tertentu tetapi lebih mengarah kebersamaan dan rasa senang.
5) Dapat direncanakan tetapi dapat juga tidak direncanakan.
2.6 Prinsip-prinsip Komunikasi Terapeutik
Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Purwanto, 1994) adalah :
1) Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.
2) Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling menghargai.
3) Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.
4) Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut.
5) Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
6) Perawat harus mampu menguasahi perasaan sendiri secara bertahap untuk menguasahi dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan maupun frustasi.
7) Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.
8) Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik.
9) Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.
10) Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan sesuatu keadaan sehat fisik mental, spiritual, dan gaya hidup.
11) Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap mengganggu.
12) Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.
13) Berpegangan pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.
14) Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.
2.7 Sikap Komunikasi Terapeutik
Egan (dalam Keliat, 1992), mengidentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik, yaitu :
a. Berhadapan ;
Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda.
b. Mempertahankan kontak mata ;
Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginaan untuk tetap berkomunikasi.
c. Membungkuk kearah klien ;
Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu.
d. Memperlihatkan sikap terbuka ;
Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu.
e. Tetap rileks ;
Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien, meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan.
2.8 Klarifikasi umur lansia
Menurut WHO, batasan umur seseorang yang tergolong lanjut usia (lansia) adalah sebagai berikut :
Middle age : 45 – 59 tahun
Elderly (lansia) : 60 – 70 tahun
Old (lansia tua) : 75 – 90 tahun
Very Old (lansia sangat tua) : >90 tahun
2.9Prinsip Komunikasi untuk Lansia
Prinsip komunikasi untuk lansia (Ebersole dan Hess dalam Brunner dan Siddarth, 1996) adalah :
1) Menjaga agar tingkat kebisingan minimum.
2) Menjadi pendengar yang setia, sediakan waktu untuk mengobrol.
3) Menjamin alat bantu dengar yang berfungsi dengan baik (periksa baterai).
4) Yakinkan bahwa kacamata bersih dan pas.
5) Jangan berbicara dengan keras atau berteriak, bicara langsung dengan telinga yang dapat mendengar dengan lebih baik. Berdiri di depan klien.
6) Pertahankan penggunaan kalimat yang pendek dan sederhana.
7) Beri kesempatan pada klien untuk mengenang.
8) Mendorong keikutsertaan dalam aktivitas sosial seperti perkumpulan orang tua, kegiatan rohani.
9) Membuat rujukan pada terapi wicara dan kegiatan sosial sesuai kebutuhan.
10) Berbicara pada tingkat pemahaman klien.
11) Selalu menanyakan respons, terutama ketika mengajarkan suatu tugas atau keahlian.
2.10 Komuikasi Verbal dan Non Verbal
Komunikasi verbal dan non verbal yang digunakan untuk berkomunikasi dengan lansia antara lain :
1) Saling mengenalkan nama dan jabat tangan, panggil klien dengan sapaan hormat dan nama panggilan lengkap.
2) Gunakan sentuhan untuk memperkuat pesan verbal dan komunikasikan non verbal.
3) Menjelaskan tujuan dari pertemuan, diskusikan hanya satu topik.
4) Dimulailah dengan pertanyaan yang sederhana dan gunakan bahasa yang sering digunakan oleh klien secara singkat dan terstruktur.
5) Gunakan pertanyaan terbuka – tertutup dan ciptakan suasana yang nyaman.
6) Klarifikasi pesan secara periodik, validasikan apakah klien sudah mengerti dengan maksud perawat.
7) Pertahankan kontak mata, tingkatkan perhatian, dan mendorong untuk memberi informasi yang jelas.
8) Bersikaplah empati, jaga selalu privasi klien.
9) Mintalah izin sebelum menanyakan status mental, memori dan kemampuan yang lain.
10) Tuliskan perintah atau hal – hal penting untuk diingat.
2.11 Komunikasi Terapeutik pada Lansia dengan Masalah Fisik Maupun Mental
2.11.1 Lansia dengan Gangguan Pendengaran :
a) Berdiri dekat menghadap klien.
b) Bertanya diarahkan pada telinga yang lebih baik.
c) Berikan perhatian dan tunjukkan wajah saudara.
d) Tegurlah nama sebelum pembicaraan dimulai.
e) Gunakan pembicaraan yang keras, jelas, pelan, dan diarahkan langsung pada klien.
f) Hindari pergerakan bibir yang berlebihan.
g) Hindari memalingkan kepala, tidak berbalik atau berjalan saat bicara.
h) Jika klien belum memahami, ulangi dengan menggunakan kata – kata yeng berbeda.
i) Membatasi kegaduhan lingkungan.
j) Gunakan tekanan suara yang sesuai.
k) Berilah instruksi sederhana untuk mengevaluasi pembicaraan.
l) Hindari pertanyaan tertutup, gunakan kalimat pendek saat bertanya.
m) Gunakan bahasa tubuh yang sesuai dengan isi komunikasi.
2.11.2 Lansia dengan tidak dapat mendengar (deaf) :
Hampir sama dengan klien yang mengalami gangguan pendengaran, tetapi ditambah dengan beberapa teknik, yaitu :
a) Menulis pesan jika klien dapat membaca.
b) Gunakan media (gambar) untuk membantu komunikasi.
c) Pernyataan dan pertanyaan yang singkat.
d) Gunakan berbagai macam metode untuk menyampaikan pesan, contoh : body language.
e) Sempatkanlah waktu bersama klien.
2.11.3 Lansia dengan gangguan penglihatan :
a) Perkenalkan diri, dekati klien dari depan.
b) Jelaskan kondisi tempat dan orang yang ada.
c) Bicaralah pada saat Anda mau meninggalkan tempat.
d) Pada saat saudara berbicara pastikan klien tahu tempat saudara.
e) Katakan pada klien apa yang dapat mebantunya seperti lampu, membacakan.
f) Biarkan klien memegang tangan saudara sebagai petunjuk dan jelaskan apa yang sedang saudara kerjakan.
g) Jelaskan jalan – jalan apa bisa dilalui oleh klien.
h) Sanjunglah kemampuan beradaptasi dan kemandirian klien.
2.11.4 Lansia dengan Afasia
Afasia merupakan gangguan fungsi bahasa yang disebabkan cidera atau penyakit pusat otak. Ini termasuk gangguan kemampuan membaca dan menulis dengan baik, demikian juga bercakap – cakap, mendengar, berhitung, menyimpulkan dan pemahaman terhadap sikap tubuh. Dimana penyebab afasia pertama adalah stroke, cedera kepala, dan tumor otak (Brunner dan Siddart, 2001).
Teknik Komunikasi yang digunakan adalah :
a) Menghadap ke pasien dan membuat kontak mata.
b) Sabar dan meluangkan waktu.
c) Harus jujur, temasuk ketika kita belum memahami perkataannya.
d) Tanyakan teknik dan alat yang terbaik untuk komunikasi, gunakan sikap tubuh, gambar dan objek atau media lain yang dapat membantu untuk menjawab keinginanya.
e) Dipersilahkan lansia menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
f) Dorong lansia untuk menulis dan mengekspresikannya dan berikan kesempatan untuk membaca dengan keras.
g) Gunakan gerakan isyarat terhadap objek pembicaraan jika mampu meningkatkan pemahaman.
h) Gunakan sentuhan untuk memfokuskan pembicaraan, meningkatkan rasa aman.
2.11.5 Lansia dengan penyakit Alzheimer :
Penyakit Alzheimer (AD) kadang disebut sebagai demensia degeneratif primer atau demensia senil jenis Alzheimer (SDAT) merupakan penyakit neurologis degeneratif, progresif, ireversibel, yang muncul tiba – tiba dan ditandai dengan penurunan bertahap fungsi kognitif dan gangguan perilaku dan efek (Brunner dan Siddart, 2001).
Keadaan yang terjadi pada pasien yang menderita Alzheimer diantaranya terjadi keadaan mudah lupa dan kehilangan ingatan bahkan klien dapat kehilangan kemampuannya mengenal wajah, tempat, dan objek yang sudah dikenalnya serta kehilangan suasana kekeluargaannya. Perubahan kepribadian biasanya negatif. Pasien dapat menjadi depresif, curiga, paranoid, kasar, dan bahkan kejam. Kemampuan berbicara buruk sampai pembentukan suku kata yang tidak masuk akal. Perawatan diri memerlukan bantuan, termasuk makan dan toileting.
Teknik komunikasi yang digunakan adalah :
a) Selalu berkomunikasi dari depan lansia.
b) Bicaralah dengan cara dan nada yang normal.
c) Bertatap muka.
d) Minimalkan gerakan tangan.
e) Menghargai dan pertahankan jarak.
f) Cegah setting ruangan yang memberikan stimulasi yang banyak.
g) Pertahankan kontak mata dengan senyum.
h) Ikuti langkah klien dan bicaralah padanya.
i) Bertanyalah hanya dengan satu pertanyaan.
j) Mengangguklah dan tersenyum bila memahami perkataannya
2.11.6 Lansia yang menunnjukkan kemarahan :
a) Klarifikasi penyebab marah yang terjadi.
b) Bantu dan dorong klien mengungkapkan marah dengan konstruktif.
c) Gunakan pertanyaan terbuka.
d) Luangkan waktu setiap hari bersama klien.
e) Puji dan dukung setiap usaha dari klien.
2.11.7 Lansia yang mengalami kecemasan :
a) Dengarkan apa yang dibicarakan klien.
b) Berikan penjelasan secara ringkas dan jelas apa yang terjadi.
c) Identifikasi bersama klien sumber – sumber yang menyebabkan ketegangan atau keemasan.
d) Libatkan staf dan anggota keluarga.
2.11.8 Lansia yang menunjukkan penolakan :
a) Kemukakan kenyataan perlahan lahan.
b) Jangan menyokong penolakan klien.
c) Bantu klien mengungkapkan keresahan atau perasaan sedihnya.
d) Libatkan keluaraga.
2.11.9 Lansia yang mengalami depresi :
a) Lakukan kontak sesering mungkin.
b) Beri perhatian terus – menerus.
c) Libatkan klien dalam menolong dirinya sendiri.
d) Gunakan pertanyaan terbuka.
e) Libatkan staf dan anggota dalam memberikan perhatian
2.12 Teknik Komunikasi Pada Lansia
Untuk dapat melaksanakan komunikasi yang efektif kepada lansia, selain pemahaman yang memadahi tentang karakteristik lansia, petugas kesehatan/perawat juga harus mempunyai tehnik-tehnik khusus agar komunikasi yang dilakukan dapat berlangsung lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Beberapa tehnik komunikasi yang dapat diterapkan antara lain :
2.12.1 Tehnik Asertif
Asertif adalah sikap yang dapat menerima, ,memahami pasangan bicara dengan menunjukan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan dan memperhatikan ketika pasangan berbicara agar maksud komunikasi atau pembicaraan dapar dimengerti. Asertif merupakan pelaksanaan dan etika berkomunikasi. Sikap ini akan sangat membantu petugas kesehatan untuk menjaga hubungan yang terapeutik dengan klien lansia.
2.12.2 Responsif
Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien merupakan bentuk perhatian petugas kepada klien. Ketika perawat mengetahui adanya perubahan sikap atau kebiasaan klien sekecil apapun hendaknya segera menanyakan atau klarifikasi tentang perubahan tersebut, misalnya dengan mengajukan pertanyaan, “apa yang sedang bapak/ibu fikirkan saat ini? Apa yang bisa saya bantu ?”. berespon berarti bersikap aktif, tidak menunggu permintaan bantuan dari klien. Sikap aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan perasaan tenang bagi klien.
2.12.3 Focus
Sikap ini merupakan upaya perawat untuk tetap konsisten terhadap materi komunikasi yang diinginkan. Ketika klien mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan diluar materi yang diinginkan, maka perawat hendaknya mengarahkan maksud pembicaraan. Upaya ini perlu diperhatikan karena umumnya klien lansia senang menceritakan hal-hal yang mungkin tidak relevan untuk kepentingan petugas kesehatan.
2.12.4 Supportif
Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun psikis secara bertahap menyebabkan emosi klien relative menjadi labil. Perubahan ini perlu disikapi dengan menjaga kestabilan emosi klien lansia, misalnya dengan mengiyakan, senyum dan mengangguk kepala ketika lansia mengungkapkan perasaan nya sebagai sikap hormat dan menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak merasa menjadi beban bagi kluarganya, dengan demikian klien diharapkan termotivasi untuk mandiri dan berkarya sesuai kemampuannya. Selama memberi dukungan baik secara materiil maupun moril, petugas kesehatan jangan sampai terkesan menggurui atau mengajari klien karena ini dapa merendahkan kepercayaan klien kepada perawat atau petugas kesehatan lainnya. Ungkapan-ungkapan yang bisa memberi motivasi, meningkatkan kepercayaan diri klien tanpa terkesan menggurui atau mengajari misalnya : “ saya yakin bapak/ibu llebih berpengalaman dari saya, untuk itu kami yakin bapak/ibu mampu melaksanakan ………dan bila diperlukan kami siap membantu”.
2.12.5 Klarifikasi
Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering proses komunikasi tidak berlangsung dengan lancar. Klarifikasi dengan cara mengajukan pertanyaan ulang dan memberi penjelasan lebih dari satu kali perlu dilakukan oleh perawat agar maksud pembicaraan kita dapat diterima dan dipersepsikan sama oleh klien. “ bapak/ibu bisa menerima apa yang saya sampaikan tadi ? bisa minta tolong bapak/ibu untuk menjelaskan kembali apa yang saya sampaikan tadi ?”.
2.12.6 Sabar dan Ikhlas
Seperti diketahui sebelumnya bahwa klien lansia umumnya mengalami perubahan-perubahan yang terkadang merepotkan dan kekanak-kanakan. Perubahan ini bila tidak disikapi dengan sabar dean ikhlas dapat menimbulkan perasaan jengkel bagi perawat sehingga komunikasi yang dilakukan tidak terapeutik, solutif, namun dapat berakibat komunikasi berlangsung emosional dan menimbulkan kerusakan hubungan antara klien dengan petugas kesehatan.
2.13 Penerapan Model Komunikasi Pada Lansia
2.13.1 Model Komunikasi Shannon Weaver
Tujuan komunikasi pada lansia dengan reaksi penolakan adalah adanya perubahan perilaku lansia dari penolakan menjadi kooperatif. Dalam komunikasi ini diperlukan keterlibatan anggota keluarga sebagai transmitter untuk mengenal lebih jauh tentang klien.
Kelebihan : dalam komunikasi ini melibatkan anggota keluarga atau orang lain yang berpengaruh.
Kekurangan : memerlukan waktu yang cukup lama karena klien dalam reaksi penolakan. Tak dapat melakukan evaluasi sejauhmana perubahan perilaku yang terjadi pada klien, karena tidak ada feed back.
2.13.2 Model SMCR
Kelebihan : proses komunikasi yang terjadi pada model ini relative simple. Model ini akan efektif bila kondisi lansia masih sehat, belum banyak mengalami penurunan baik aspek fisik maupun psikis.
Kekurangan : klien tidak memenuhi syarat seperti yang ditetapkan mempunyai ketrampilan, pengetahuan, sikap, system sosial dan kultur, karena penolakannya. Memerlukan proses yang lama dan tergantung kodisi klien lansia.
2.13.3 Model Leary
Model ini diantar individu saling mempengaruhi dan dipengaruhi dimana respon seseorang dipengaruhi oleh bagaimana orang tersebut diperlakukan. Oleh karena itu dalam berkomunukasi dengan lansia harus hati-hati, jangan sampai menyinggug perasaan nya. Dalam berkomunikasi dengan klien lansia seorang perawat diharapkan pada rentang love yang banyak karena sifat sosial perawat sangat dibutuhkan oleh lansia. Lansia membutuhkan perhatian yang lebih dalam berkomunikasi, untuk mengungkapkan perasaannya. Diharapkan perawat harus lebih banyak mendengar apa yang diungkapkan.
Kelebihan : terjadi interaksi atau hubungan relationship hubungan perawat klien lebih dekat sehingga masalah lebih dapat terselesaikan.
Kelemahan : perawat lebih dominan dan klien lansia patuh.
2.13.4 Model Terapeutik
Model ini membantu mendorong melaksanakan komunikasi dengan empati menghargai dan harmonis. Dimana dibutuhkan kondisi empati, kesesuaian dan penghargaan. Lansia dengan penolakan sulit bagi kita melaksanakan empati. Kita tidak boleh menyongkong penolakan tetapi berikan perawatan yang cocok dan berbicara sesering mungkin, jangan sampai menolak.
Kelebihan : dengan tehnik komunikasi yang baik lansia akan lebih paham apa yang kita bicarakan, koping nya lebih efektif.
Kelemahan : kondisi empati kurang cocok diterapkan oleh perawat untuk perawat lansia dengan reaksi penolakan.
2.13.5 Model Keyakinan Kesehatan
Menekankan pada persepsi klien untuk mencari sehat, menjauhi sakit, merasakan adanya ancaman atau manfaat untuk mempertahankan kesehatannya, sehingga dalam berkomunikasi dengan lansia denga reaksi penolakan diperlukan motivasi yang kuat.
Kelebihan : lansia yag mengetahui adanya ancaman kesehatan akan dapat bermanfaat dan sebagai barier dalam melaksanakan tindakan pencegahan penyakit
Kelemahan : tidak semua lansia merasakan adanya ancaman kesehatan.
2.13.6 Model Komunikasi Kesehatan
Komunikasi yang berfokus pada transaksi antara professional kesehatan klien yang sesuai dengan permasalahan kesehatan klien. Pandangan sistim komunikasi lebih luas yang mencakup 3 faktor mayor : relationship, transaksi dan konteks.
Relationship
Perawat professional mengadakan komunikasi dengan klien lansia haruslah menggunakan ilmu psikososial dan tehnik komunikasi dimana perawat haruslah ramah, rapi, bertanggung jawab, tidak sembrono mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan klien lansia sehingga terjalin hubungan saling percaya. Klien lansia dalam berkomunikasi kadang emosinya labil, ingin disanjung da tidak mau dibantah. Dalam mengadakan hubungan transaksi hendaknya seorang perawat professional mengetahui permasalahan yang dihadapi klien lansia tersebut. Kemudian bersama-sama menyelesaikan masalah.
Transaksi
Dalam berkomunikasi dengan lansia hendaknya disepakati untuk menyelesaikan masalah klien bukan unruk hal lain. Pada lansia dengan reaksi penolakan harus hati-hati mencari informasi dari klien, memberikan feed back baik verbal maupun non verbal dan hendaknya secara berkesinambungan.
Konteks
Perawat professional harus mengetahui situasi dan permasalahan yang dihadapi klien. Apabila masalah bersifat individu haruslah diselesaikan secara individu dengan tidak mengabaikan tempat/ruangan dan jenis pelayanan apa yang digunakan. Apabila masalah bersifat umum/kelompok harus diselesaikan secara kelompok.
Kelebihan : dapat menyelesaikan masalah klien lansia dengan tuntas, klien lansia merasa sangat diperhatikan.
Kelemahan : membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan permasalahan fasilitas daam memberikan pelayanan harus lengkap.
2.13.7 Model Interaksi King
Pada model ini intinya adalah kesepakatan sebelum mengadakan interaksi dengan klien lansia. Perawat harus mempunyai persepsi secara ilmiah tentang hal-hal yang akan dikomunikasikan. Persepsi ini kemudian disepakati dengan klien sehingga dapat terjadi suatu aksi yang menyebabkan terjadinya reaksi-interaksi dan transaksi.
Kelebihan : komunikasi dapat sesuai dengan tujuan jika lansia sudah kooperatif.
Kelemahan : klien lansia dengan reaksi penolakan akan mengalami kesulitan untuk dilakukan komunikasi model ini karena tidak kooperatif.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Komunikasi pada lansia tidaklah begitu sulit dibutuhkan teknik-teknik tersendiri untuk melakukan komunikasi pada lansia banyak hal-hal yang harus diperhatikan diantaranya :
a) Teknik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik.
b) Teknik untuk wawancara.
c) Kendala dan hambatan dalam komunikasi.
d) Mood dan privasi
e) Aspek-aspek yang harus diperhatikan.
Daftar pustaka
Damaiyanti, Mukharipah.2008. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan.Bandung : PT Refika Aditama
http://elista-sunshine.blogspot.com/2012/01/komunikasi-terapeutik-pada-lansia.html
makalah home care
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Visi Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah memandirikan masyarakat untuk hidup sehat dengan misi membuat rakyat sehat. Guna mewujudkan visi dan misi tersebut berbagai program kesehatan telah dikembangkan termasuk pelayanan kesehatan di rumah.
Pelayanan keperawatan yang berkualitas mempunyai arti bahwa pelayanan yang diberikan kepada individu, keluarga ataupun masyarakat haruslah baik (bersifat etis) dan benar (berdasarkan ilmu dan hukum yang berlaku). Hukum yang mengatur praktik keperawatan telah tersedia dengan lengkap, baik dalam bentuk undang-undang kesehatan, maupun surat keputusan Menkes tentang praktik keperawatan. Dengan demikian melakukan praktik keperawatan bagi perawat di Indonesia adalah merupakan hak sekaligus kewajiban profesi untuk mencapai visi Indonesia sehat tahun 2010.
Implementasi praktik keperawatan yang dilakukan oleh perawat sebenarnya tidak harus dilakukan di rumah sakit, klinik, ataupun di gedung puskesmas tetapi dapat juga dilaksanakan dimasyarakat maupun dirumah pasien. Pelayanan keperawatan yang dilkukan dirumah pasien disebut Home Care.
Pelayanan kesehatan di rumah merupakan program yang sudah ada dan perlu dikembangkan, karena telah menjadi kebutuhan masyarakat, Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dan memasyarakat serta menyentuh kebutuhan masyarakat yakni melalui pelayanan keperawatan Kesehatan di rumah atau Home Care. Berbagai faktor yang mendorong perkembangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yaitu melalui pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.
Berbagai faktor yang mendorong perkembangan pelayanan keperawatan kesehatan dirumah atara lain : Kebutuhan masyarakat, perkembangan IPTEK bidang kesehatan, tersedianya SDM kesehatan yang mampu memberi pelayanan kesehatan di rumah
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai konsep home care yang meliputi :
1. Menjelaskan pengertian Home Care
2. Menjelaskan konsep/model teori keperawatan yang mendukung Home Care
3. Menjelaskantujuandari Home Care
4. Menyebutkan landasan hukum Home Care
5. Menjelaskan skill dasar yang harus dikuasai perawat
6. Menjelaskan lingkup pelayanan Home Care
7. Menjelaskan isu dan legal aspek Home Care
8. Menjelaskan lingkup praktik keperawatan di rumah
9. Menjelaskan mekanisme pelayanan Home Care
10. Menjelaskanhak-hakklienperawatan di rumah
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. UntukmemahamiPengertian Home Care
2. UntukmemahamiKonsep/Model Teori Keperawatan Yang Mendukung Home Care
3. UntukmemahamiTujuandari Home Care
4. UntukmemahamiLandasan Hukum Home Care
5. UntukmemahamiSkill Dasar Yang Harus Dikuasai Perawat
6. UntukmemahamiLingkup Pelayanan Home Care
7. UntukmemahamiIsu Dan Legal Aspek
8. UntukmemahamiLingkup Praktik Keperawatan Di Rumah
9. UntukmemahamiMekanisme Pelayanan Home Care
10. UntukmemahamiHak-hakklienperawatan di rumah
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah
1) 1988 -1992 → terjadi peningkatan perawat yang bekerja sebagai “Home Health Nursing”
2) 1859 → William Rathone (Liverpool, Inggris) → mmulai sekolah yang mendidik perawat yang dapat melakukan kunjungan rumah untuk membantu orang miskin yang sakit di rumahnya.
3) 1800-an akhir → VNA’S (Visiting Nurse Associations) brdiri di USA yang didirikan oleh Philantropist (Dermawan).
4) 1947→ Montefior Hospital membuat program home care, mengacu kepada perawatan akut, post perawatan RS.
5) 1965 → Home Health Care berubah dari Socil Security Act (yan dilakukan oleh VNA’S) menjadi → Medicare Legislation yang fokusnya untuk perawatan lansia.
2.2Pengertian Home Care
Menurut Departemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit.
Pelayanan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien atau keluarga yang direncanakan dan dikoordinasi oleh pemberi pelayanan melalui staf yang diatur berdasarkan perjanjian bersama. Sedangkan menurut Neis dan Mc Ewen (2001) menyatakan home health care adalah sistem dimana pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial diberikan di rumah kepada orang-orang yang cacat atau orang-orang yang harus tinggal di rumah karena kondisi kesehatannya.
Home Care (HC) menurut Habbs dan Perrin, 1985 adalah merupakan layanan kesehatan yang dilakukan di rumah pasien (Lerman D. & Eric B.L, 1993), Sehingga home care dalam keperawatan merupakan layanan keperawatan di rumah pasien yang telah melalui sejarah yang panjang.
Di beberapa negara maju,” home care “ (perawatan di rumah ), bukan merupakan konsep yang baru, tapi telah dikembangkan oleh William Rathbon sejak tahun 1859 yang dia namakan perawatan di rumah dalam bentuk kunjungan tenaga keperawatan ke rumah untuk mengobati klien yang sakit dan tidak bersedia dirawat di rumah sakit.
Dari beberapa literatur pengertian “home care” adalah:
a. Perawatan dirumah merupakan lanjutan asuhan keperawatan dari rumah sakit yang sudah termasuk dalam rencana pemulangan (discharge planning ) dan dapat dilaksanakan oleh perawat dari rumah sakit semula, oleh perawat komunitas di mana pasien berada, atau tim keperawatan khusus yang menangani perawatan di rumah.
b. Perawatan di rumah merupakan bagian dari asuhan keperawatan keluarga, sebagai tindak lanjut dari tindakan unit rawat jalan atau puskesmas.
c. Pelayanan kesehatan berbasis dirumah merupakan suatu komponen rentang keperawatan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka, yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit termasuk penyakit terminal.
Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga, direncanakan, dikoordinasikan dan disediakan oleh pemberi pelayanan yang diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau pengaturan berdasarkan perjanjian kerja (kontrak) (warola,1980 dalam Pengembangan Model Praktek Mandiri keperawatan dirumah yang disusun oleh PPNI dan Depkes).
2.3 Konsep / Model Teori Keperawatan Yang Mendukung Home Care
a. Teori Lingkungan (Florence Nightingale)
Lingkungan menurut Nightingale merujuk pada lingkungan fisik eksternal yang mempengaruhi proses penyembuhan dan kesehatan yang meliputi lima komponen lingkungan terpenting dalam mempertahankan kesehatan individu yang meliputi
1. udara bersih,
2. air yang bersih,
3. pemeliharaan yang efisien
4. kebersihan, serta
5. penerangan/pencahayaan
Nightingale lebih menekankan pada lingkungan fisik daripada lingkungan sosial dan psikologis yang dieksplor secara lebih terperinci dalam tulisannya. Penekanannya terhadap lingkungan sangat jelas melalui pernyataannnya bahwa jika ingin meramalkan masalah kesehatan, maka yang harus dilakukan adalah mengkaji keadaan rumah, kondisi dan cara hidup seseorang daripada mengkaji fisik/tubuhnya.
b. Teori konsep manusia sebagai unit (Martha E. Rogers)
Dalam memahami konsep model dan teori ini,Rogers berasumsi bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang utuh,yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda – beda. Dalam proses kehidupan manusia yang dinamis, manusia dalam proses kehidupan manusia setiap individu akan berbeda satu dengan yang lain dan manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri. Asumsi tersebut didasarkan pada kekuatan yang berkembang secara alamiah yaitu keutuhan manusia dan lingkungan,kemudian system ketersediaan sebagai satu kesatuan yang utuh serta proses kehidupan manusia berdasarkan konsep homeodinamik yang terdiri dari integritas,resonansi dan helicy. Integritas berarti individu sebagai satu kesatuan dengan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan, dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Resonansi mengandung arti bahwa proses kehidupan antara individu dengan lingkungan berlangsung dengan berirama dengan frekuensi yang bervariasi dan helicy merupakan proses terjadinya interaksi antara manusia dengan lingkungan akan terjadi perubahan baik perlahan – lahan maupun berlangsung dengan cepat. Menurut Rogers (1970), tujuan keperawatan adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, mencegah kesakitan, dan merawat serta merehabilitasi klien yang sakit dan tidak mampu dengan pendekatan humanistik keperawatan. Menurut Rogers, 1979 Kerangka Kerja Praktik: “Manusia utuh” meliputi proses sepanjang hidup. Klien secara terus menerus berubah dan menyelaraskan dengan lingkungannya.
c. Teori Transkultural nursing (Leininger)
Leininger percaya bahwa tujuan teori ini adalah untuk memberikan pelayanan yang berbasis pada kultur. Dia percaya bahwa perawat harus bekerja dengan prinsip ”care” dan pemahaman yang dalam mengenai ”care” sehingga culture‟s care, nilai-nilai, keyakinan, dan pola hidup memberikan landasan yang realiabel dan akurat untuk perencanaan dan implementasi yang efektif terhadap pelayanan pada kultur tertentu. Dia meyakini bahwa seorang perawat tidak dapat memisahkan cara pandangan dunia, struktur sosial dan keyakinan kultur (orang biasa dan profesional) terhadap kesehatan, kesejahteraan , sakit, atau pelayanan saat bekerja dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, karena faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama lain. Struktur sosial seperti kepercayaan, politik, ekonomi dan kekeluargaaan adalah kekuatan signifikan yang berdampak pada ”care” dan mempengaruhi kesejahteraan dan kondisi sakit.
d. Theory of Human Caring (Watson, 1979)
Teori ini mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh. Pandangan teori Jean Watson ini memahami bahwa manusia memiliki empat cabang kebutuhan manusia yang saling berhubungan diantaranya kebutuhan dasar biofisikial (kebutuhan untuk hidup) yang meliputi kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi dan kebutuhan ventilasi, kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan aktivitas dan istirahat, kebutuhan seksual, kebutuhan psikososial (kebutuhan untuk integrasi) yang meliputi kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan organisasi, dan kebutuhan intra dan interpersonal (kebutuhan untuk pengembangan) yaitu kebutuhan aktualisasi diri.
e. Teori Self Care (Dorothea Orem)
Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep praktik keperwatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori Self Care, di antaranya:
1) Perawatan Diri Sendiri (Self Care)
a) Self Care: merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksananakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi serta mempertahankan kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan.
b) Self Care Agency: merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oeh usia, perkembangan, sosiokultural, kesehatan dan lain-lain.
c) Theurapetic Self Care Demand: tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatan diri sendiri dengan menggunakan metode dan alat dalam tindakan yang tepat.
d) Self Care Requisites: kebutuhan self care merupakan suatu tindakan yang ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat universal dan berhubungan dengan proses kehidupan manusia serta dalam upaya mepertahankan fungsi tubuh. Self Care Reuisites terdiri dari beberapa jenis, yaitu: Universal Self Care Requisites (kebutuhan universal manusia yang merupakan kebutuhan dasar), Developmental Self Care Requisites (kebutuhan yang berhubungan perkembangan indvidu) dan Health Deviation Requisites (kebutuhan yang timbul sebagai hasil dari kondisi pasien).
2) Self Care Defisit
Self Care Defisit merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum di mana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat perawatan dibutuhkan. Keperawatan dibutuhkan seseorang pada saat tidak mampu atau terbatas untuk melakukan self carenya secara terus menerus. Self care defisit dapat diterapkan pada anak yang belum dewasa, atau kebutuhan yang melebihi kemampuan serta adanya perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan tuntutan dalam peningkatan self care, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam pemenuhan perawatan diri sendiri serta membantu dalam proses penyelesaian masalah, Orem memiliki metode untuk proses tersebut diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain, sebagai pembimbing orang lain, memberi support, meningkatkan pengembangan lingkungan untuk pengembangan pribadi serta mengajarkan atau mendidik pada orang lain.
f. Teori Dinamic dan Self Determination for Self Care (Rice)
Perawat sebagai fasilitator dan koordinator dari pilihan keseimbangan sehat sakit yang ditetapkan oleh pasien.(Aziz Alimul Hidayat, 2004)
2.4Tujuan Home Health Care
a. Meningkatkan pport system yg adekuat dan efektif shg dpt mendorang penggunaan sumber-sumber yg b.d kesehatan keluarga
b. Meningkatkan perawatan yg efektif dan adekuat khususnya untuk anggota keluarga dengan ketidakmampuan (cacat) atau dengan masalah-masalah khusus (mis: penyakit kronis)
c. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan normal keluarga dan anggota-anggotanya serta melakukan promosi dan prevensi kesehatan.
d. Memperkuat fungsi-fungsi keluarga dan hubungannya satu sama lainnya.
e. Meningkatkan kesehatan keluarga.
2.5 Masalah / problem yang muncul pada Home Health Care
a. Gaya hidup dan sumber-sumber kehidupan
b. Status kesehatan saat inidan penyimpangannya
c. Pola dan pengetahuan keluarga dalam mempertahankan kesehatannya.
d. Struktur keluarga dan dinamisasinya.
2.6 Keuntungan dan Kerugian Home Health Care
Keuntungan:
1) Setting rumah dapat lebih memberikan kenyamanan klien dalam menjalani perawatan secara individul.
2) Banyak klien yang lebih suka dirawat di rumah.
3) Pengkajian mengenai faktor-faktor lingkungan yang menunjang kese-hatan dapat lebih lengkap karena dapat diobservasi secara langsung sehingga dapat langsung dipertim-bangkan mengenai pelayanan apa yang cocok untuk klien secara financial, dll.
4) Pengkajian mengenai pola hidup dan norma-norma keluarga lebih mudah dilakukan.
5) Partisipasi anggota keluarga dapat terfasilitasi dengan baik.
6) Anggota keluarga mungkin akan lebih bersemangat untuk menerima dan mempelajari hal-hal yang dapat meningkatkan atau menunjang kesehatannya karena aplikatif dan sesuai dengan kondisi di rumah.
7) Dapat memperpendek masa rawat di rumah sakit sehingga biaya perawatan dapat menurun.
8) Menurunkan nosocomial infection.
Kerugian:
1) Biaya perjalanan perawat atau pemberi pelayanan kesehatan di rumah mahal.
2) Kurang efisien dari praktek keperawa-tan bersama atau kunjungan klien ke ruang rawat.
3) Distraksi misalnya : anak-nak dan suara TV sulit untuk dihindari.
4) Keamanan perawat dalam melakukan asuhan keperawatan tidak begitu terjaga.
2.7Landasan Hukum Home Care
Fungsi Hukum dalam Praktik Perawat :
a. Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai dengan hukum
b. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
c. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri
d. Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
Landasan Hukum :
a. UU Kes.No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
b. PP No. 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah.
c. UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
d. UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
e. Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang regestrasi dan praktik perawat
f. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas
g. Kepmenkes No. 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan Perkesmas.
h. SK Menpan No. 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan fungsonal perawat.
i. PP No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
j. Permenkes No. 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta
2.8 Skill Dasar Yang Harus Dikuasai Perawat
Home Care SK Dirjen Dirjen YAN MED NO HK. 00.06.5.1.311 menyebutkan ada 23 tindakan keperawatan mandiri yang bisa dilakukan oleh perawat home care antara lain :
1) vital sign
2) memasang nasogastric tube
3) memasang selang susu besar
4) memasang cateter
5) penggantian tube pernafasan
6) merawat luka dekubitus
7) Suction
8) memasang peralatan O2
9) penyuntikan (IV,IM, IC,SC)
10) Pemasangan infus maupun obat
11) Pengambilan preparat
12) Pemberian huknah/laksatif
13) Kebersihan diri
14) Latihan dalam rangka rehabilitasi medis
15) Tranpostasi klien untuk pelaksanaan pemeriksaan diagnostik
16) Penkes
17) Konseling kasus terminal
18) Konsultasi/telepon
19) Fasilitasi ke dokter rujukan
20) Menyiapkan menu makanan
21) Membersihkan Tempat tidur pasien
22) Fasilitasi kegiatan sosial pasien
23) Fasilitasi perbaikan sarana klien.
2.8.1 Kompetensi Dasar
a. Memahami dasar-dasar anatomi, fisiologi, patologi tubuh secara umum.
1) Menjelaskan anatomi, fisiologi, patologi sebagai sistem tubuh secara umum
2) Menjelaskan konsep dasar homeostasis, dan patogenesis.
b. Melaksanakan pemberian obat kepada klien/pasien
1) Menjelaskan cara-cara pemberianobatkepadapasien
2) Melakukan pemberian obat kepada pasien sesuai resep dokter.
c. Memahami jenis pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan oleh klien/pasien
1) Menjelaskan jenis pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan olehklien/pasien
2) Menjelaskan persiapan klien/pasien yang akan diperiksa di laboratorium
3) Mengantarkan klien/pasien untuk periksa di laboratorium.
d. Menunjukan kemampuan melakukan komunikasi terapeutik
1) Menjelaskan definisi komunikasi terapeutik
2) Menjelaskan fungsi, dan manfaat komunikasi terapeutik
3) Melaksanakan setiap tindakan keperawatan menggunakan komunikasi terapeutik.
e. Menunjukan kemampuan mengasuh bayi, balita, anak, dan lansia sesuai tingkat perkembangan
1) Membangun hubungan antar manusia
2) Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
3) Mengidentifikasi kebutuhan dasar manusia
4) Merencanakan kebutuhan dasar manusia
f. Menunjukan kemampuan melayani klien/pasien berpenyakit ringan
1) Membangun hubungan antar manusia
2) Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
3) Mengidentifikasi kebutuhan dasar klien/pasien
4) Merencanakan kebutuhan dasar klien/pasien
5) Melaksanakan kebutuhan dasar klien/ pasien
6) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan kebutuhan pasien/klien yangpenyakitringan.
g. Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
1) Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
2) Melaksanakan prosedur K3
3) Menerapkan konsep lingkungan hidup
4) Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan
h. Memahami kontinum sehat- sakit
1) Menjelaskan keseimbangan tubuh manusia normal
2) Menjelaskan definisi sehat-sakit
3) Menjelaskan model-model sehat dan sakit
4) Menjelaskan nilai-nilai yang mempengaruhi kesehatan
5) Menjelaskan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
6) Menjelaskan faktor-faktor resiko dalam kehidupan manusia
7) Menjelaskan dampak sakit pada klien/pasien dan keluarga.
i. Memahami dasar-dasar penyakit sederhana yang umum di masyarakat
1) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem integumen sederhana yang umum dimasyarakat
2) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem gastro intestinal sederhana yang umum di masyarakat
3) Menjelaskan penyakit-penyakit sistem genito urinaria sederhana yang umum di masyarakat
4) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem respiratori sederhana yang umum di masyarakat
5) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem kardio vaskuler sederhana yang umum di masyarakat
6) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem persarafan sederhana yang umum di masyarakat
7) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem reproduksi sederhana yang umum di masyarakat.
j. Memahami peningkatan kesehatan dan pelayanan kesehatan utama
1) Menjelaskan tindakan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
2) Menjelaskan tindakan pelayanan kesehatan utama
3) Menjelaskan peran asisten perawat dalam pemberian perawatan utama.
k. Memahami pemberian obat
1) Menjelaskan nomenklatur dan bentuk obat oral
2) Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kerja obat
3) Menjelaskan kemampuan memberikan obat oral.
l. Memahami kemampuan interpersonal dan massa
1) Menjelaskan berbagai tingkatan komunikasi
2) Menjelaskan proses komunikasi
3) Menjelaskan bentuk-bentuk komunikasi
4) Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi
5) Mendiskusikan komunikasi terapeutik
6) Menjelaskan bantuan dalam berkomunikasi.
m. Prinsip-prinsip perkembangan manusia
1) Menjelaskan teori pertumbuhan dan perkembangan manusia
2) Menjelaskan tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia
3) Menjelaskan tentang konsepsi
4) Menjelaskan proses kelahiran.
n. Memahami tahap-tahap perkemangan manusia
1) Menjelaskan perkembangan masa bayi
2) Menjelaskan perkembangan masa balita
3) Menjelaskan perkembangan anak masa usia sekolah
4) Menjelaskan perkembangan masa remaja
5) Menjelaskan perkembangan masa
o. Dewasa muda
1) Menjelaskan perkembangan masa dewasa
2) Menjelaskan perkembangan masa lansia.
p. Memahami sikap pelayanan perawat sesuai dengan tahapan perkembangan
1) Menjelaskan sikap perawat terhadap klien/pasien sesuai dengantahapperkembangan
2) Menjelaskan pelayanan perawatan kesehatan komunitas dan panti.
q. Memahami tentang stres
1) Menjelaskan konsep stres
2) Menjelaskan adaptasi terhadap stres
3) Menjelaskan respon terhadap stres
4) Menjelaskan proses keperawatan dan adaptasi terhadap stres.
r. Memahami kebutuhan dasar manusia
1) Menjelaskan kebutuhan fisiologis manusia
2) Menjelaskan kebutuhan keselamatan dan rasa aman
3) Menjelaskan kebutuhan cinta dan rasa memiliki
4) Menjelaskan kebutuhan penghargaan dan harga diri
5) Menjelaskan kebutuhan aktualisasi diri.
s. Memahami tentang kesehatan reproduksi
1) Menjelaskan konsep kesehatan reproduksi
2) Menjelaskan anatomi dan fisiologi alat reproduksi
3) Menjelaskan masalah yang berhubungan dengan kesehatan
reproduksi.
t. Memahami perilaku empatik
1) Menjelaskan sikap empatik terhadap kehilangn, kematian, duka cita saat melakukan tindakan keperawatan
2) Menjelaskan bantuan yang diberikan sesuai dengan agama, dan kebutuhan
spiritual klien tersebut.
u. Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital
1) Menjelaskan pedoman untuk mengukur tanda vital
2) Menjelaskan tentang pengukuran suhu tubuh
3) melaksanakan pengukuran nafas
4) Melaksanakan pengukuran nadi.
v. Melakukan mobilisasi pasif terhadap klien/pasien
1) Menjelaskan tentang mobilisasi dan pengaturan gerak
2) Menjelaskan gangguan mobilisasi
3) Menjelaskan latihan mobilisasi
4) Menunjukan kemampuan melakukan mobilisasi pasif dan aktif
5) Menjelaskan gangguan mobilisasi.
w. Melakukan pemberian nutrisi
1) Menjelaskan nutrisi seimbang
2) Menunjukan kemampuan memberikan makan peroral pada pasien/klien.
x. Melaksanakan dokumentasi tindakan keperawatan
1) Menjelaskan komunikasi multidisiplin dalam tim
2) Membuat dokumentasi sesuai dengan pedoman.
y. Melaksanakan tugas sesuai dengan etika keperawatan, dan kaidah hukum
1) Menjelaskan pentingnya etika dan hukum keperawatan dalam
melaksanakan tugas
2) Melakukan perilaku kinerja asisten perawat sesuai dengan etika dan hokum keperawatan
2.9 Lingkup Pelayanan Home Care
Menurut Nuryandari (2004) menyebutkan ruang lingkup pelayanan home care adalah:
a. Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
b. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik
c. Pelayananrehabilitasi dan terapifisik
d. Pelayananinformasi dan rujukan
e. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhankesehatan
f. Higiene dan sanitasiperorangansertalingkungan
g. Pelayananperbaikanuntukkegiatansosial
Menurut Rice R (2001) jeniskasus yang dapatdilayani pada perawatankesehatan di rumahmeliputikasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumahsakit dan kasus-kasuskhusus yang di jumpai di komunitas.
Kasusumum yang merupakan pasca perawatan di rumahsakitadalah
1) Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis,
2) Klien dengan penyakit gagal jantung,
3) Klien dengan gangguan oksigenasi,
4) Klien dengan perlukaan kronis,
5) Klien dengan diabetes,
6) Klien dengan gangguan fungsi perkemihan,
7) Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi,
8) Klien dengan terapi cairan infus di rumah,
9) Klien dengan gangguan fungsi persyarafan,
10) Klien dengan HIV/AIDS.
Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi :
1) Klien dengan post partum,
2) Klien dengan gangguan kesehatan mental,
3) Klien dengan kondisi usia lanjut,
4) Klien dengan kondisi terminal.
2.10 Isu Dan Legal Aspek
Secara legal perawat dapat melakukan aktivitas keperawatan mandiri berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang di miliki. Perawat dapat mengevaluasi klien untuk mendapatkan pelayanan perawatan di rumah tanpa program medis tetapi perawatan tersebut harus diberikan di bawah petunjuk rencana tindakan tertulis yang ditandatangani oleh dokter. Perawat yang memberi pelayanan di rumah membuat rencana perawatan dan kemudian bekerja sama dengan dokter untuk menentukan rencana tindakan medis.
Isu legal yang paling kontroversial dalam praktik perawatan di rumah antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan prosedur dengan teknik yang tinggi, seperti pemberian pengobatan dan transfusi darah melalui IV di rumah.
b. Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada klien seperti pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarga karena kesalahan informasi dari perawat.
c. Pelaksanaan peraturan Medicare atau peraturan pemerintah lainnya tentang perawatan di rumah.
Karena biaya yang sangat terpisah dan terbatas untuk perawatan di rumah, maka perawat yang memberi perawatan di rumah harus menentukan apakah pelayanan akan diberikan jika ada resiko penggantian biaya yang tidak adekuat. Seringkali, tunjangan dari Medicare telah habis masa berlakunya sedangkan klien membutuhkan perawatan yang terus-menerus tetapi tidak ingin atau tidak mampu membayar biayanya. Beberapa perawat akan menghadapi dilema etis bila mereka harus memilih antara menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan untuk klien lansia, miskin dan klien yang menderita penyakit kronik. Perawat harus mengetahui kebijakan tentang perawatan di rumah untuk melengkapi dokumentasi klinis yang akan memberikan penggantian biaya yang optimal untuk klien.
Pasal Krusial Dalam Kepmenkes 1239/2001 Tentang Praktik Keperawatan
1) Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.
2) Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter
3) Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban :
a. Menghormati hak pasien
b. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
c. Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
d. Memberikan informasi
e. Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
f. Melakukan catatan perawatan dengan baik
4) Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang , perawat berwenang melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
5) Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan SIPP di ruang praktiknya
6) Perawat yang menjalankan praktik perorangan tidak diperbolehkan memasang papan praktik (sedang dalam proses amandemen)
7) Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah
8) Persyaratan praktik perorangan sekurang-kurangnya memenuhi :
a. Tempat praktik memenuhi syarat
b. Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi termasuk formulir /buku kunjungan, catatan tindakan dan formulir rujukan.
2.11 Lingkup Praktik Keperawatan Di Rumah
Lingkup praktik keperawatan mandiri meliputi asuhan keperawatan perinatal, asuhan keperawatan neonantal, asuhan keperawatan anak, asuhan keperawatan dewasa, dan asuhan keperawatan maternitas, asuhan keperawatan jiwa dilaksanakan sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawabnya. Keperawatan yang dapat dilakukan dengan :
a. Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi pengkajian bio- psiko- sosio- spiritual dengan pemeriksaan fisik secara langsung, melakukan observasi, dan wawancara langsung, menentukan masalah keperawatan, membuat perencanaan, dan melaksanakan tindakan keperawatan yang memerlukan ketrampilan tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang menyimpang, baik tindakan-tindakan keperawatan atau tindakan-tindakan pelimpahan wewenang (terapi medis), memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan dan melakukan evaluasi.
b. Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang di berikan kepada klien, dokumentasi ini diperlukan sebagai pertanggung jawaban dan tanggung gugat untuk perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa pelayanan kepertawatan yang diberikan.
c. Melakukan koordinasi dengan tim yang lain kalau praktik dilakukan secara berkelompok.
d. Sebagai pembela/pendukung (advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan klien dirumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut kerumah sakit dan memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan standart dan pembiayaan terhadap klien sesuai dengan pelayanan /asuhan yang diterima oleh klien.
e. Menentukan frekwensi dan lamanya keperawatan kesehatan di rumah dilakukan, mencangkup berapa sering dan berapa lama kunjungan harus di lakukan.
2.12 Mekanisme Pelayanan Home Care
Pasien/ klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun puskesmas, namun pasien/ klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktek keperawatan per orangan untuk memperoleh pelayanan. Mekanisme yang harus di lakukan adalah sebagai berikut:
a. Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu oleh dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat di rumah atau tidak.
b. Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah, maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah, kemudian bersama-sama klien dan keluarga, akan menentukan masalahnya, dan membuat perencanaan, membuat keputusan, membuat kesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien, kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem pembayaran, serta jangka waktu pelayanan.
c. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan keperawatan dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan dirumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harus diketahui oleh koordinator kasus.
d. Secara periodic koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan.
2.12.1 Persyaratan pasien / klien yang menerima pelayanan perawatan dirumah
a. Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggungjawab atau menjadi pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola
b. Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi (Informed consent)
c. Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan dirumah untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan haknya dalam menerima pelayanan.
2.12.2 Berikut tahapan mekanisme pelayanan Home Care :
a. Proses penerimaan kasus
1) Home care menerima pasien dari rumah sakit, puskesmas, sarana lain, keluarga
2) Pimpinan home care menunjuk menejer kasus untuk mengelola kasus
3) Manajer kasus membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan kasus
b. Proses pelayanan home care
1) Persiapan
a. Pastikan identitas pasien
b. Bawa denah/ petunjuk tempat tinggal pasien
c. Lengkap kartu identitas unit tempat kerja
d. Pastikan perlengkapan pasien untuk di rumah
e. Siapkan file asuhan keperawatan
f. Siapkan alat bantu media untuk pendidikan
2) Pelaksanaan
a. Perkenalkan diri dan jelaskan tujuan.
b. Observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat
c. Lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien
d. Membuat rencana pelayanan
e. Lakukan perawatan langsung
f. Diskusikan kebutuhan rujukan, kolaborasi, konsultasi dll
g. Diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan dilakukan
h. Dokumentasikan kegiatan
3) Monitoring dan evaluasi
a. Keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal
b. Kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan
c. Efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tindakan oleh pelaksanan
4) Proses penghentian pelayanan home care, dengan kreteria :
a. Tercapai sesuai tujuan
b. Kondisi pasien stabil
c. Program rehabilitasi tercapai secara maximal
d. Keluarga sudah mampu melakukan perawatan pasien
e. Pasien di rujuk
f. Pasien menolak pelayanan lanjutan
g. Pasien meninggal dunia
2.13 Hak-hak klien dalam pelayanan Home Care
Klien mempunyai hak untuk diberi informasi secara tertulis sebelum pengobatan diberikan. Klien dan petugas mempunyai hak dan kewajiban untuk saling menghargai dan menghormati. Petugas dilarang menerima pemberian pribadi maupun meminjam sesuatu dari klien.
Klien mempunyai hak untuk :
1) Membina hubungan dengan petugas sesuai dengan standar etik
2) Memperoleh informasi tentang prosedur-prosedur yang harus diikuti
3) Mengekspresikan kesedihan dan ketakutannya
4) Klien mempunyai hak dalam pengambilan keputusan, dalam hal ini klien mempunyai hak untuk diberi tahu secara tertulis tentang pengaturan, jenis pelayanan kesehatan yang diberikan, dan jumlah kunjungan rumah yang akan dilakukan
5) Klien mempunyai hak untuk memperoleh nasehat-nasehat tentang rencana-rencana perubahan yang akan dilakukan
6) Mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam perencanaan pelayanan keperawatan, perencanaan perubahan pelayanan serta nasehat-nasehat lainnya
7) Klien mempunyai hak untuk menolak rencana perubahan tersebut
8) Dalam hal “privacy”, klien mempunyai hak untuk dijaga kerahasiaan kondisikesehatannya, hal-hal yang berhubungan dengan sosial ekonomi, serta hal-hal yang dilakukan di rumahnya
9) Perawat atau petugas hanya akan memberikan informasi bila diperlukan secara hukum atau bila diperlukan oleh klien atau keluarganya
10) Dalam hal finansial, klien mempunyai hak untuk diberi informasi tentang biaya yang harus dikeluarkan, memberikan informasi pembiayaan dengan jelas.
11) Klien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dengan kualitas yang tinggi, serta berhak mendapat informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan keadaan emergensi/ darurat.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa, home care merupakan bagian integral dari pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu individu, keluarga dan masyarakat mencapai kemandirian dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang mereka hadapi.
Perawatan di rumah selain dapat mengurangi kecemasan juga dapat menghemat biaya dari beberapa segi misal biaya kamar, biaya transpor dan biaya lain-lain yang terkait dengan penjaga yang sakit.Tetapi perlu diingat bahwa pasien yang dapat layananhome care adalah pasien yang secara medis dinyatakan aman untuk dirawat di rumah dengan kondisi rumah yang memadai.
3.2 Saran
a. Bagi perawat
Perawat yang menjalankan perawatan home care hendaknya sudah memiliki SIP, harus kompeten dalam bidangnya, bertanggung jawab terhadap tugasnya.
b. Bagi pasien dan keluarga
Hendaknya pasien dan keluarga dapat bersifat terbuka terhadap perawat home care, manicotti anjuran dari perawa, membantu dalam proses tindakan keperawatan, dan dapat bersifat kooperatif dalam menerima informasi dari perawat.
DAFTAR PUSTAKA
www.homecare.com/en.wikipedia.org/wiki/Home_care
http://www.tugastikes.com/pasien-keperawatan-home-care.html
http://alulumaulana.blogspot.com/
http://kuliahiskandar.blogspot.com/2012/05/home-care.html
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Visi Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah memandirikan masyarakat untuk hidup sehat dengan misi membuat rakyat sehat. Guna mewujudkan visi dan misi tersebut berbagai program kesehatan telah dikembangkan termasuk pelayanan kesehatan di rumah.
Pelayanan keperawatan yang berkualitas mempunyai arti bahwa pelayanan yang diberikan kepada individu, keluarga ataupun masyarakat haruslah baik (bersifat etis) dan benar (berdasarkan ilmu dan hukum yang berlaku). Hukum yang mengatur praktik keperawatan telah tersedia dengan lengkap, baik dalam bentuk undang-undang kesehatan, maupun surat keputusan Menkes tentang praktik keperawatan. Dengan demikian melakukan praktik keperawatan bagi perawat di Indonesia adalah merupakan hak sekaligus kewajiban profesi untuk mencapai visi Indonesia sehat tahun 2010.
Implementasi praktik keperawatan yang dilakukan oleh perawat sebenarnya tidak harus dilakukan di rumah sakit, klinik, ataupun di gedung puskesmas tetapi dapat juga dilaksanakan dimasyarakat maupun dirumah pasien. Pelayanan keperawatan yang dilkukan dirumah pasien disebut Home Care.
Pelayanan kesehatan di rumah merupakan program yang sudah ada dan perlu dikembangkan, karena telah menjadi kebutuhan masyarakat, Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dan memasyarakat serta menyentuh kebutuhan masyarakat yakni melalui pelayanan keperawatan Kesehatan di rumah atau Home Care. Berbagai faktor yang mendorong perkembangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yaitu melalui pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.
Berbagai faktor yang mendorong perkembangan pelayanan keperawatan kesehatan dirumah atara lain : Kebutuhan masyarakat, perkembangan IPTEK bidang kesehatan, tersedianya SDM kesehatan yang mampu memberi pelayanan kesehatan di rumah
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai konsep home care yang meliputi :
1. Menjelaskan pengertian Home Care
2. Menjelaskan konsep/model teori keperawatan yang mendukung Home Care
3. Menjelaskantujuandari Home Care
4. Menyebutkan landasan hukum Home Care
5. Menjelaskan skill dasar yang harus dikuasai perawat
6. Menjelaskan lingkup pelayanan Home Care
7. Menjelaskan isu dan legal aspek Home Care
8. Menjelaskan lingkup praktik keperawatan di rumah
9. Menjelaskan mekanisme pelayanan Home Care
10. Menjelaskanhak-hakklienperawatan di rumah
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. UntukmemahamiPengertian Home Care
2. UntukmemahamiKonsep/Model Teori Keperawatan Yang Mendukung Home Care
3. UntukmemahamiTujuandari Home Care
4. UntukmemahamiLandasan Hukum Home Care
5. UntukmemahamiSkill Dasar Yang Harus Dikuasai Perawat
6. UntukmemahamiLingkup Pelayanan Home Care
7. UntukmemahamiIsu Dan Legal Aspek
8. UntukmemahamiLingkup Praktik Keperawatan Di Rumah
9. UntukmemahamiMekanisme Pelayanan Home Care
10. UntukmemahamiHak-hakklienperawatan di rumah
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah
1) 1988 -1992 → terjadi peningkatan perawat yang bekerja sebagai “Home Health Nursing”
2) 1859 → William Rathone (Liverpool, Inggris) → mmulai sekolah yang mendidik perawat yang dapat melakukan kunjungan rumah untuk membantu orang miskin yang sakit di rumahnya.
3) 1800-an akhir → VNA’S (Visiting Nurse Associations) brdiri di USA yang didirikan oleh Philantropist (Dermawan).
4) 1947→ Montefior Hospital membuat program home care, mengacu kepada perawatan akut, post perawatan RS.
5) 1965 → Home Health Care berubah dari Socil Security Act (yan dilakukan oleh VNA’S) menjadi → Medicare Legislation yang fokusnya untuk perawatan lansia.
2.2Pengertian Home Care
Menurut Departemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit.
Pelayanan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien atau keluarga yang direncanakan dan dikoordinasi oleh pemberi pelayanan melalui staf yang diatur berdasarkan perjanjian bersama. Sedangkan menurut Neis dan Mc Ewen (2001) menyatakan home health care adalah sistem dimana pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial diberikan di rumah kepada orang-orang yang cacat atau orang-orang yang harus tinggal di rumah karena kondisi kesehatannya.
Home Care (HC) menurut Habbs dan Perrin, 1985 adalah merupakan layanan kesehatan yang dilakukan di rumah pasien (Lerman D. & Eric B.L, 1993), Sehingga home care dalam keperawatan merupakan layanan keperawatan di rumah pasien yang telah melalui sejarah yang panjang.
Di beberapa negara maju,” home care “ (perawatan di rumah ), bukan merupakan konsep yang baru, tapi telah dikembangkan oleh William Rathbon sejak tahun 1859 yang dia namakan perawatan di rumah dalam bentuk kunjungan tenaga keperawatan ke rumah untuk mengobati klien yang sakit dan tidak bersedia dirawat di rumah sakit.
Dari beberapa literatur pengertian “home care” adalah:
a. Perawatan dirumah merupakan lanjutan asuhan keperawatan dari rumah sakit yang sudah termasuk dalam rencana pemulangan (discharge planning ) dan dapat dilaksanakan oleh perawat dari rumah sakit semula, oleh perawat komunitas di mana pasien berada, atau tim keperawatan khusus yang menangani perawatan di rumah.
b. Perawatan di rumah merupakan bagian dari asuhan keperawatan keluarga, sebagai tindak lanjut dari tindakan unit rawat jalan atau puskesmas.
c. Pelayanan kesehatan berbasis dirumah merupakan suatu komponen rentang keperawatan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka, yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit termasuk penyakit terminal.
Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga, direncanakan, dikoordinasikan dan disediakan oleh pemberi pelayanan yang diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau pengaturan berdasarkan perjanjian kerja (kontrak) (warola,1980 dalam Pengembangan Model Praktek Mandiri keperawatan dirumah yang disusun oleh PPNI dan Depkes).
2.3 Konsep / Model Teori Keperawatan Yang Mendukung Home Care
a. Teori Lingkungan (Florence Nightingale)
Lingkungan menurut Nightingale merujuk pada lingkungan fisik eksternal yang mempengaruhi proses penyembuhan dan kesehatan yang meliputi lima komponen lingkungan terpenting dalam mempertahankan kesehatan individu yang meliputi
1. udara bersih,
2. air yang bersih,
3. pemeliharaan yang efisien
4. kebersihan, serta
5. penerangan/pencahayaan
Nightingale lebih menekankan pada lingkungan fisik daripada lingkungan sosial dan psikologis yang dieksplor secara lebih terperinci dalam tulisannya. Penekanannya terhadap lingkungan sangat jelas melalui pernyataannnya bahwa jika ingin meramalkan masalah kesehatan, maka yang harus dilakukan adalah mengkaji keadaan rumah, kondisi dan cara hidup seseorang daripada mengkaji fisik/tubuhnya.
b. Teori konsep manusia sebagai unit (Martha E. Rogers)
Dalam memahami konsep model dan teori ini,Rogers berasumsi bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang utuh,yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda – beda. Dalam proses kehidupan manusia yang dinamis, manusia dalam proses kehidupan manusia setiap individu akan berbeda satu dengan yang lain dan manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri. Asumsi tersebut didasarkan pada kekuatan yang berkembang secara alamiah yaitu keutuhan manusia dan lingkungan,kemudian system ketersediaan sebagai satu kesatuan yang utuh serta proses kehidupan manusia berdasarkan konsep homeodinamik yang terdiri dari integritas,resonansi dan helicy. Integritas berarti individu sebagai satu kesatuan dengan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan, dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Resonansi mengandung arti bahwa proses kehidupan antara individu dengan lingkungan berlangsung dengan berirama dengan frekuensi yang bervariasi dan helicy merupakan proses terjadinya interaksi antara manusia dengan lingkungan akan terjadi perubahan baik perlahan – lahan maupun berlangsung dengan cepat. Menurut Rogers (1970), tujuan keperawatan adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, mencegah kesakitan, dan merawat serta merehabilitasi klien yang sakit dan tidak mampu dengan pendekatan humanistik keperawatan. Menurut Rogers, 1979 Kerangka Kerja Praktik: “Manusia utuh” meliputi proses sepanjang hidup. Klien secara terus menerus berubah dan menyelaraskan dengan lingkungannya.
c. Teori Transkultural nursing (Leininger)
Leininger percaya bahwa tujuan teori ini adalah untuk memberikan pelayanan yang berbasis pada kultur. Dia percaya bahwa perawat harus bekerja dengan prinsip ”care” dan pemahaman yang dalam mengenai ”care” sehingga culture‟s care, nilai-nilai, keyakinan, dan pola hidup memberikan landasan yang realiabel dan akurat untuk perencanaan dan implementasi yang efektif terhadap pelayanan pada kultur tertentu. Dia meyakini bahwa seorang perawat tidak dapat memisahkan cara pandangan dunia, struktur sosial dan keyakinan kultur (orang biasa dan profesional) terhadap kesehatan, kesejahteraan , sakit, atau pelayanan saat bekerja dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, karena faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama lain. Struktur sosial seperti kepercayaan, politik, ekonomi dan kekeluargaaan adalah kekuatan signifikan yang berdampak pada ”care” dan mempengaruhi kesejahteraan dan kondisi sakit.
d. Theory of Human Caring (Watson, 1979)
Teori ini mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh. Pandangan teori Jean Watson ini memahami bahwa manusia memiliki empat cabang kebutuhan manusia yang saling berhubungan diantaranya kebutuhan dasar biofisikial (kebutuhan untuk hidup) yang meliputi kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi dan kebutuhan ventilasi, kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan aktivitas dan istirahat, kebutuhan seksual, kebutuhan psikososial (kebutuhan untuk integrasi) yang meliputi kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan organisasi, dan kebutuhan intra dan interpersonal (kebutuhan untuk pengembangan) yaitu kebutuhan aktualisasi diri.
e. Teori Self Care (Dorothea Orem)
Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep praktik keperwatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori Self Care, di antaranya:
1) Perawatan Diri Sendiri (Self Care)
a) Self Care: merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksananakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi serta mempertahankan kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan.
b) Self Care Agency: merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oeh usia, perkembangan, sosiokultural, kesehatan dan lain-lain.
c) Theurapetic Self Care Demand: tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatan diri sendiri dengan menggunakan metode dan alat dalam tindakan yang tepat.
d) Self Care Requisites: kebutuhan self care merupakan suatu tindakan yang ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat universal dan berhubungan dengan proses kehidupan manusia serta dalam upaya mepertahankan fungsi tubuh. Self Care Reuisites terdiri dari beberapa jenis, yaitu: Universal Self Care Requisites (kebutuhan universal manusia yang merupakan kebutuhan dasar), Developmental Self Care Requisites (kebutuhan yang berhubungan perkembangan indvidu) dan Health Deviation Requisites (kebutuhan yang timbul sebagai hasil dari kondisi pasien).
2) Self Care Defisit
Self Care Defisit merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum di mana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat perawatan dibutuhkan. Keperawatan dibutuhkan seseorang pada saat tidak mampu atau terbatas untuk melakukan self carenya secara terus menerus. Self care defisit dapat diterapkan pada anak yang belum dewasa, atau kebutuhan yang melebihi kemampuan serta adanya perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan tuntutan dalam peningkatan self care, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam pemenuhan perawatan diri sendiri serta membantu dalam proses penyelesaian masalah, Orem memiliki metode untuk proses tersebut diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain, sebagai pembimbing orang lain, memberi support, meningkatkan pengembangan lingkungan untuk pengembangan pribadi serta mengajarkan atau mendidik pada orang lain.
f. Teori Dinamic dan Self Determination for Self Care (Rice)
Perawat sebagai fasilitator dan koordinator dari pilihan keseimbangan sehat sakit yang ditetapkan oleh pasien.(Aziz Alimul Hidayat, 2004)
2.4Tujuan Home Health Care
a. Meningkatkan pport system yg adekuat dan efektif shg dpt mendorang penggunaan sumber-sumber yg b.d kesehatan keluarga
b. Meningkatkan perawatan yg efektif dan adekuat khususnya untuk anggota keluarga dengan ketidakmampuan (cacat) atau dengan masalah-masalah khusus (mis: penyakit kronis)
c. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan normal keluarga dan anggota-anggotanya serta melakukan promosi dan prevensi kesehatan.
d. Memperkuat fungsi-fungsi keluarga dan hubungannya satu sama lainnya.
e. Meningkatkan kesehatan keluarga.
2.5 Masalah / problem yang muncul pada Home Health Care
a. Gaya hidup dan sumber-sumber kehidupan
b. Status kesehatan saat inidan penyimpangannya
c. Pola dan pengetahuan keluarga dalam mempertahankan kesehatannya.
d. Struktur keluarga dan dinamisasinya.
2.6 Keuntungan dan Kerugian Home Health Care
Keuntungan:
1) Setting rumah dapat lebih memberikan kenyamanan klien dalam menjalani perawatan secara individul.
2) Banyak klien yang lebih suka dirawat di rumah.
3) Pengkajian mengenai faktor-faktor lingkungan yang menunjang kese-hatan dapat lebih lengkap karena dapat diobservasi secara langsung sehingga dapat langsung dipertim-bangkan mengenai pelayanan apa yang cocok untuk klien secara financial, dll.
4) Pengkajian mengenai pola hidup dan norma-norma keluarga lebih mudah dilakukan.
5) Partisipasi anggota keluarga dapat terfasilitasi dengan baik.
6) Anggota keluarga mungkin akan lebih bersemangat untuk menerima dan mempelajari hal-hal yang dapat meningkatkan atau menunjang kesehatannya karena aplikatif dan sesuai dengan kondisi di rumah.
7) Dapat memperpendek masa rawat di rumah sakit sehingga biaya perawatan dapat menurun.
8) Menurunkan nosocomial infection.
Kerugian:
1) Biaya perjalanan perawat atau pemberi pelayanan kesehatan di rumah mahal.
2) Kurang efisien dari praktek keperawa-tan bersama atau kunjungan klien ke ruang rawat.
3) Distraksi misalnya : anak-nak dan suara TV sulit untuk dihindari.
4) Keamanan perawat dalam melakukan asuhan keperawatan tidak begitu terjaga.
2.7Landasan Hukum Home Care
Fungsi Hukum dalam Praktik Perawat :
a. Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai dengan hukum
b. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
c. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri
d. Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
Landasan Hukum :
a. UU Kes.No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
b. PP No. 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah.
c. UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
d. UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
e. Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang regestrasi dan praktik perawat
f. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas
g. Kepmenkes No. 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan Perkesmas.
h. SK Menpan No. 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan fungsonal perawat.
i. PP No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
j. Permenkes No. 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta
2.8 Skill Dasar Yang Harus Dikuasai Perawat
Home Care SK Dirjen Dirjen YAN MED NO HK. 00.06.5.1.311 menyebutkan ada 23 tindakan keperawatan mandiri yang bisa dilakukan oleh perawat home care antara lain :
1) vital sign
2) memasang nasogastric tube
3) memasang selang susu besar
4) memasang cateter
5) penggantian tube pernafasan
6) merawat luka dekubitus
7) Suction
8) memasang peralatan O2
9) penyuntikan (IV,IM, IC,SC)
10) Pemasangan infus maupun obat
11) Pengambilan preparat
12) Pemberian huknah/laksatif
13) Kebersihan diri
14) Latihan dalam rangka rehabilitasi medis
15) Tranpostasi klien untuk pelaksanaan pemeriksaan diagnostik
16) Penkes
17) Konseling kasus terminal
18) Konsultasi/telepon
19) Fasilitasi ke dokter rujukan
20) Menyiapkan menu makanan
21) Membersihkan Tempat tidur pasien
22) Fasilitasi kegiatan sosial pasien
23) Fasilitasi perbaikan sarana klien.
2.8.1 Kompetensi Dasar
a. Memahami dasar-dasar anatomi, fisiologi, patologi tubuh secara umum.
1) Menjelaskan anatomi, fisiologi, patologi sebagai sistem tubuh secara umum
2) Menjelaskan konsep dasar homeostasis, dan patogenesis.
b. Melaksanakan pemberian obat kepada klien/pasien
1) Menjelaskan cara-cara pemberianobatkepadapasien
2) Melakukan pemberian obat kepada pasien sesuai resep dokter.
c. Memahami jenis pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan oleh klien/pasien
1) Menjelaskan jenis pemeriksaan laboratorium dasar yang diperlukan olehklien/pasien
2) Menjelaskan persiapan klien/pasien yang akan diperiksa di laboratorium
3) Mengantarkan klien/pasien untuk periksa di laboratorium.
d. Menunjukan kemampuan melakukan komunikasi terapeutik
1) Menjelaskan definisi komunikasi terapeutik
2) Menjelaskan fungsi, dan manfaat komunikasi terapeutik
3) Melaksanakan setiap tindakan keperawatan menggunakan komunikasi terapeutik.
e. Menunjukan kemampuan mengasuh bayi, balita, anak, dan lansia sesuai tingkat perkembangan
1) Membangun hubungan antar manusia
2) Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
3) Mengidentifikasi kebutuhan dasar manusia
4) Merencanakan kebutuhan dasar manusia
f. Menunjukan kemampuan melayani klien/pasien berpenyakit ringan
1) Membangun hubungan antar manusia
2) Mengoptimalkan komunikasi terapeutik
3) Mengidentifikasi kebutuhan dasar klien/pasien
4) Merencanakan kebutuhan dasar klien/pasien
5) Melaksanakan kebutuhan dasar klien/ pasien
6) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan kebutuhan pasien/klien yangpenyakitringan.
g. Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
1) Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
2) Melaksanakan prosedur K3
3) Menerapkan konsep lingkungan hidup
4) Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan
h. Memahami kontinum sehat- sakit
1) Menjelaskan keseimbangan tubuh manusia normal
2) Menjelaskan definisi sehat-sakit
3) Menjelaskan model-model sehat dan sakit
4) Menjelaskan nilai-nilai yang mempengaruhi kesehatan
5) Menjelaskan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
6) Menjelaskan faktor-faktor resiko dalam kehidupan manusia
7) Menjelaskan dampak sakit pada klien/pasien dan keluarga.
i. Memahami dasar-dasar penyakit sederhana yang umum di masyarakat
1) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem integumen sederhana yang umum dimasyarakat
2) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem gastro intestinal sederhana yang umum di masyarakat
3) Menjelaskan penyakit-penyakit sistem genito urinaria sederhana yang umum di masyarakat
4) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem respiratori sederhana yang umum di masyarakat
5) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem kardio vaskuler sederhana yang umum di masyarakat
6) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem persarafan sederhana yang umum di masyarakat
7) Menjelaskan penyakit–penyakit sistem reproduksi sederhana yang umum di masyarakat.
j. Memahami peningkatan kesehatan dan pelayanan kesehatan utama
1) Menjelaskan tindakan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
2) Menjelaskan tindakan pelayanan kesehatan utama
3) Menjelaskan peran asisten perawat dalam pemberian perawatan utama.
k. Memahami pemberian obat
1) Menjelaskan nomenklatur dan bentuk obat oral
2) Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kerja obat
3) Menjelaskan kemampuan memberikan obat oral.
l. Memahami kemampuan interpersonal dan massa
1) Menjelaskan berbagai tingkatan komunikasi
2) Menjelaskan proses komunikasi
3) Menjelaskan bentuk-bentuk komunikasi
4) Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi
5) Mendiskusikan komunikasi terapeutik
6) Menjelaskan bantuan dalam berkomunikasi.
m. Prinsip-prinsip perkembangan manusia
1) Menjelaskan teori pertumbuhan dan perkembangan manusia
2) Menjelaskan tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia
3) Menjelaskan tentang konsepsi
4) Menjelaskan proses kelahiran.
n. Memahami tahap-tahap perkemangan manusia
1) Menjelaskan perkembangan masa bayi
2) Menjelaskan perkembangan masa balita
3) Menjelaskan perkembangan anak masa usia sekolah
4) Menjelaskan perkembangan masa remaja
5) Menjelaskan perkembangan masa
o. Dewasa muda
1) Menjelaskan perkembangan masa dewasa
2) Menjelaskan perkembangan masa lansia.
p. Memahami sikap pelayanan perawat sesuai dengan tahapan perkembangan
1) Menjelaskan sikap perawat terhadap klien/pasien sesuai dengantahapperkembangan
2) Menjelaskan pelayanan perawatan kesehatan komunitas dan panti.
q. Memahami tentang stres
1) Menjelaskan konsep stres
2) Menjelaskan adaptasi terhadap stres
3) Menjelaskan respon terhadap stres
4) Menjelaskan proses keperawatan dan adaptasi terhadap stres.
r. Memahami kebutuhan dasar manusia
1) Menjelaskan kebutuhan fisiologis manusia
2) Menjelaskan kebutuhan keselamatan dan rasa aman
3) Menjelaskan kebutuhan cinta dan rasa memiliki
4) Menjelaskan kebutuhan penghargaan dan harga diri
5) Menjelaskan kebutuhan aktualisasi diri.
s. Memahami tentang kesehatan reproduksi
1) Menjelaskan konsep kesehatan reproduksi
2) Menjelaskan anatomi dan fisiologi alat reproduksi
3) Menjelaskan masalah yang berhubungan dengan kesehatan
reproduksi.
t. Memahami perilaku empatik
1) Menjelaskan sikap empatik terhadap kehilangn, kematian, duka cita saat melakukan tindakan keperawatan
2) Menjelaskan bantuan yang diberikan sesuai dengan agama, dan kebutuhan
spiritual klien tersebut.
u. Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital
1) Menjelaskan pedoman untuk mengukur tanda vital
2) Menjelaskan tentang pengukuran suhu tubuh
3) melaksanakan pengukuran nafas
4) Melaksanakan pengukuran nadi.
v. Melakukan mobilisasi pasif terhadap klien/pasien
1) Menjelaskan tentang mobilisasi dan pengaturan gerak
2) Menjelaskan gangguan mobilisasi
3) Menjelaskan latihan mobilisasi
4) Menunjukan kemampuan melakukan mobilisasi pasif dan aktif
5) Menjelaskan gangguan mobilisasi.
w. Melakukan pemberian nutrisi
1) Menjelaskan nutrisi seimbang
2) Menunjukan kemampuan memberikan makan peroral pada pasien/klien.
x. Melaksanakan dokumentasi tindakan keperawatan
1) Menjelaskan komunikasi multidisiplin dalam tim
2) Membuat dokumentasi sesuai dengan pedoman.
y. Melaksanakan tugas sesuai dengan etika keperawatan, dan kaidah hukum
1) Menjelaskan pentingnya etika dan hukum keperawatan dalam
melaksanakan tugas
2) Melakukan perilaku kinerja asisten perawat sesuai dengan etika dan hokum keperawatan
2.9 Lingkup Pelayanan Home Care
Menurut Nuryandari (2004) menyebutkan ruang lingkup pelayanan home care adalah:
a. Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
b. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik
c. Pelayananrehabilitasi dan terapifisik
d. Pelayananinformasi dan rujukan
e. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhankesehatan
f. Higiene dan sanitasiperorangansertalingkungan
g. Pelayananperbaikanuntukkegiatansosial
Menurut Rice R (2001) jeniskasus yang dapatdilayani pada perawatankesehatan di rumahmeliputikasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumahsakit dan kasus-kasuskhusus yang di jumpai di komunitas.
Kasusumum yang merupakan pasca perawatan di rumahsakitadalah
1) Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis,
2) Klien dengan penyakit gagal jantung,
3) Klien dengan gangguan oksigenasi,
4) Klien dengan perlukaan kronis,
5) Klien dengan diabetes,
6) Klien dengan gangguan fungsi perkemihan,
7) Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi,
8) Klien dengan terapi cairan infus di rumah,
9) Klien dengan gangguan fungsi persyarafan,
10) Klien dengan HIV/AIDS.
Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi :
1) Klien dengan post partum,
2) Klien dengan gangguan kesehatan mental,
3) Klien dengan kondisi usia lanjut,
4) Klien dengan kondisi terminal.
2.10 Isu Dan Legal Aspek
Secara legal perawat dapat melakukan aktivitas keperawatan mandiri berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang di miliki. Perawat dapat mengevaluasi klien untuk mendapatkan pelayanan perawatan di rumah tanpa program medis tetapi perawatan tersebut harus diberikan di bawah petunjuk rencana tindakan tertulis yang ditandatangani oleh dokter. Perawat yang memberi pelayanan di rumah membuat rencana perawatan dan kemudian bekerja sama dengan dokter untuk menentukan rencana tindakan medis.
Isu legal yang paling kontroversial dalam praktik perawatan di rumah antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan prosedur dengan teknik yang tinggi, seperti pemberian pengobatan dan transfusi darah melalui IV di rumah.
b. Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada klien seperti pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarga karena kesalahan informasi dari perawat.
c. Pelaksanaan peraturan Medicare atau peraturan pemerintah lainnya tentang perawatan di rumah.
Karena biaya yang sangat terpisah dan terbatas untuk perawatan di rumah, maka perawat yang memberi perawatan di rumah harus menentukan apakah pelayanan akan diberikan jika ada resiko penggantian biaya yang tidak adekuat. Seringkali, tunjangan dari Medicare telah habis masa berlakunya sedangkan klien membutuhkan perawatan yang terus-menerus tetapi tidak ingin atau tidak mampu membayar biayanya. Beberapa perawat akan menghadapi dilema etis bila mereka harus memilih antara menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan untuk klien lansia, miskin dan klien yang menderita penyakit kronik. Perawat harus mengetahui kebijakan tentang perawatan di rumah untuk melengkapi dokumentasi klinis yang akan memberikan penggantian biaya yang optimal untuk klien.
Pasal Krusial Dalam Kepmenkes 1239/2001 Tentang Praktik Keperawatan
1) Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.
2) Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter
3) Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban :
a. Menghormati hak pasien
b. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
c. Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
d. Memberikan informasi
e. Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
f. Melakukan catatan perawatan dengan baik
4) Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang , perawat berwenang melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
5) Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan SIPP di ruang praktiknya
6) Perawat yang menjalankan praktik perorangan tidak diperbolehkan memasang papan praktik (sedang dalam proses amandemen)
7) Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah
8) Persyaratan praktik perorangan sekurang-kurangnya memenuhi :
a. Tempat praktik memenuhi syarat
b. Memiliki perlengkapan peralatan dan administrasi termasuk formulir /buku kunjungan, catatan tindakan dan formulir rujukan.
2.11 Lingkup Praktik Keperawatan Di Rumah
Lingkup praktik keperawatan mandiri meliputi asuhan keperawatan perinatal, asuhan keperawatan neonantal, asuhan keperawatan anak, asuhan keperawatan dewasa, dan asuhan keperawatan maternitas, asuhan keperawatan jiwa dilaksanakan sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawabnya. Keperawatan yang dapat dilakukan dengan :
a. Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi pengkajian bio- psiko- sosio- spiritual dengan pemeriksaan fisik secara langsung, melakukan observasi, dan wawancara langsung, menentukan masalah keperawatan, membuat perencanaan, dan melaksanakan tindakan keperawatan yang memerlukan ketrampilan tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang menyimpang, baik tindakan-tindakan keperawatan atau tindakan-tindakan pelimpahan wewenang (terapi medis), memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan dan melakukan evaluasi.
b. Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang di berikan kepada klien, dokumentasi ini diperlukan sebagai pertanggung jawaban dan tanggung gugat untuk perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa pelayanan kepertawatan yang diberikan.
c. Melakukan koordinasi dengan tim yang lain kalau praktik dilakukan secara berkelompok.
d. Sebagai pembela/pendukung (advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan klien dirumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut kerumah sakit dan memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan standart dan pembiayaan terhadap klien sesuai dengan pelayanan /asuhan yang diterima oleh klien.
e. Menentukan frekwensi dan lamanya keperawatan kesehatan di rumah dilakukan, mencangkup berapa sering dan berapa lama kunjungan harus di lakukan.
2.12 Mekanisme Pelayanan Home Care
Pasien/ klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun puskesmas, namun pasien/ klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktek keperawatan per orangan untuk memperoleh pelayanan. Mekanisme yang harus di lakukan adalah sebagai berikut:
a. Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu oleh dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat di rumah atau tidak.
b. Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah, maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah, kemudian bersama-sama klien dan keluarga, akan menentukan masalahnya, dan membuat perencanaan, membuat keputusan, membuat kesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien, kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem pembayaran, serta jangka waktu pelayanan.
c. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan keperawatan dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan dirumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harus diketahui oleh koordinator kasus.
d. Secara periodic koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan.
2.12.1 Persyaratan pasien / klien yang menerima pelayanan perawatan dirumah
a. Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggungjawab atau menjadi pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola
b. Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi (Informed consent)
c. Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan dirumah untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan haknya dalam menerima pelayanan.
2.12.2 Berikut tahapan mekanisme pelayanan Home Care :
a. Proses penerimaan kasus
1) Home care menerima pasien dari rumah sakit, puskesmas, sarana lain, keluarga
2) Pimpinan home care menunjuk menejer kasus untuk mengelola kasus
3) Manajer kasus membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan kasus
b. Proses pelayanan home care
1) Persiapan
a. Pastikan identitas pasien
b. Bawa denah/ petunjuk tempat tinggal pasien
c. Lengkap kartu identitas unit tempat kerja
d. Pastikan perlengkapan pasien untuk di rumah
e. Siapkan file asuhan keperawatan
f. Siapkan alat bantu media untuk pendidikan
2) Pelaksanaan
a. Perkenalkan diri dan jelaskan tujuan.
b. Observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat
c. Lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien
d. Membuat rencana pelayanan
e. Lakukan perawatan langsung
f. Diskusikan kebutuhan rujukan, kolaborasi, konsultasi dll
g. Diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan dilakukan
h. Dokumentasikan kegiatan
3) Monitoring dan evaluasi
a. Keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal
b. Kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan
c. Efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tindakan oleh pelaksanan
4) Proses penghentian pelayanan home care, dengan kreteria :
a. Tercapai sesuai tujuan
b. Kondisi pasien stabil
c. Program rehabilitasi tercapai secara maximal
d. Keluarga sudah mampu melakukan perawatan pasien
e. Pasien di rujuk
f. Pasien menolak pelayanan lanjutan
g. Pasien meninggal dunia
2.13 Hak-hak klien dalam pelayanan Home Care
Klien mempunyai hak untuk diberi informasi secara tertulis sebelum pengobatan diberikan. Klien dan petugas mempunyai hak dan kewajiban untuk saling menghargai dan menghormati. Petugas dilarang menerima pemberian pribadi maupun meminjam sesuatu dari klien.
Klien mempunyai hak untuk :
1) Membina hubungan dengan petugas sesuai dengan standar etik
2) Memperoleh informasi tentang prosedur-prosedur yang harus diikuti
3) Mengekspresikan kesedihan dan ketakutannya
4) Klien mempunyai hak dalam pengambilan keputusan, dalam hal ini klien mempunyai hak untuk diberi tahu secara tertulis tentang pengaturan, jenis pelayanan kesehatan yang diberikan, dan jumlah kunjungan rumah yang akan dilakukan
5) Klien mempunyai hak untuk memperoleh nasehat-nasehat tentang rencana-rencana perubahan yang akan dilakukan
6) Mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam perencanaan pelayanan keperawatan, perencanaan perubahan pelayanan serta nasehat-nasehat lainnya
7) Klien mempunyai hak untuk menolak rencana perubahan tersebut
8) Dalam hal “privacy”, klien mempunyai hak untuk dijaga kerahasiaan kondisikesehatannya, hal-hal yang berhubungan dengan sosial ekonomi, serta hal-hal yang dilakukan di rumahnya
9) Perawat atau petugas hanya akan memberikan informasi bila diperlukan secara hukum atau bila diperlukan oleh klien atau keluarganya
10) Dalam hal finansial, klien mempunyai hak untuk diberi informasi tentang biaya yang harus dikeluarkan, memberikan informasi pembiayaan dengan jelas.
11) Klien mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dengan kualitas yang tinggi, serta berhak mendapat informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan keadaan emergensi/ darurat.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa, home care merupakan bagian integral dari pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu individu, keluarga dan masyarakat mencapai kemandirian dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang mereka hadapi.
Perawatan di rumah selain dapat mengurangi kecemasan juga dapat menghemat biaya dari beberapa segi misal biaya kamar, biaya transpor dan biaya lain-lain yang terkait dengan penjaga yang sakit.Tetapi perlu diingat bahwa pasien yang dapat layananhome care adalah pasien yang secara medis dinyatakan aman untuk dirawat di rumah dengan kondisi rumah yang memadai.
3.2 Saran
a. Bagi perawat
Perawat yang menjalankan perawatan home care hendaknya sudah memiliki SIP, harus kompeten dalam bidangnya, bertanggung jawab terhadap tugasnya.
b. Bagi pasien dan keluarga
Hendaknya pasien dan keluarga dapat bersifat terbuka terhadap perawat home care, manicotti anjuran dari perawa, membantu dalam proses tindakan keperawatan, dan dapat bersifat kooperatif dalam menerima informasi dari perawat.
DAFTAR PUSTAKA
www.homecare.com/en.wikipedia.org/wiki/Home_care
http://www.tugastikes.com/pasien-keperawatan-home-care.html
http://alulumaulana.blogspot.com/
http://kuliahiskandar.blogspot.com/2012/05/home-care.html
Langganan:
Postingan (Atom)